Muhamad Adzka Imani. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | BD — Di tengah derasnya arus konten digital, banyak anak muda bermimpi menjadi pelaku usaha hanya dengan bermodalkan gawai dan koneksi internet. Media sosial menjanjikan popularitas instan, sementara kisah sukses yang ditampilkan secara singkat dan viral kerap menutupi proses panjang di balik dunia niaga yang sesungguhnya. Di sinilah jarak mulai terasa antara semangat membuat konten dan ketekunan membangun usaha secara konsisten.
Realitas ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana kemajuan teknologi justru membentuk ulang cara generasi muda memaknai kerja, proses, dan keberlanjutan dalam berniaga?
Kemudahan teknologi sejatinya membuka peluang besar bagi anak muda untuk terjun ke dunia usaha tanpa batas ruang dan modal yang kaku. Namun, peluang tersebut sering disikapi secara serba cepat dan pragmatis. Fokus lebih banyak tertuju pada tampilan luar—jumlah pengikut, likes, dan views—daripada membangun fondasi usaha yang kokoh. Banyak pelaku usaha muda terjebak dalam ritme algoritma dan tren, tanpa diiringi perencanaan matang, ketahanan mental, serta konsistensi yang sejatinya menjadi napas utama dalam dunia niaga.
Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan terbesar berniaga di era digital bukanlah keterbatasan akses atau teknologi, melainkan kemampuan menjaga komitmen jangka panjang di tengah godaan hasil instan yang terus ditawarkan. Popularitas dapat datang dengan cepat, tetapi keberlanjutan usaha hanya lahir dari proses yang dijalani secara sabar dan disiplin.
Oleh karena itu, anak muda perlu membekali diri dengan pemahaman dasar manajemen, khususnya manajemen pemasaran. Di era digital, akses terhadap ilmu pengetahuan semakin terbuka luas. Cukup dengan beberapa sentuhan jari, berbagai referensi, pelatihan, dan praktik pemasaran dapat dipelajari. Dengan kemudahan tersebut, sejatinya tidak ada alasan untuk menyerah atau bersikap tidak konsisten dalam berusaha, karena tidak ada keberhasilan yang lahir tanpa proses dan ketekunan.
Beberapa poin penting dalam manajemen pemasaran yang perlu dikuasai oleh generasi muda antara lain:
Dengan demikian, kemajuan teknologi seharusnya tidak dimaknai sebagai jalan pintas menuju kesuksesan, melainkan sebagai alat untuk memperkuat proses dan ketekunan dalam berbisnis. Bagi generasi muda, tantangan berniaga di era digital bukan alasan untuk berhenti, melainkan peluang untuk belajar, beradaptasi, dan bertumbuh secara berkelanjutan.
Dengan membekali diri pada pemahaman manajemen pemasaran serta menanamkan sikap konsisten dan sabar dalam menjalani proses, anak muda memiliki harapan besar untuk membangun usaha yang tidak hanya tampak ramai di layar, tetapi juga kokoh dan bertahan dalam jangka panjang. Pada akhirnya, di balik setiap usaha yang berhasil, selalu ada komitmen kuat yang dijalani langkah demi langkah—bukan sekadar konten yang sesaat viral.
Penulis: Muhamad Adzka Imani, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam,
Fakultas Dakwah, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Referensi:
Kotler, P., & Keller, K. L. (2009). Manajemen Pemasaran (Edisi 13, Jilid 1). Jakarta: Erlangga. (*)
Tidak ada komentar