SERANG | BD — Dokter Spesialis Mata Bethsaida Hospital Serang, dr. Rina W., Sp.M, mengingatkan masyarakat tentang risiko terlalu lama menatap layar perangkat digital. Kebiasaan tersebut dapat memicu digital eye strain atau kelelahan mata, yang dapat dialami mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Penggunaan perangkat digital kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Mulai dari mengecek ponsel setelah bangun tidur, bekerja menggunakan komputer, belajar dengan tablet, hingga menonton tayangan dan mengakses media sosial membuat mata terpapar layar dalam waktu panjang.
Menurut dr. Rina, penggunaan layar secara berlebihan menjadi salah satu keluhan yang banyak ditemukan dalam praktiknya.
“Digital eye strain adalah epidemi senyap di era modern. Hampir setiap pasien yang datang konsultasi dengan saya, dari anak-anak hingga orang dewasa, memiliki pola penggunaan layar yang melebihi batas yang nyaman bagi mata. Sebagian besar tidak menyadari bahwa keluhan yang mereka rasakan sebenarnya bisa dikurangi dengan perubahan kebiasaan yang sederhana,” ujarnya, Kamis (27/8).
Salah satu pemicu digital eye strain adalah berkurangnya frekuensi berkedip ketika seseorang fokus menatap layar. Padahal, berkedip berfungsi menjaga kelembapan permukaan mata serta membantu membersihkan debu dan partikel kecil.
Ketika frekuensi berkedip berkurang, mata dapat menjadi lebih kering, perih, hingga mengalami iritasi. Mata juga terus bekerja mempertahankan fokus ketika melihat objek dari jarak dekat sehingga otot mata dapat mengalami kelelahan, terutama jika aktivitas berlangsung selama berjam-jam.
Keluhan yang muncul dapat berupa penglihatan buram sesaat, sakit kepala, hingga rasa berat di sekitar mata. Ketegangan juga dapat dirasakan pada area dahi, kepala, leher, dan bahu.
Selain durasi penggunaan, posisi tubuh saat menggunakan perangkat digital juga perlu diperhatikan. Layar yang terlalu tinggi atau rendah, pencahayaan yang tidak sesuai, serta meja dan kursi yang kurang ergonomis dapat meningkatkan ketegangan pada leher, bahu, dan punggung.
Gejala digital eye strain dapat berbeda pada setiap orang. Mata dapat terasa panas, perih, gatal, atau seperti kemasukan pasir. Mata merah, sulit fokus, mudah silau, sakit kepala, serta rasa kaku pada leher dan bahu juga dapat muncul setelah terlalu lama menggunakan perangkat digital.
Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi karena mata dan otak terus menerima stimulasi visual dalam waktu panjang.
Dr. Rina mengatakan keluhan yang telah berlangsung lama terkadang berkaitan pula dengan kondisi mata yang belum mendapatkan koreksi penglihatan secara tepat.
“Yang sering saya temui adalah pasien yang sudah bertahun-tahun mengalami sakit kepala atau mata perih hampir setiap hari dan menganggap itu sebagai hal biasa. Ternyata setelah dievaluasi, ada koreksi kacamata yang belum tepat, ditambah dengan kebiasaan layar yang perlu dibenahi,” jelasnya.
Digital eye strain dapat dialami siapa saja. Namun, pekerja yang banyak menggunakan komputer, pelajar dan mahasiswa, serta anak-anak dan remaja yang rutin menggunakan gawai termasuk kelompok yang berpotensi mengalami keluhan tersebut.
Orang dengan gangguan refraksi seperti miopia, hipermetropi, atau astigmatisme yang belum mendapatkan koreksi penglihatan secara tepat juga perlu memperhatikan kondisi mata.
Untuk mengurangi kelelahan mata, pengguna perangkat digital dapat menerapkan aturan 20-20-20. Setelah menatap layar selama 20 menit, pandangan dialihkan ke objek berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama sedikitnya 20 detik.
Kebiasaan berkedip juga perlu diperhatikan untuk membantu menjaga kelembapan mata. Penggunaan air mata buatan dapat menjadi salah satu pilihan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga medis.
Pengaturan posisi layar dan kondisi ruangan juga dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan. Jarak layar disarankan sekitar 50 hingga 70 sentimeter dari mata, sedangkan bagian atas layar ditempatkan sedikit di bawah level mata.
Pengguna perangkat digital juga dapat menyesuaikan tingkat kecerahan layar dengan kondisi lingkungan, mengurangi pantulan cahaya, serta memastikan pencahayaan ruangan tetap memadai.
Pemeriksaan mata secara berkala penting dilakukan, terutama bagi pengguna kacamata. Koreksi penglihatan yang sudah tidak sesuai dapat membuat mata bekerja lebih keras ketika melihat layar.
Keluhan digital eye strain umumnya dapat berkurang setelah mata beristirahat dan kebiasaan penggunaan layar diperbaiki. Namun, pemeriksaan oleh dokter spesialis mata tetap diperlukan apabila penglihatan buram tidak membaik, sakit kepala semakin sering, mata merah berkepanjangan, atau rasa tidak nyaman terus berulang.
Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi dan pemeriksaan mata, termasuk evaluasi keluhan yang berkaitan dengan penggunaan perangkat digital serta pemeriksaan refraksi.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandy, mengatakan layanan pemeriksaan mata ditujukan untuk membantu pasien memperoleh penanganan sesuai kondisi penglihatannya.
“Oleh karena itu, Bethsaida Hospital Serang berkomitmen memberikan layanan yang komprehensif bagi pasien melalui dokter spesialis kami yang berpengalaman dan berbasis bukti agar dapat memberikan solusi yang aman dan tepat,” pungkasnya. (*)
