Site icon BantenDaily

BLU Women’s Journey 2026 Dorong Perempuan Berani Bersuara dan Melawan Stigma

BLU Women’s Journey 2026 mengangkat kisah perjalanan perempuan, tantangan patriarki, keberanian bersuara, dan kemandirian.

Para pembicara BLU Women’s Journey 2026 hadir dalam sesi diskusi yang membahas perjalanan perempuan dari berbagai latar belakang profesi. Pengalaman mereka menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani berkarya dan menghadapi stigma sosial. (Foto: Ist)

JAKARTA | BD — Budi Luhur University melalui Suhanah Women and Youth Center (SWYC) bersama Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) mendorong perempuan untuk berani bersuara dan menghadapi stigma sosial yang masih membatasi ruang gerak perempuan. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan BLU Women’s Journey 2026 di Auditorium Grha Mahardika Budjana, Rabu (7/10/2026).

Mengusung tema “Celebrating Courage, Purpose, and Every Woman’s Story”, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman perempuan sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya lingkungan kampus yang aman, setara, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Ketua Satgas PPKPT sekaligus SWYC Universitas Budi Luhur, Chazizah Gusnita, M.Krim., mengatakan BLU Women’s Journey merupakan kegiatan tahunan yang setiap tahun mengangkat tema berbeda. Tahun ini, tema perjalanan perempuan dipilih untuk memperlihatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang dengan tantangan yang berbeda-beda.

“Bagaimana perempuan-perempuan ini mulai meniti kariernya dari nol, mau itu dari wartawan, pendidik, saintis, atau dari MUA (makeup artist) sekalipun,” kata Chazizah.

Menurut dia, keberagaman profesi yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut penting untuk menunjukkan bahwa setiap perempuan memiliki perjalanan dan perjuangannya sendiri. Profesi yang kerap dianggap biasa oleh sebagian masyarakat, misalnya makeup artist, memiliki keterampilan, kreativitas, dan proses perjuangan yang tidak sederhana.

“Pekerjaan-pekerjaan yang mungkin di masyarakat dilihat biasa-biasa saja, justru kita di sini melihatnya,” ujarnya.

BLU Women’s Journey 2026 menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai bidang, antara lain Dr. Devi Rahayu, S.H., M.Hum. sebagai keynote speaker, Rachmawati Alida Bahaweres, Heni Priska selaku professional makeup artist, serta Dr. Dewi Dwianti, S.T., M.Eng., seorang environmental engineer. Diskusi dimoderatori Vivi Puspitasyari, S.I.P., M.Si.

Selain diskusi, kegiatan juga diisi kompetisi kreatif berupa video pendek YouTube, konten Instagram Reels/TikTok, dan poster infografis. Peserta didorong menyampaikan pesan tentang perempuan melalui karya yang kreatif, informatif, dan mudah dipahami.

Mendorong Perempuan Berani Menghadapi Stigma

Chazizah mengatakan kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memberikan motivasi kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah menghadapi stigma dan pelabelan sosial terhadap perempuan.

Menurutnya, perempuan masih berhadapan dengan pandangan yang dapat membatasi ruang gerak mereka, termasuk anggapan bahwa perempuan kurang tepat menjadi pemimpin karena dinilai lebih mengutamakan perasaan.

“Walaupun kita ada di lingkungan sosial yang ada budaya patriarkinya, karena ada pembedaan-pembedaan bagaimana orang melihat perempuan yang katanya kalau jadi pemimpin lebih mengutamakan perasaan,” ujarnya.

Karena itu, pengalaman para pembicara diharapkan menjadi pembelajaran bahwa keberhasilan merupakan hasil dari perjalanan panjang. Latar belakang, tantangan, dan pengalaman setiap perempuan berbeda sehingga tidak dapat diukur hanya berdasarkan posisi atau pencapaian yang terlihat.

Chazizah berharap generasi muda dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut dan tetap memiliki daya juang ketika menghadapi stigma dalam kehidupan sosial maupun profesional.

“Generasi ini tidak pantang menyerah, tetap menjalani aktivitasnya, baik itu sebagai perempuan yang mandiri ataupun sebagai seorang ibu yang tetap bekerja di kemudian hari,” katanya.

Berani Bersuara, Tanpa Mengeksploitasi Penderitaan

Sebagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap perlindungan perempuan dan anak, SWYC juga menjadikan BLU Women’s Journey sebagai ruang untuk meningkatkan pemahaman mengenai persoalan kekerasan.

Chazizah menilai perempuan yang mengalami kekerasan perlu memiliki keberanian untuk berbicara dan memperjuangkan haknya. Namun, keberanian tersebut tidak berarti harus membuka seluruh pengalaman pribadi kepada publik atau menjadikan penderitaan sebagai konsumsi sosial.

“Ketika ada sesuatu hal yang terjadi terhadap mereka terkait dengan kekerasan, tetap mampu berbicara secara luas, tapi tidak juga mempublikasikan diri menjadi seseorang yang mengkomodifikasikan penderitaan itu,” katanya.

Menurutnya, speak up perlu ditempatkan sebagai bagian dari perjuangan memperoleh hak sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai persoalan kekerasan terhadap perempuan.

Perjalanan Perempuan Terinspirasi Sosok Suhanah

Tema perjalanan perempuan dalam BLU Women’s Journey juga berkaitan dengan sosok Suhanah yang menjadi nama SWYC. Chazizah menjelaskan, nama tersebut diambil dari nama almarhumah istri Ketua Yayasan Universitas Budi Luhur yang dikenang sebagai seorang ibu sekaligus figur perempuan yang menjadi panutan di lingkungan kampus.

“Beliau mungkin seorang ibu rumah tangga, seorang ibu, tetapi beliau tokoh perempuan yang ada di kampus ini. Jadi itu tadi diambil tematiknya menjadi sebuah perjalanan perempuan,” jelas Chazizah.

Kegiatan yang berkaitan dengan Suhanah memiliki momentum khusus karena September menjadi bulan yang berkaitan dengan hari berdirinya lembaga tersebut sekaligus ulang tahun Suhanah. Pelaksanaan kegiatan kemudian bergeser ke Oktober karena kendala teknis dan agenda Ketua Yayasan yang berada di luar negeri.

Keteladanan dalam Kejujuran dan Kemandirian

Selain mengangkat perjalanan perempuan dari berbagai profesi, kegiatan tersebut juga menghadirkan refleksi mengenai nilai-nilai yang diwariskan Suhanah, terutama kejujuran, kesederhanaan, kreativitas, dan kemandirian.

Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro, M.B.A., yang merupakan putra Suhanah, turut mengenang sosok ibunya melalui nilai kejujuran yang menurutnya menjadi salah satu karakter paling kuat.

“Yang paling saya kenal, pertama itu … kejujurannya,” ungkap Kasih.

Baginya, kejujuran merupakan nilai yang tidak dapat ditukar dengan kekayaan maupun status sosial. Nilai tersebut berjalan beriringan dengan kesederhanaan, termasuk dalam menghadapi perubahan kondisi kehidupan.

Keteladanan Suhanah juga terlihat dari dorongannya agar perempuan tetap memiliki ruang untuk berkarya dan mandiri. Kemandirian tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kegiatan sederhana seperti berjualan atau membuka usaha kecil dapat menjadi ruang untuk melatih kreativitas, keberanian mengambil keputusan, sekaligus memahami proses ekonomi.

Nilai tersebut memperlihatkan bahwa perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai pendamping dalam keluarga, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menciptakan peluang dan memberikan kontribusi.

Bagi lingkungan Budi Luhur, kisah Suhanah menjadi bagian dari perjalanan nilai yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, kreativitas, dan kemandirian dapat ditanamkan melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

BLU Women’s Journey 2026 pada akhirnya tidak sekadar merayakan kisah perempuan dari berbagai profesi. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa perempuan memiliki hak untuk bersuara, berkarya, menentukan jalan hidup, dan menghadapi stigma tanpa kehilangan martabatnya.

Melalui pengalaman para pembicara dan keteladanan Suhanah, perjalanan perempuan ditempatkan bukan sebagai kisah tentang siapa yang paling berhasil, melainkan tentang keberanian untuk terus bergerak, belajar, dan memberi arti dalam setiap fase kehidupan. (Romli)

Exit mobile version