Haedar Nashir Terima Kartu Wartawan Utama Khusus, Muhammadiyah Tegaskan Pentingnya Pers dan Literasi

waktu baca 3 menit
Kamis, 13 Agu 2026 20:33 8 Nazwa

JAKARTA | BD — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menerima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026). Momentum tersebut sekaligus menjadi penegasan Muhammadiyah terhadap pentingnya pers dan literasi sebagai bagian dari tradisi intelektual dan gerakan pencerdasan.

Kartu Wartawan Utama Khusus diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kiprah, dedikasi, dan pengabdian Haedar Nashir dalam dunia jurnalistik. Pemberian kartu tersebut dilakukan melalui proses verifikasi dan penilaian tertentu serta menjadi bentuk penghargaan yang hanya dimiliki sejumlah tokoh di Indonesia.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Haedar Nashir juga menyampaikan Orasi Kebangsaan bertajuk “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan.” Orasi itu membahas peran strategis pers dalam kehidupan kebangsaan sekaligus pentingnya membangun relasi antara media, nilai-nilai agama, dan semangat kebangsaan.

Kegiatan yang diinisiasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran mengenai sejarah panjang pers dan literasi dalam perjalanan Muhammadiyah.

Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., mengatakan pers merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam memastikan penyelenggaraan negara berjalan secara demokratis.

“Pers adalah pilar keempat dari demokrasi. Tanpa media, tanpa pers, saya yakin demokrasi akan sulit berjalan dengan baik,” ujar Ma’mun.

Ia berharap media dapat semakin mengukuhkan perannya sebagai pilar keempat demokrasi dengan menjalankan fungsi pengawasan terhadap tiga pilar lainnya, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Ketua MPI PP Muhammadiyah Prof. Dr. Muchlas, M.T., menjelaskan peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 memiliki dua agenda utama. Pertama, memperkuat kembali kesadaran mengenai sejarah dan peran pers serta literasi dalam gerakan Muhammadiyah. Kedua, penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Haedar Nashir.

Muchlas mengatakan, tradisi pers Muhammadiyah telah tumbuh sejak awal perjalanan organisasi. Pada 1915, Muhammadiyah menerbitkan Suara Muhammadiyah, kemudian Suara ‘Aisyiyah serta berbagai media Muhammadiyah di tingkat daerah.

“Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pers dan literasi bukan sekadar instrumen komunikasi, melainkan bagian dari tradisi intelektual dan gerakan pencerdasan yang telah menyertai perjalanan Muhammadiyah sejak awal berdirinya,” ujarnya.

Menurut Muchlas, Muhammadiyah berkembang tidak hanya melalui amal nyata di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga melalui kekuatan intelektual yang diwujudkan melalui tradisi membaca, menulis, berdiskusi, menyebarkan pengetahuan, serta membangun kesadaran masyarakat.

“Literasi telah menjadi bagian dari DNA gerakan Muhammadiyah,” tegasnya.

Tradisi tersebut menjadi salah satu kekuatan yang memungkinkan Muhammadiyah beradaptasi dengan perkembangan zaman, melahirkan gagasan pembangunan, sekaligus membumikan Islam yang mencerahkan kehidupan.

Muchlas menekankan, pers yang sehat membutuhkan masyarakat dengan tingkat literasi yang baik. Sebaliknya, tradisi literasi juga membutuhkan media yang sehat untuk menciptakan ruang publik yang cerdas dan berkeadaban.

Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A., Ph.D., menyoroti tantangan dunia pers di tengah derasnya arus informasi. Menurutnya, profesi wartawan harus dijalankan dengan tanggung jawab, integritas, dan kompetensi, bukan sekadar menjadi pekerjaan.

Dalam tradisi Islam, informasi memiliki mekanisme verifikasi melalui konsep tabayyun. Menurut Komaruddin, prinsip tersebut menjadi salah satu landasan penting untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat dapat dipertanggungjawabkan.

“Berita itu dalam tradisi Islam punya tradisi untuk dilakukan tabayyun atau verifikasi,” katanya.

Ia mencontohkan tradisi verifikasi dalam sejarah transmisi Al-Qur’an dan hadis, termasuk melalui mekanisme sanad untuk memastikan keabsahan suatu informasi.

Komaruddin menilai kebutuhan masyarakat terhadap informasi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin terhubung dengan informasi melalui perangkat telepon pintar.

Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di UMJ diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara tradisi literasi, profesionalisme jurnalistik, dan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam menghadapi tantangan informasi di era digital dan kecerdasan buatan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA