Site icon BantenDaily

Band Bandung Masada Hadirkan Mereka, Lagu tentang Paradoks Kekuasaan

Masada merilis single terbaru berjudul Mereka, memadukan alternative rock atmosferik dengan kritik sosial tajam soal paradoks kekuasaan.

Personel Masada berpose usai sesi pemotretan promosi di Bandung. Dari kiri ke kanan: Muhtio M.M (bass), Fakhril Putra (vokal/gitar), Fariz Halim (gitar), dan Dimas P.P (drum). Band alternatif ini dikenal melalui karya-karya yang mengangkat isu sosial dengan balutan alternative rock atmosferik. (Foto: Dok. Masada)

MUSIK | BD — Skena musik independen Bandung kembali melahirkan karya yang tidak sekadar enak didengar, tetapi juga mengajak berpikir. Masada, unit alternatif asal Kota Kembang, resmi merilis single terbaru berjudul “Mereka”, sebuah lagu yang menyoroti paradoks kekuasaan dalam realitas sosial modern.

Dirilis pada 14 April 2026, “Mereka” lahir dari kegelisahan atas pola kepemimpinan yang kerap berulang. Lagu ini berbicara tentang bagaimana posisi strategis sering kali ditempati oleh figur yang tidak sepenuhnya selaras dengan tanggung jawab yang diemban. Regenerasi yang seharusnya melahirkan kebijaksanaan, justru acap kali hanya mewariskan kebiasaan buruk dari generasi sebelumnya.

Pemilihan judul “Mereka” dilakukan secara sadar. Alih-alih menunjuk individu tertentu, Masada memilih kata yang lebih luas dan terbuka. Dengan begitu, pesan yang disampaikan tidak terjebak pada satu sosok, melainkan merepresentasikan banyak figur dalam berbagai ruang kehidupan.

Secara musikal, Masada tetap mempertahankan karakter khas mereka. Perpaduan alternative rock, lo-fi, noise, post-rock, dan sentuhan psychedelic melahirkan lanskap suara yang mentah sekaligus atmosferik. Gitar-gitar mengawang berpadu dengan ritme yang solid, menciptakan pengalaman mendengar yang emosional dan reflektif.

Masada diperkuat oleh Fakhril Putra pada vokal dan gitar, Fariz Halim di gitar, Muhtio M.M pada bass, serta Dimas P.P di posisi drum. Keempatnya berasal dari latar belakang musik independen yang beragam, mulai dari lo-fi hingga hardcore, yang kemudian melebur menjadi identitas sonik yang kuat.

Sebelum “Mereka”, Masada telah merilis dua single, yaitu Deforestasi dan Remaja. Ketiga lagu tersebut menunjukkan konsistensi mereka dalam mengangkat isu sosial melalui pendekatan musikal yang matang dan berkarakter.

Menariknya, seluruh proses kreatif Masada berlangsung di tengah kesibukan sebagai pekerja kantoran. Dari obrolan singkat di sela aktivitas hingga pertukaran ide secara digital, “Mereka” akhirnya direkam, di-mixing, dan di-mastering di Binaural Studio bersama Loevi Wahyudi.

Lewat “Mereka”, Masada menegaskan bahwa musik dapat menjadi medium untuk membaca zaman. Bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang untuk mempertanyakan, merefleksikan, dan memahami dunia yang terus bergerak dengan segala paradoksnya. (*)

Exit mobile version