AirNav dan Boeing Siapkan Studi Optimasi Operasional Bandara Ngurah Rai

waktu baca 4 menit
Selasa, 15 Sep 2026 15:14 3 Redaksi

BANDARA | BD — AirNav Indonesia dan The Boeing Company menyiapkan studi optimasi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, untuk meningkatkan efisiensi pergerakan pesawat sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas landas pacu.

Studi tersebut ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara AirNav Indonesia dan Boeing di Hotel Sheraton Jakarta Soekarno-Hatta Airport, Tangerang, Selasa (15/9/2026).

LoI ditandatangani Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno dan Senior Managing Director Boeing Commercial Airplanes Malcolm An.

Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno mengatakan, studi tersebut akan memetakan kondisi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai sekaligus mengidentifikasi berbagai peluang peningkatan efisiensi pergerakan pesawat.

“Yang kami lihat bukan hanya kondisi operasi saat ini, tetapi juga berbagai opsi yang memungkinkan pergerakan pesawat lebih efisien. Setiap opsi akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar analisis yang kuat,” ujar Avirianto.

Menurut dia, kajian dilakukan dengan menggunakan Total Airspace and Airport Modeller (TAAM) untuk memodelkan kondisi operasional bandara dan menguji berbagai alternatif peningkatan operasi.

Pada tahap awal, AirNav Indonesia dan Boeing akan membangun baseline model TAAM yang merepresentasikan kondisi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini.

Model tersebut menggunakan jadwal penerbangan selama 24 jam yang mewakili kondisi operasional normal bandara. Pemodelan mencakup dua konfigurasi operasi, yakni east flow dan west flow, berdasarkan arah aliran pergerakan pesawat.

Hasil pemodelan akan menghasilkan data statistik operasional dan visualisasi empat dimensi (4D) sebagai dasar untuk mengevaluasi kinerja operasional bandara.

Observasi Operasional di Lapangan

Selain pemodelan, AirNav Indonesia dan Boeing akan melakukan observasi langsung di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Kegiatan tersebut melibatkan Subject Matter Experts (SME) dari berbagai unsur yang berkaitan dengan operasional penerbangan.

Para ahli tersebut berasal dari unsur pengendalian lalu lintas udara, operasi bandara, maskapai penerbangan, ground handling, serta perencanaan bandara.

Observasi dapat mencakup menara Air Traffic Control (ATC), fasilitas radar terminal, pusat operasi ground handling, pusat operasi maskapai, unit perencanaan dan pembangunan bandara, serta area sisi udara (airside).

Setelah baseline model divalidasi menggunakan data operasional AirNav Indonesia, kedua pihak akan menyusun sejumlah alternatif peningkatan operasional.

Alternatif tersebut mencakup tata letak, prosedur pergerakan pesawat di darat, penggunaan taxiway dan area parkir pesawat, pengurutan pergerakan pesawat, hingga koordinasi operasional.

“Alternatif tersebut selanjutnya akan diuji melalui simulasi TAAM. Boeing diperkirakan akan memodelkan hingga tiga skenario untuk menilai kinerja masing-masing opsi sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan,” imbuh Avirianto.

Pemodelan juga akan menggunakan sedikitnya dua jadwal tambahan yang merepresentasikan proyeksi pertumbuhan trafik penerbangan.

Setiap skenario akan diuji dalam dua arah aliran pergerakan pesawat dengan asumsi operasional yang disepakati bersama. Hasil pemodelan dan simulasi tersebut akan menjadi bahan penyusunan rekomendasi peningkatan operasi pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Kelanjutan Kerja Sama AirNav-Boeing

Studi ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani AirNav Indonesia dan Boeing pada 2023.

MoU tersebut menjadi kerangka kerja sama kedua pihak di bidang manajemen ruang udara, pelatihan, serta perencanaan strategis manajemen lalu lintas udara.

Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde mengatakan, kerja sama tersebut menggabungkan keahlian global Boeing dalam bidang kinerja pesawat dan manajemen lalu lintas udara dengan pengalaman operasional AirNav Indonesia.

Kajian ini, kata dia, diarahkan untuk menghasilkan langkah-langkah praktis berbasis data guna meningkatkan kelancaran arus lalu lintas penerbangan, pemanfaatan landasan pacu, serta mendukung penerbangan yang aman, efisien, dan berkelanjutan di Bali.

“Kami memandang Indonesia sebagai salah satu pasar penerbangan terbesar di Asia dan berkomitmen terhadap kemitraan kami dengan AirNav Indonesia serta industri penerbangan sipil nasional,” kata Indra.

Penandatanganan LoI turut dihadiri Deputi Bidang Fasilitasi dan Sinergi Pembangunan Badan Pengaturan BUMN, Kepala Subdirektorat Pengawasan dan Data Keselamatan Penerbangan Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Indra Gunawan, Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro, Direktur Teknik Zainal Arifin Harahap, Direktur SDM dan Umum Didiet K.S. Radityo, serta Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Oskar Syahbana.

Hadir pula Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde, Program Manager Boeing Southeast Asia Davida Gondohusodo, IATA Assistant Manager Industry Affair Marisqa Debora, Direktur Operasi Angkasa Pura Indonesia Agus Haryadi, serta perwakilan sejumlah maskapai penerbangan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA