Workshop Ecoprint PLN UID Banten Dorong Kreativitas dan Pengembangan UMKM

waktu baca 6 menit
Selasa, 3 Nov 2026 13:41 40 Redaksi

TANGERANG | BD – Hub UMKM PLN UID Banten menggelar Workshop Ecoprint untuk meningkatkan kreativitas sekaligus membuka peluang pengembangan usaha kreatif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kegiatan yang berlangsung di Hub UMKM PLN UID Banten, Kota Tangerang, Selasa (3/11/2026), tersebut merupakan bagian dari program Workshop Milenial.

Workshop menghadirkan Halida Srikandi, pemilik Mooladara Eco Fashion, sebagai pemateri. Sebanyak 15 peserta mengikuti kegiatan yang memberikan pengalaman langsung mengenal teknik ecoprint, termasuk praktik pembuatannya menggunakan media mug.

Fasilitator Hub UMKM PLN UID Banten, Abdul Azis, mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan berdasarkan kebutuhan UMKM binaan yang menginginkan pelatihan ecoprint, khususnya pelaku usaha yang bergerak di bidang ekonomi kreatif dan kerajinan.

“Yang melatarbelakangi kegiatan ini sebenarnya kebutuhan dari UMKM binaan kami. Beberapa waktu terakhir banyak permintaan untuk mengadakan pelatihan ecoprint, khususnya dari peserta yang bergerak di bidang ekonomi kreatif,” kata Abdul Azis.

Menurutnya, pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari kurikulum pengembangan UMKM Hub UMKM PLN UID Banten. Tujuan utamanya membuka ruang kreativitas baru bagi pelaku usaha, mengingat keterampilan ecoprint belum banyak dikuasai UMKM di wilayah Tangerang.

Berdasarkan data internal Hub UMKM PLN UID Banten, di Kota Tangerang baru terdapat sekitar satu hingga dua UMKM yang bergerak di bidang ecoprint. Karena itu, pihaknya menghadirkan praktisi yang memiliki pengalaman langsung mengembangkan ecoprint menjadi produk bernilai ekonomi.

Mooladara Eco Fashion dan Keunikan Produk Ecoprint

Halida Srikandi menceritakan, ketertarikannya menekuni ecoprint bermula ketika pandemi COVID-19. Saat itu, keterbatasan aktivitas di luar rumah mendorongnya mencari kegiatan produktif untuk mengisi waktu.

Berawal dari mengikuti workshop ecoprint secara daring, Dini, sapaan akrabnya, kemudian memperdalam keterampilan melalui pelatihan langsung di Bogor. Setelah memahami proses pembuatannya, ia mulai memproduksi ecoprint secara mandiri.

Ketika masih bekerja kantoran, produk yang dibuatnya mulai menarik perhatian rekan kerja hingga muncul permintaan pesanan. Aktivitas yang semula menjadi hobi tersebut perlahan berkembang menjadi usaha.

Pada 2022, kondisi kesehatan membuat Dini mempertimbangkan kembali pekerjaannya. Setelah berdiskusi dengan suami dan anak-anaknya, ia akhirnya memutuskan mengundurkan diri dan lebih serius mengembangkan usaha ecoprint.

Ia kemudian mengembangkan Mooladara Eco Fashion sebagai usaha fesyen berbasis ecoprint.

Menurut Dini, keunggulan produk ecoprint terletak pada karakter motifnya yang eksklusif. Setiap produk memiliki komposisi berbeda karena daun yang digunakan disusun secara manual dengan bentuk dan ukuran yang tidak seragam.

“Tidak ada satu pun motif yang sama. Jadi benar-benar eksklusif. Karena memang kita menatanya secara manual, posisi daun, ukuran daun, dan jarak antardaun tidak akan sama,” jelasnya.

Dalam proses produksinya, Dini menggunakan kain yang tidak mengandung poliester agar dapat mengikat warna dari bahan alami. Daun-daun disusun di atas kain yang telah melalui proses perlakuan awal. Kain kemudian digulung, diikat, dan dikukus selama sekitar 2,5 jam.

Setelah pengukusan, kain diangin-anginkan selama tiga hingga tujuh hari sebelum memasuki proses fiksasi untuk mengunci warna. Secara keseluruhan, proses tersebut membutuhkan waktu sekitar tujuh hari sebelum kain siap diolah menjadi produk fesyen.

Panjang proses produksi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga jual produk ecoprint. Selain itu, pasar yang masih tersegmentasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan usaha.

