Di Balik Strategi dan Keringat: Kisah Perjalanan Seorang Pelatih Sepak Bola

waktu baca 3 menit
Kamis, 30 Okt 2025 11:17 234 Redaksi

SOSOK | BD — Di lapangan rumput yang sederhana, di bawah terik matahari sore, suara peluit memecah keheningan. Ade Sultoni Irawan, pelatih klub Musafir FC Tangerang Selatan berdiri di pinggir lapangan dengan peluh di dahi, matanya tajam mengamati setiap gerak pemain yang sedang berlatih. Sesekali ia bertepuk tangan, memberi semangat, atau memperbaiki posisi kaki seorang pemain. Dari luar, ia tampak seperti pelatih biasa. Namun di balik sosoknya, tersimpan kisah perjalanan panjang tentang kegigihan, keikhlasan, dan keyakinan bahwa kerja keras selalu menemukan jalannya.

Dari Bangku Cadangan ke Garis Depan

Perjalanan Ade di dunia sepak bola dimulai bukan dengan sorotan lampu stadion, melainkan dari bangku cadangan. Saat remaja, ia bergabung dengan sebuah klub lokal di Tangerang. Meski tak pernah menjadi pemain inti, Ade dikenal sebagai sosok yang pantang menyerah.

“Saya tidak pernah absen latihan,” kenangnya sambil tersenyum tipis beberapa waktu yang lalu. “Saya percaya, kerja keras suatu saat akan membuahkan hasil.”

Namun, kenyataan tidak selalu berpihak. Dalam sebuah turnamen besar se-Tangerang, Ade kembali harus menerima kenyataan pahit—namanya tidak pernah dipanggil masuk lapangan hingga pertandingan terakhir.
Bagi sebagian orang, itu akhir dari mimpi. Tapi bagi Ade, itulah awal dari babak baru.

Menemukan Jalan Baru: Dari Pemain ke Pelatih

Foto: Ist

Kekecewaan itu justru menuntunnya pada panggilan hati lain—menjadi pelatih. “Saya sadar, mungkin bukan di posisi pemain saya bisa memberi kontribusi terbaik. Tapi saya bisa melahirkan pemain-pemain yang lebih baik dari saya,” ucapnya.

Bagi Ade, melatih bukan sekadar menyusun strategi atau menata formasi. Lebih dari itu, pelatih adalah sosok yang menanamkan nilai-nilai kehidupan: kerja keras, disiplin, dan loyalitas.

“Saya ingin menciptakan pemain yang punya semangat tinggi meskipun kemampuan mereka belum menonjol,” katanya tegas. “Karena bagi saya, bukan bakat alam yang menentukan, tapi seberapa besar usaha mereka di lapangan.”

Melatih dengan Hati

Kini, Ade dikenal sebagai pelatih muda yang membangun karakter pemain dari dasar. Di setiap sesi latihan, ia selalu hadir lebih awal, memastikan setiap pemain memahami bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, tapi juga perjalanan membentuk mental dan hati.

Banyak pemain muda di bawah asuhannya kini mulai menorehkan prestasi di berbagai turnamen daerah hingga nasional. Namun, bagi Ade, pencapaian itu bukan tujuan utama. “Yang terpenting adalah mereka belajar tentang arti pantang menyerah dan saling percaya,” ujarnya.

Dari Lapangan Sederhana untuk Mimpi yang Besar

Foto: Ist

Ade tak punya mimpi muluk. “Cita-cita saya sederhana,” ucapnya lirih. “Saya ingin anak-anak yang dulu seperti saya—yang selalu rajin latihan tapi tak pernah diberi kesempatan—bisa merasakan kebanggaan tampil di lapangan, bukan hanya duduk di bangku cadangan.”

Ia percaya, setiap peluh yang menetes saat latihan adalah investasi masa depan. Setiap kesalahan di lapangan adalah bagian dari proses tumbuh. Dan setiap keberhasilan seorang pemain adalah kebanggaan yang tidak ternilai bagi seorang pelatih.

Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Kini, di tengah langkah kecilnya yang penuh dedikasi, Ade Sultoni Irawan telah menjadi inspirasi bagi banyak pelatih muda. Ia menunjukkan bahwa menjadi pelatih bukan hanya soal kemenangan, tetapi tentang bagaimana membentuk manusia tangguh—mereka yang berjuang bukan karena bakat, melainkan karena ketulusan hati.

“Jadikan latihan itu sebagai kebutuhan, bukan kewajiban,” begitu pesan Ade yang kini menjadi pegangan anak-anak didiknya.

Dari bangku cadangan hingga ke garis depan lapangan, Ade telah membuktikan satu hal: bahwa kerja keras, keikhlasan, dan semangat tidak akan pernah berkhianat. Ia bukan hanya melatih sepak bola, tapi juga menanamkan semangat hidup—bahwa setiap mimpi, sekecil apa pun, selalu layak diperjuangkan.

Penulis: Bunga Wulan Kinanti
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA