KOTA TANGSEL | BD — Menghadapi meningkatnya risiko di ruang digital, pelajar di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) didorong untuk semakin cakap, aman, dan etis dalam menggunakan media sosial. Edukasi tersebut diberikan melalui program literasi digital yang digelar Indonesia Median Foundation (IMF) bersama Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) RI serta Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Kegiatan berlangsung di SMP Islam Al-Hikmah, Kota Tangerang Selatan, Kamis (17/9/2026), sebagai Seri ke-3 program KOMPAS (Kritis, Online, Mandiri, Positif, Aman, Santun) dengan tema “Digital Resilience: Menyiapkan Pelajar Berdaya di Era Transformasi Digital.”
Program tersebut membahas berbagai tantangan yang dihadapi anak dan remaja di ruang digital, mulai dari perundungan siber (cyberbullying), penyebaran konten pribadi, child grooming, Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), hoaks, hingga dampak penggunaan teknologi digital secara berlebihan.
Direktur Utama Indonesia Median Foundation, Yulia Pratami, mengatakan penguatan literasi digital tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah.
Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, platform digital, dan peserta didik untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak.
“Edukasi KOMPAS diarahkan untuk membangun kesadaran peserta didik mengenai hak dan kewajiban di ruang digital sekaligus memperkuat peran orang tua dan guru dalam mendampingi anak,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti 42 peserta yang terdiri atas perwakilan murid, guru, tenaga kependidikan SMP Islam Al-Hikmah, serta mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Keterlibatan mahasiswa diarahkan agar mereka dapat mengembangkan program kemitraan literasi digital di desa binaan masing-masing sekaligus menjadi agen perubahan dalam meningkatkan literasi digital masyarakat.
Empat Pilar Hadapi Cyberbullying
Kepala SMP Islam Al-Hikmah, Santi Kurniawati, menyambut baik pelaksanaan program KOMPAS di lingkungan sekolah.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran warga sekolah mengenai pentingnya literasi digital sekaligus memperkuat ketahanan peserta didik dalam menghadapi perkembangan teknologi.
“Besar harapan kami bahwa melalui kegiatan ini meningkatkan kesadaran kami bersama untuk meningkatkan literasi digital sebagai upaya pencegahan fenomena penyalahgunaan digital saat ini,” kata Santi.
Sementara itu, narasumber Pandu Literasi Digital Kemkomdigi Segmen Pendidikan dan Disabilitas, M. Akhsanul Akhlaq, membahas strategi memahami dan menghentikan cyberbullying.
Akhsan mengatakan penanganan perundungan siber membutuhkan empat lapis pertahanan, yakni keluarga, sekolah, pemerintah, dan platform digital.
Keluarga menjadi garis pertahanan pertama melalui komunikasi terbuka dengan anak. Sekolah, kata dia, perlu melakukan asesmen, memberikan edukasi mengenai cyberbullying, serta menyediakan ruang aman melalui layanan bimbingan dan konseling.
Pemerintah berperan melalui penegakan hukum, penyediaan layanan darurat, dan kampanye literasi digital. Sementara platform digital diharapkan memperkuat sistem keamanan, kontrol privasi, serta mekanisme respons terhadap laporan pengguna.
“Pembelaan terhadap korban perundungan siber adalah dengan tidak diam, ikut laporkan, mendengar dan mendukung segala keresahan korban secara privat, menemani korban dalam melapor, dan mengamankan berbagai bentuk barang bukti,” ujar Akhsan.
Empat Pilar Literasi Digital
Ketua Relawan TIK Provinsi Banten, Ahmad Taufiq Jamaludin, memberikan pemahaman mengenai empat pilar literasi digital, yakni Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital.
Menurut Taufiq, keempat pilar tersebut menjadi fondasi agar masyarakat tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami aspek keamanan, etika, dan budaya dalam ruang digital.
Ia menggunakan analogi pohon untuk menjelaskan keterkaitan empat pilar tersebut.
“Empat pilar literasi digital terdiri dari Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital yang kemudian disingkat ‘CABE’ agar mudah diingat,” ujar Taufiq.
Ia menjelaskan, budaya digital menjadi akar yang menopang nilai kebangsaan dan budaya positif. Etika digital menjadi batang yang menjaga keberlangsungan penggunaan teknologi, keamanan digital berfungsi sebagai pelindung, sedangkan kecakapan digital menjadi buah yang mencerminkan kompetensi pengguna dalam memanfaatkan teknologi.
Pelajar dan Guru Diajak Bijak Menggunakan AI
Materi selanjutnya disampaikan Gilang Tresna Putra Anugrah dari Indonesia Median Foundation dengan tema “Bijak Bermedia Digital dan Penggunaan AI.”
Gilang mengingatkan peserta agar membiasakan diri berpikir sebelum membuat konten maupun memberikan komentar di media digital.
Peserta juga diajak menerapkan prinsip menyaring informasi sebelum membagikannya untuk mengurangi risiko penyebaran hoaks.
Dalam penggunaan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), Gilang mendorong murid dan guru menyepakati batas penggunaan AI sebagai alat bantu pembelajaran dan aktivitas digital dengan tetap memperhatikan etika serta hak kekayaan intelektual.
“AI juga berpotensi memberikan informasi yang keliru karena sumbernya berasal dari konten, data, dan informasi yang terhubung dengan jaringan internet,” katanya.
Karena itu, informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi sebelum digunakan maupun disebarluaskan.
Ditutup dengan Rencana Aksi Sekolah
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang melibatkan murid dan guru. Peserta membahas mitigasi serta manajemen krisis apabila terjadi penyalahgunaan teknologi digital, khususnya perundungan siber yang berdampak terhadap anak.
Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusinya dan menyusun rencana aksi sekolah untuk memperkuat literasi digital sekaligus mencegah penyalahgunaan teknologi.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, Eka Andrias, turut menyampaikan dukungan terhadap kegiatan edukasi literasi digital di sekolah.
“Ini sangat bagus, mudah-mudahan kegiatan edukasi literasi digital seperti ini bisa diselenggarakan di seluruh SMP di Kota Tangerang Selatan,” ujar Eka.
Menurut Eka, penguatan literasi digital juga dapat menjadi salah satu fondasi dalam mendukung program penetrasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di satuan pendidikan Kota Tangerang Selatan.
Program literasi digital tersebut merupakan bagian dari program Kemkomdigi RI melalui Pusat Pengembangan Literasi Digital, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemkomdigi RI.
Program tersebut menyasar sejumlah segmen, antara lain pemerintahan dan lanjut usia, pendidikan dan disabilitas, pelaku usaha dan perempuan, serta masyarakat umum dan anak.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan literasi digital melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pandu Literasi Digital Kemkomdigi, Indonesia Median Foundation melalui program KOMPAS, serta Relawan TIK Indonesia melalui program REGOS (Relawan TIK Goes to School) dan program “Gerebeg Digital” di Banten. (*)
