BantenBeritaKesehatan

Stunting di Kabupaten Tangerang Turun, Tapi Tersisa 3.800 Kasus

×

Stunting di Kabupaten Tangerang Turun, Tapi Tersisa 3.800 Kasus

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi (Foto : Istimewa)

KABUPATEN TANGERANG | BD – Selama tahun 2023, angka stunting di Kabupaten Tangerang menurun dari 9.000 kasus tersisa 3.800 kasus.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi mengatakan, pada tahun 2023, angka stunting di wilayah itu turun menjadi 5.200 kasus dengan persentase sebesar 2,7 persen.

“Angka tersebut menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Dari data yang ada, pada tahun 2021 tercatat ada 16.000 kasus, sedangkan pada tahun 2022 angka tersebut turun menjadi sebesar 9.000 kasus,” ujarnya dikutip Selasa, 7 November 2023.

Penurun angka stunting tersebut seiring dengan keberhasilan menekan 232 ribu kasus keluarga berisiko stunting. Pada tahun 2022, keluarga berisiko stunting sempat menyentuh angka 350.000 kasus. Hendra mengatakan saat ini tersisa 118.000 kasus keluarga berisiko stunting di Kabupaten Tangerang.

“Turunnya angka keluarga berisiko stunting merupakan upaya penanganan yang dilakukan dengan melibatkan berbagai perangkat daerah terkait. Jumlah tersebut yang saat ini juga sedang kita upayakan penanganan agar anaknya tidak menjadi stunting,” ungkapnya.

Diketahui, keluarga berisiko stunting merupakan keluarga yang memiliki satu atau lebih faktor risiko stunting dan berasal dari keluarga miskin, pendidikan orang tua rendah, sanitasi lingkungan buruk, dan air minum tidak layak.

Dia menuturkan pihaknya dan perangkat daerah lainnya terus berupaya dengan menargetkan penurunan angka keluarga berisiko stunting hingga di bawah 50.000 kasus. Sebab, hal tersebut dapat turut menekan lahirnya anak stunting.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat yang terindikasi keluarga yang berisiko stunting untuk segera melaporkan ke desa atau kelurahan, agar nantinya dapat dilakukan pendampingan oleh tim pendamping keluarga di tiap desa. (Ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *