Site icon BantenDaily

Defisit Kebahagiaan karena Gaya Hidup Digital

Di era media sosial, kita sering kehilangan makna sejati kebahagiaan. Hidup sacukupe jadi jalan pulang menuju ketenangan batin.

Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi)

KOLOM | BD — Kita hidup di masa yang serba terhubung, tapi anehnya, semakin banyak yang merasa kosong. Setiap hari kita membuka ponsel, menatap wajah-wajah bahagia di layar: teman yang baru liburan, rekan kerja yang baru promosi, atau orang asing yang tampak hidupnya sempurna.
Namun setelah layar itu gelap, sering muncul rasa sepi yang sulit dijelaskan.

Ada semacam defisit kebahagiaan di tengah kelimpahan.
Kita punya hiburan tanpa batas, tapi kehilangan rasa puas.
Kita dikelilingi teknologi, tapi kehilangan arah.
Dan semakin kita mencari kebahagiaan di luar diri, semakin jauh kita darinya.

Kebahagiaan yang Tergadai

Filsuf Yunani kuno, Epicurus, pernah berkata bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari menumpuk kenikmatan, tapi dari kemampuan merasa cukup.
Ia menyebutnya ataraxia — ketenangan batin yang lahir ketika keinginan tidak lagi membelenggu.

Sayangnya, algoritma media sosial bekerja sebaliknya.
Setiap scroll memancing rasa kurang.
Setiap like menumbuhkan haus pengakuan baru.
Kita terjebak dalam pusaran keinginan yang tak pernah selesai.

Filsuf Jerman Nietzsche menyebut kondisi seperti ini sebagai nihilisme halus — hidup yang tampak ramai, tapi tanpa makna.
Kita sibuk, tapi kehilangan arah.
Kita merasa “ada”, padahal hanya sekadar hadir di layar.

Kehidupan di Dunia Tiruan

Jean Baudrillard, pemikir Prancis, menyebut dunia modern sebagai hyperreality — realitas buatan yang terasa lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.
Media sosial menjelma cermin palsu tempat kita menata versi terbaik diri.
Kita memoles foto, menyusun narasi, dan perlahan kehilangan keaslian.

Lucunya, semakin keras kita berusaha tampak bahagia, semakin besar kekosongan yang terasa.
Kita mengejar citra, bukan rasa.
Kita hidup dalam “mode tampil”, bukan “mode hidup”.

Sacukupe: Jalan Pulang dari Timur

Dari Timur, muncul kebijaksanaan yang lembut tapi dalam.
Ki Ageng Suryomentaram, seorang pemikir Jawa, menasihatkan untuk hidup sacukupe — secukupnya.
Bukan pasrah, tapi sadar bahwa kebahagiaan tidak tumbuh dari banyaknya yang dimiliki, melainkan dari kemampuan berhenti menginginkan yang berlebihan.

Menurut Ki Ageng Suryomentaram, keinginan manusia itu mulur mungkret: ketika terpenuhi, mengembang lagi; ketika gagal, menyusut lalu muncul lagi.
Dan di situlah penderitaan bermula.
Dengan sacukupe, manusia belajar meletakkan keinginan di tempat yang wajar, agar tidak diperbudak olehnya.

Kalau Epicurus menyebutnya ataraxia, dan kaum Stoik menyebutnya apatheia, maka sacukupe adalah versi Nusantara dari kebijaksanaan universal — tentang bagaimana merasa cukup tanpa kehilangan semangat hidup.

Menjadi Diri di Era Algoritma

Filsuf eksistensialis Martin Heidegger menulis tentang das Man — manusia yang hidup mengikuti arus, meniru kebanyakan orang, tanpa sempat menengok siapa dirinya sebenarnya.
Di era media sosial, kita menjadi das Man digital: mengejar tren, meniru gaya, membentuk identitas dari apa yang disukai publik.

Padahal, menjadi diri sendiri adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi.
Hidup sacukupe mengembalikan kesadaran itu.
Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diunggah, tidak semua pencapaian harus dibagikan.
Ada ruang batin yang sebaiknya tetap menjadi rahasia antara diri dan kehidupan.

Menemukan Cukup di Tengah Bising

Defisit kebahagiaan bukan soal kurangnya hiburan, tapi kurangnya keheningan.
Kita tidak kekurangan informasi, tapi kekurangan jeda untuk merenung.

Hidup sacukupe bukan berarti menolak teknologi.
Kita tetap bisa memakai gawai, media sosial, dan segala kemudahan digital — tapi dengan kesadaran.
Bahwa kebahagiaan tidak akan lahir dari jumlah followers, tapi dari rasa damai yang muncul ketika kita berhenti membandingkan diri.

Epilog

Defisit kebahagiaan adalah tanda bahwa manusia modern kehilangan keseimbangannya: terlalu sibuk mencari di luar, lupa menengok ke dalam.
Padahal, sebagaimana diingatkan Ki Ageng Suryomentaram,

Begja iku ora dumunung ana ing njaba, nanging ana ing rasa kang bisa nerimo.”
(Kebahagiaan itu tidak berada di luar, tetapi di dalam rasa yang mampu menerima.)

Mungkin inilah saatnya kita beristirahat sejenak dari layar — dan belajar merasa cukup.

Penulis: Mohamad Romli
Pimpred BantenDaily.id, Penikmat pemikiran-pemikiran filsafat hidup modern. (*)

Exit mobile version