TANGERANG | BD — Mahasiswa tidak perlu takut mengkritik pemerintah selama kritik yang disampaikan berbasis fakta dan data. Kritik dapat disalurkan melalui berbagai medium digital, termasuk TikTok, Instagram, infografis, meme, maupun video pendek, dengan tetap memperhatikan batas hukum dan etika.
Hal tersebut disampaikan pengamat komunikasi politik sekaligus penulis buku Semiotika Media Baru, Dr. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, dalam diskusi pada acara peluncuran enam buku dosen bertajuk From Manuscript to Bookshelf di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Rabu (30/09/2026).
Menurut Indiwan, media sosial telah menjadi salah satu ruang baru bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan terhadap kebijakan dan kinerja pemerintah. Mahasiswa sebagai bagian dari kelompok intelektual muda juga memiliki ruang untuk menyampaikan kritik melalui berbagai bentuk komunikasi digital.
Namun, kebebasan tersebut, kata dia, perlu disertai tanggung jawab. Kritik harus dapat dipertanggungjawabkan secara faktual dan tidak berubah menjadi penghinaan, pencemaran nama baik, atau ujaran kebencian.
“Mahasiswa bisa saja mengkritik pemerintah, tetapi kritiknya jangan sampai melanggar UU ITE. Misalnya, apakah kritik itu menghina, mencemarkan nama baik, atau tidak berlandaskan fakta,” ujar Indiwan yang juga dosen senior Ilmu Komunikasi.
Kritik Pemerintah di Era Media Sosial
Indiwan mengatakan perkembangan media baru membuat kritik politik dapat dikemas dengan cara yang jauh berbeda dibandingkan media konvensional. Meme, poster digital, infografis, hingga video pendek dapat menjadi sarana menyampaikan pesan politik kepada publik.
Ia mencontohkan sejumlah figur pemerintahan yang kerap menjadi objek pembahasan dan kritik warganet melalui berbagai konten digital.
“Contohnya Presiden Prabowo, Menteri Bahlil dan Wapres Gibran menjadi bahan bulan-bulanan netizen lewat meme, video pendek dan infografisnya. Terkadang saya sedikit kasihan, betapa tidak berwibawanya pemerintahan sekarang,” katanya.
Menurut Indiwan, fenomena tersebut menarik dikaji melalui perspektif semiotika media baru. Konten yang beredar di media sosial tidak hanya dapat dilihat dari pesan yang tampak di permukaan, tetapi juga dari tanda, simbol dan makna yang dibangun di dalamnya.
Dengan pendekatan semiotika, kata dia, masyarakat dapat membaca pesan yang tersembunyi di balik meme, poster, foto maupun video yang beredar di ruang digital.
Mahasiswa dan Batas Kritik
Indiwan menilai mahasiswa memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi, termasuk melalui penyampaian kritik dan masukan kepada pemerintah maupun aparatur negara.
Namun, kritik perlu dibedakan dari serangan personal. Menurutnya, kritik yang kuat justru harus memiliki dasar data dan fakta sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
“Mahasiswa tidak perlu takut saat menyampaikan kritik dan masukan kepada pemerintah atau aparatur negara. Asalkan tidak melakukan penghinaan, pencemaran nama baik dan semuanya berdasarkan fakta dan data,” ujarnya saat menjawab pertanyaan mahasiswa.
Ia menambahkan, perkembangan media sosial membuat batas antara komunikasi personal dan komunikasi publik semakin tipis. Sebuah unggahan yang dibuat seseorang dapat dengan cepat tersebar dan dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Karena itu, kemampuan memahami karakter media digital menjadi penting, terutama bagi mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial sebagai ruang berekspresi dan menyampaikan gagasan.
Algoritma Ikut Menentukan Apa yang Dilihat Publik
Selain membahas kritik terhadap pemerintah, Indiwan juga menjelaskan mengenai peran algoritma dalam membentuk pengalaman pengguna di media sosial.
Menurutnya, informasi yang muncul di layar pengguna tidak sepenuhnya hadir secara acak. Di balik urutan video, berita, gambar, komentar hingga rekomendasi konten terdapat sistem algoritma yang bekerja menentukan konten mana yang lebih dahulu muncul.
Persoalan tersebut menjadi bagian penting dalam kajian semiotika media baru karena algoritma tidak hanya berfungsi sebagai teknologi pengelola informasi, tetapi juga dapat memengaruhi proses pembentukan makna di ruang digital.
Dalam buku Semiotika Media Baru: Menenun Makna di Era Digital, Indiwan menyebut algoritma sebagai “penanda yang tidak terlihat” (invisible signifier).
Konsep tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana algoritma bekerja di balik layar dalam menentukan hierarki, urutan, frekuensi dan konteks tanda yang muncul di hadapan pengguna media sosial.
“Di media sosial, pengguna setiap hari berhadapan dengan jumlah informasi yang sangat besar. Karena kapasitas perhatian manusia terbatas, platform digital membutuhkan mekanisme untuk menentukan konten yang ditampilkan kepada masing-masing pengguna,” jelasnya.
Berita Politik Juga Memiliki Tanda
Indiwan menjelaskan, persoalan algoritma juga berkaitan dengan cara masyarakat mengonsumsi berita.
Dalam perspektif semiotika, sebuah berita tidak hanya dipandang sebagai kumpulan fakta dan informasi. Judul, pilihan kata, kutipan narasumber, foto, infografis, sudut pengambilan gambar hingga tata letak merupakan tanda yang dapat membawa makna tertentu.
Dalam berita politik, misalnya, teks verbal dan visual dapat berfungsi sebagai signifier atau penanda yang membawa signified berupa gagasan, kepentingan kekuasaan maupun mitos politik tertentu.
“Perkembangan teknologi digital pada akhirnya membawa tantangan baru bagi studi komunikasi. Masyarakat tidak lagi hanya berhadapan dengan produsen pesan manusia, tetapi juga dengan sistem teknologi yang ikut mengatur distribusi pesan,” katanya.
Dalam buku tersebut, algoritma dipahami sebagai signifying agent atau agen penanda yang turut menentukan urutan konten di layar pengguna.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi memiliki posisi penting dalam proses pembentukan perhatian dan pemaknaan di ruang digital.
Karena itu, Indiwan menilai masyarakat tidak cukup hanya memahami cara menggunakan media sosial. Pengguna juga perlu memahami bagaimana tanda diproduksi, disebarkan, dipilih oleh sistem algoritma, kemudian dimaknai oleh publik.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari acara From Manuscript to Bookshelf, yang sekaligus menjadi momentum peluncuran karya enam dosen dalam bentuk buku. Kegiatan berlangsung di Gedung D lantai 20 Kampus Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Banten. (*)
