KOLOM | BD — Setiap kali Iduladha datang, ruang publik Islam hampir selalu dipenuhi narasi tentang pengorbanan, keikhlasan, dan ketakwaan. Namun di balik ritual kurban yang terus diulang setiap tahun, terdapat satu dimensi yang sering luput dibaca secara lebih mendalam: Iduladha sesungguhnya berbicara tentang problem paling mendasar dalam kehidupan manusia, yakni keterikatan.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar narasi historis tentang kepatuhan seorang nabi terhadap perintah Tuhan. Ia adalah representasi konflik batin manusia ketika harus memilih antara cinta kepada Tuhan dan keterikatan terhadap dunia yang dicintainya.
Dalam perspektif psikologi spiritual, manusia hampir selalu membangun identitas dirinya melalui sesuatu yang ia miliki dan cintai. Harta, jabatan, keluarga, reputasi sosial, bahkan pandangan orang lain terhadap dirinya, perlahan menjadi pusat orientasi hidup. Di titik tertentu, manusia tidak lagi sekadar memiliki sesuatu, tetapi justru dimiliki oleh sesuatu itu.
Di sinilah relevansi kisah Ibrahim menjadi sangat penting.
Ismail bukan sekadar anak bagi Ibrahim. Ia adalah simbol harapan panjang, kebahagiaan yang lahir di usia senja, sekaligus representasi masa depan. Ketika Allah meminta Ibrahim mengorbankan Ismail, yang sedang diuji sebenarnya bukan kemampuan menyembelih, melainkan kemampuan melepaskan keterikatan terdalam dalam dirinya.
Karena itu, kurban dalam Islam pada dasarnya tidak berhenti pada dimensi ritualistik. Al-Qur’an sendiri menegaskan:
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menarik bila dibaca dalam konteks kehidupan modern. Sebab manusia kontemporer hidup dalam peradaban yang justru dibangun di atas logika kepemilikan dan keterikatan. Nilai seseorang sering diukur dari apa yang ia punya, bukan dari kualitas batinnya. Akibatnya, manusia modern mengalami paradoks: secara material semakin memiliki banyak hal, tetapi secara spiritual justru semakin kehilangan dirinya sendiri.
Fenomena ini tampak jelas dalam budaya digital hari ini. Banyak orang rela kehilangan ketenangan demi validasi sosial. Kehidupan dipertontonkan terus-menerus agar mendapat pengakuan. Identitas perlahan bergantung pada apresiasi eksternal. Dalam situasi seperti ini, “Ismail” modern bisa hadir dalam berbagai bentuk: ambisi, citra diri, popularitas, bahkan ego spiritual.
Maka Iduladha sesungguhnya mengandung kritik halus terhadap mentalitas manusia modern yang terlalu lekat pada dunia.
Nabi Ibrahim memperlihatkan bahwa spiritualitas sejati bukan berarti membenci dunia, melainkan tidak diperbudak olehnya. Seseorang boleh mencintai keluarga, bekerja, membangun karier, bahkan menikmati kehidupan, tetapi seluruh itu tidak boleh mengambil posisi tertinggi dalam hatinya.
Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya menampilkan keteguhan Ibrahim, tetapi juga ketenangan Ismail. Ketika diberitahu tentang perintah penyembelihan, Ismail tidak merespons dengan penolakan, melainkan dengan kalimat yang sangat reflektif:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Dalam konteks etika spiritual, sikap Ismail menunjukkan satu bentuk kesadaran eksistensial yang tinggi: penerimaan terhadap kehendak Tuhan tanpa kehilangan martabat kemanusiaannya. Ia tidak pasif, tetapi sadar.
Di tengah masyarakat modern yang sangat obsesif terhadap kontrol, kisah ini terasa semakin relevan. Manusia hari ini ingin memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana: karier, relasi, ekonomi, bahkan masa depan. Namun realitas hidup sering kali bergerak di luar prediksi manusia. Tidak semua yang dicintai bisa dipertahankan. Tidak semua yang direncanakan akan berhasil.
Karena itu, Iduladha sebenarnya bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi latihan batin untuk menerima bahwa hidup selalu mengandung kemungkinan kehilangan.
Dan justru di titik itulah ketakwaan diuji: apakah manusia tetap mampu percaya kepada Tuhan ketika harus melepaskan sesuatu yang sangat dicintainya?
Mungkin karena itulah Iduladha selalu identik dengan takbir. Sebab takbir bukan sekadar lafaz ritual, melainkan deklarasi spiritual bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih besar daripada Tuhan—termasuk ego, ambisi, dan keterikatan manusia sendiri.
Pada akhirnya, Iduladha mengajarkan satu hal yang sangat mendasar: bahwa kebebasan spiritual hanya lahir ketika manusia tidak lagi menjadikan dunia sebagai pusat hatinya.
Sebab yang paling berat dalam hidup bukanlah kehilangan sesuatu, melainkan melepaskan keterikatan terhadapnya.
Penulis: Mohamad Romli
Penikmat Teks Filsafat dan Tasawuf, Pemimpin Redaksi BantenDaily, Jamaah Majelis Dzikir Abah-Qu 37 Kota Tangerang, Ikhwan Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya. (*)