Dini mengatakan, konsumen produk ecoprint umumnya berasal dari kalangan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, memahami seni dan estetika, serta memiliki kemampuan membeli produk fesyen dengan harga menengah ke atas.

Meski demikian, ia melihat peluang pasar yang masih terbuka, termasuk konsumen dari luar negeri. Berdasarkan pengalamannya, sejumlah pembeli dari luar negeri justru menilai harga produk Mooladara relatif terjangkau.

Berbagi Keterampilan dan Kepedulian terhadap Lingkungan

Bagi Dini, berbagi keterampilan melalui workshop bukan sekadar mengajarkan teknik produksi. Ia ingin semakin banyak orang mengenal ecoprint dan memiliki kesempatan mengembangkan keterampilan tersebut menjadi peluang usaha.

Ia menilai setiap perajin memiliki karakter dan ciri khas masing-masing sehingga berbagi pengetahuan tidak harus dipandang sebagai ancaman persaingan bisnis.

“Setiap artisan itu akan punya cirinya sendiri. Jadi tidak mungkin bersaing, malah kita saling melengkapi,” ujarnya.

Selain aspek ekonomi, Halida juga menekankan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengembangan produk ecoprint. Menurutnya, penggunaan bahan alami dan pengurangan limbah menjadi nilai yang ingin dibangun melalui Mooladara.

Mooladara juga menyediakan layanan pengolahan ulang atau re-ecoprint bagi konsumen yang ingin memperbarui produk setelah digunakan selama beberapa tahun. Konsumen dapat mengembalikan produk untuk diproses kembali dengan skema pembayaran setengah dari harga produk.

Ia berharap keterampilan ecoprint semakin dikenal masyarakat dan dapat memberikan manfaat ekonomi, khususnya bagi perempuan dan pelaku usaha kreatif.

Hub UMKM PLN UID Banten Siapkan Pendampingan

Abdul Azis menjelaskan, kegiatan pelatihan di Hub UMKM PLN UID Banten tidak berhenti pada penyampaian materi dan praktik. Peserta juga mendapatkan pendampingan melalui program monitoring untuk melihat penerapan keterampilan yang telah dipelajari.

“Kami melakukan monitoring dan kunjungan langsung ke rumah produksi UMKM binaan untuk melihat bagaimana hasil pelatihan ini diaplikasikan lebih lanjut,” katanya.

Jika produk yang dikembangkan peserta memiliki potensi untuk dipasarkan, Hub UMKM juga membantu membuka akses pasar melalui kegiatan bazar dan Galeri Jawara di lingkungan PLN UID Banten.

Abdul Azis menambahkan, Hub UMKM PLN UID Banten saat ini membina sekitar 500 UMKM yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Banten.

Selain pelatihan mingguan, Hub UMKM menyediakan layanan pendampingan bagi pelaku usaha yang membutuhkan bantuan legalitas, desain kemasan, pembuatan stiker dan logo, hingga sertifikasi halal.

Program tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan PLN dalam bidang pengembangan ekonomi masyarakat.

Peserta Mendapat Keterampilan Baru

Manfaat workshop juga dirasakan langsung oleh peserta. Yuliana, salah satu peserta, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Sebelumnya, ia pernah mengenal ecoprint, tetapi belum pernah mengikuti pelatihan praktik secara langsung.

Menurutnya, proses menempelkan daun pada media mug hingga tahapan pengukusan menjadi pengalaman paling menarik selama mengikuti kegiatan.

“Workshop ecoprint ini menambah wawasan dan ilmu. Sesuatu yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa karena belajar melalui workshop ini,” ungkap Yuliana.

Ia mengaku tertarik mencoba membuat produk ecoprint secara mandiri. Namun, untuk mengembangkannya menjadi produk usaha, ia masih ingin mempelajari teknik ecoprint pada media kain melalui pelatihan berikutnya.

Yuliana berharap kegiatan pelatihan yang diselenggarakan Hub UMKM PLN UID Banten dapat terus berlangsung karena memberikan manfaat bagi pelaku UMKM, khususnya di wilayah Tangerang Raya.

Melalui Workshop Ecoprint, Hub UMKM PLN UID Banten berupaya mempertemukan pengalaman praktisi dengan kebutuhan pelaku usaha. Selain memperkenalkan keterampilan kreatif berbasis bahan alami, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pengembangan produk sekaligus memperkuat kapasitas UMKM di Provinsi Banten. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA