TANGERANG | BD — Sebanyak 3.038 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) diwisuda tahun ini. Di hadapan para lulusan, Rektor UMT Assoc. Prof. Dr. Warsito, M.Si mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan awal menghadapi tantangan yang lebih berat di tengah persaingan dunia kerja dan perubahan teknologi yang semakin cepat.
Pesan tersebut disampaikan Warsito dalam prosesi wisuda UMT, Selasa (29/9/2026), di ICE BSD, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.
Menurutnya, gelar akademik yang diperoleh para wisudawan harus diikuti dengan kemampuan untuk bersaing, bekerja, beradaptasi, serta memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
“Setelah selesai menjadi sarjana, tantangan ke depan justru lebih berat. Bagaimana kalian bisa menunjukkan dan membuktikan bahwa kalian mampu bersaing, bekerja, serta memberikan bukti kepada orang tua,” pesan Warsito.
Dari total 3.038 mahasiswa yang diwisuda dari jenjang sarjana, magister, dan diploma, pelaksanaan wisuda dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama diikuti sebanyak 1.038 wisudawan.
Warsito juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada UMT. Ia menilai keberhasilan para wisudawan tidak terlepas dari perjuangan, pengorbanan, dan doa keluarga.
Berbakti kepada Orang Tua
Pesan pertama yang disampaikan Warsito adalah agar para lulusan tetap berbakti kepada kedua orang tua.
Ia mengingatkan bahwa pencapaian akademik yang diraih hari ini merupakan hasil dari perjalanan panjang yang juga melibatkan perjuangan orang tua.
Karena itu, Warsito meminta para wisudawan memberikan penghormatan kepada orang tua yang hadir dalam prosesi wisuda.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Atas doa orang tua, insyaallah kalian bisa menjadi orang-orang yang sukses,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan lulusan agar tidak menjadi pribadi yang tinggi hati setelah memperoleh gelar akademik.
“Jangan merasa terlalu tinggi. Jadilah orang yang lebih rendah hati supaya orang tua bangga kepada kalian,” pesannya.
Jangan Berhenti Belajar
Warsito kemudian meminta para lulusan tidak berhenti belajar hanya karena telah memperoleh ijazah.
Menurutnya, dunia kerja membutuhkan sumber daya manusia yang terus mengembangkan kompetensi, terlebih ketika persaingan semakin ketat dan perkembangan teknologi berlangsung cepat.
“Jangan berhenti karena kalian sudah mendapatkan ijazah. Tantangan ke depan lebih tinggi. Asah kompetensi kalian terus,” katanya.
Ia juga mendorong para lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai bidang dan kesempatan yang dimiliki.
Bagi Warsito, pendidikan tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang kuliah. Kemampuan untuk terus belajar justru menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan dan tuntutan profesional.
Harus Adaptif terhadap Perubahan
Selain meningkatkan kompetensi, lulusan juga diminta memiliki kemampuan beradaptasi.
Warsito mengatakan perubahan merupakan bagian yang tidak dapat dihindari. Karena itu, lulusan harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan tidak berhenti melakukan pembaruan terhadap dirinya.
“Kalau kalian tidak ingin terlindas oleh perkembangan, kalian harus melakukan perubahan. Lakukan terus proses perubahan itu,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar para wisudawan memiliki mental yang kuat ketika menghadapi kegagalan.
“Jatuh, bangun lagi. Jatuh, bangun lagi,” katanya.
Menurutnya, pengalaman menghadapi tantangan dan persoalan dapat menjadi bagian dari proses membentuk pribadi yang lebih kuat, selama seseorang tidak mudah menyerah.
Integritas dan Kejujuran Jadi Modal Penting
Warsito juga menekankan pentingnya menjaga integritas dan kejujuran.
Menurutnya, kemampuan akademik dan kompetensi harus berjalan beriringan dengan karakter. Sebab, kemampuan seseorang akan kehilangan nilai ketika tidak disertai integritas dan kejujuran.
“Kompetensi bisa kalian bangun dengan ilmu dan kemampuan. Tetapi kalau integritas dan kejujuran tidak kalian pegang, nilai kepercayaan kalian juga akan berantakan,” tegasnya.
Karena itu, para lulusan diminta menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat sekaligus nama baik almamater setelah memasuki dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat.
Soft Skill Tak Kalah Penting
Bekal berikutnya yang disoroti adalah kemampuan nonteknis atau soft skill.
Warsito menyebut kemampuan analisis, pemecahan masalah (problem solving), dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan sebagai keterampilan yang semakin dibutuhkan di dunia kerja.
“Soft skill dalam proses penyelesaian masalah sangat diperlukan. Kemampuan analisis dan problem solving diperlukan dalam menghadapi persoalan,” ujarnya.
Ia juga meminta para wisudawan tidak takut menghadapi tantangan maupun memulai perjalanan karier dari bawah.
“Jangan takut menghadapi tantangan. Jangan takut memulai dari bawah,” pesannya.
UMT Terus Tingkatkan Mutu Pendidikan
Dalam kesempatan tersebut, Warsito turut menyampaikan perkembangan UMT. Saat ini, UMT memiliki 35 program studi, dengan 12 program studi disebut telah memperoleh akreditasi unggul.
Ia mengatakan peningkatan mutu dan akreditasi program studi akan terus dilakukan sebagai bagian dari komitmen UMT memberikan pendidikan yang berkualitas.
Warsito juga menyampaikan bahwa UMT tengah menantikan penerbitan izin atau surat keputusan terkait Fakultas Kedokteran. Jika terealisasi, keberadaan fakultas tersebut akan menjadi bagian dari pengembangan UMT dalam memperluas bidang pendidikan tinggi.
Di akhir sambutannya, Warsito menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan orang tua wisudawan atas kepercayaan yang diberikan kepada UMT.
Ia juga meminta maaf apabila selama proses pendidikan terdapat kekurangan serta menegaskan komitmen kampus untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan.
“Jaga nama baik UMT. Hari ini kami melepaskan saudara-saudara untuk bertanggung jawab di tengah masyarakat,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa toga dan ijazah bukanlah garis akhir bagi 3.038 wisudawan UMT. Setelah prosesi wisuda selesai, mereka menghadapi fase baru yang menuntut kompetensi, kemampuan beradaptasi, integritas, serta keberanian menghadapi tantangan. (*)
