Identitas Tanpa Akar: Tafsir Kegelisahan dalam Budaya Media Sosial

waktu baca 4 menit
Kamis, 20 Nov 2025 12:58 313 Nazwa

KOLOM | BD — Di layar yang terus menyala,
kita menambal diri dengan serpihan citra.
Menghias luka dengan filter,
mengganti sunyi dengan unggahan,
hingga jiwa menjadi riuh oleh hal-hal yang tidak pernah memulihkan.

Kita Hidup dalam Zaman yang Mendewakan Tampilan dan Meremehkan Kedalaman

Hari ini, manusia dinilai bukan dari ketegasan sikap atau ketajaman pikirannya, tetapi dari kemampuan menciptakan impresi. Media sosial mengalihkan fokus dari inti ke kulit, dari nilai ke penampilan, dari kebenaran ke sensasi.

Semua berlomba menjadi versi terbaik dari dirinya—versi yang sebenarnya jarang ia akui sebagai dirinya sendiri.
Inilah ironi besar era digital:
kita terlihat lebih sering, tetapi mengenal diri lebih jarang.

Kita memiliki banyak foto, tetapi sedikit refleksi.
Banyak konten, tetapi kosong makna.
Banyak interaksi, tetapi miskin koneksi.

Ini bukan hanya perubahan budaya; ini erosi perlahan terhadap pusat diri.

Budaya Populer Tidak Lagi Menghibur—Ia Mengendalikan

Budaya populer kini menjadi standar baru: bagaimana kita harus hidup, tampil, merasakan, bahkan bermimpi.

Yang glamor dianggap baik.
Yang sederhana dianggap kurang.
Yang sunyi dianggap kalah.

Budaya ini memaksa kita tampil kuat meski rapuh, tampak bahagia meski kesepian, tampak penuh meski kosong.
Ia mendorong kita menjadi aktor di panggung yang penontonnya tidak peduli kita sedang tersenyum atau menjerit.

Intertekstualitas Membengkak Menjadi Krisis Diri

Pada titik ini, teks Anda masuk sebagai bagian utama pembahasan:

Manusia Adalah Produk dari Intertekstual

Manusia adalah produk dari intertekstual—
dijahit oleh kutipan, dilapisi oleh rujukan,
dibentuk oleh teks-teks yang saling menelan dan melahirkan.
Kita bukan lagi diri yang tunggal,
melainkan mosaik dari apa yang kita lihat, klik, sukai, dan ulang.

Namun di era media sosial,
intertekstualitas itu berubah menjadi ratapan identitas:
di mana budaya populer menuntut kita
menjadi potongan-potongan copy-paste
yang harus seragam agar dianggap ada.

Kita memperbarui diri seperti aplikasi,
mengganti persona seperti filter,
mengutip gaya hidup orang lain
dengan harapan menemukan diri sendiri
di antara gema yang tak pernah benar-benar milik kita.

Dan di tengah arus itu,
identitas menjadi bayang-bayang yang menipis—
sebuah timeline yang terus bergerak
tanpa memberi ruang bagi akar,
tanpa jeda untuk bertanya:
“Siapa yang berbicara melalui diriku?”
“Aku, atau kolase dunia yang kuikuti?”

Maka ratapan itu bukan tentang hilangnya keaslian,
melainkan tentang betapa mudahnya manusia menjadi teks yang lenyap
di antara lautan teks yang lebih lantang.
Sebab di era ini,
yang paling cepat viral dianggap paling benar,
dan yang paling sering diulang dianggap paling nyata.

Padahal manusia seharusnya lebih dari itu—
bukan hanya muatan yang diseret algoritma,
tapi subjek yang mampu menulis dirinya sendiri
di antara riuh rujukan dunia.

Kegelisahan Itu Nyata—Dan Ia Sedang Berteriak

Kita gelisah bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena hidup terlalu ramai.
Ramai oleh tuntutan tampil.
Ramai oleh perbandingan sosial.
Ramai oleh sorakan palsu dan kebisingan digital yang meminta kita terus ada.

Kita takut diam.
Takut hilang.
Takut tidak relevan.

Beginilah bentuk kegelisahan baru abad ini:
takut tidak terlihat, tetapi juga takut menjadi diri sendiri.

Dan kita lupa bahwa relevansi paling penting
bukan relevansi di lini masa,
tetapi relevansi di dalam diri.

Ketika Algoritma Menentukan Arah Hidup, Kita Kehilangan Kompas Batin

Algoritma tidak peduli siapa Anda.
Ia peduli pada satu hal: membuat Anda bertahan di dalamnya.

Ia menawarkan apa yang mudah disukai,
bukan apa yang membuat Anda tumbuh.
Ia menampilkan yang dangkal,
bukan yang mendalam.

Di sini, kita kehilangan kebebasan yang paling dasar:
kebebasan untuk menentukan apa yang patut masuk ke dalam jiwa.

Semakin kita mengikuti algoritma,
semakin kita menjauh dari diri yang seharusnya tumbuh.
Kita menjadi penumpang yang tidak sadar sedang digiring.

Mencari Akar: Upaya Melawan Kepalsuan yang Kita Bangun Sendiri

Untuk menemukan kembali akar diri, kita perlu keberanian untuk berhenti menjadi salinan:

Berhenti memuja impresi.
Impresi menenangkan, tetapi tidak pernah menyembuhkan.

Pilih nilai yang tidak bisa ditawar.
Nilai adalah akar. Tren adalah angin.

Belajar diam di tengah dunia yang terlalu ramai.
Keheningan adalah pintu pulang.

Jangan jadikan media sosial sebagai cermin harga diri.
Nilai manusia lebih besar dari statistik.

Tulislah dirimu sendiri.
Bukan versi yang ingin disukai orang lain.

Akhir Kata: Kita Tidak Sedang Kehilangan Dunia—Kita Sedang Kehilangan Diri

Identitas tanpa akar bukan bencana; ia peringatan.
Ia menandai bahwa kita terlalu lama mengikuti gema,
terlalu sibuk menjadi citra hingga lupa menjadi manusia.

Kita tidak butuh dunia melihat kita.
Kita butuh diri kita kembali menemukan kita.

Dan pada akhirnya, hanya ada satu pertanyaan yang tidak bisa dielakkan:
Siapa aku ketika semua layar dimatikan?

Jika Anda tahu jawabannya, Anda sedang pulang.
Jika belum, setidaknya Anda sudah mulai mencari.
Mencari adalah awal untuk kembali utuh.

Penulis: Mohamad Romli
Pimpred Bantendaily.id, penikmat teks filsafat dekonstruksi. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA