Site icon BantenDaily

IPPC Balaraja Bedah Buku Paulo Freire, Menggugat Pendidikan yang Membelenggu Pikiran

IPPC Cengkok bedah buku Paulo Freire di Tangerang, menggugat pendidikan yang membelenggu pikiran dan mendorong tumbuhnya nalar kritis anak.

Diskusi bedah buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire yang digelar Ikatan Pemuda Pemudi Cengkok (IPPC), Balai Adat Balaraja, dan TBM Cengkok Cerdas Mandiri di Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Sabtu (17/10/2026). Diskusi membahas pentingnya pendidikan yang membebaskan pikiran dan menumbuhkan daya kritis peserta didik. (Foto: Ist)

TANGERANG | BD — Ikatan Pemuda Pemudi Cengkok (IPPC) bersama Balai Adat Balaraja dan TBM Cengkok Cerdas Mandiri menggelar diskusi bedah buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire untuk menggugat pola pendidikan yang membelenggu pikiran dan membatasi daya kritis peserta didik. Diskusi yang berlangsung di Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (17/10/2026), menyoroti pentingnya pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan anak.

Diskusi menghadirkan Dedeh Kartika Sari, tokoh pendidikan; Dr. Qomaruzzaman, Dewan Pendidikan Kabupaten Tangerang; serta Ade Irawan, mantan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW). Acara dipandu Indri Apriyanti, pemudi IPPC.

Buku Pendidikan Kaum Tertindas mengajak pembaca mempertanyakan kembali tujuan pendidikan. Apakah sekolah benar-benar membantu anak memahami kehidupan, atau justru membuat mereka sibuk menghafal materi, mengejar nilai, dan mengulang jawaban yang dianggap benar?

Paulo Freire mengkritik model pendidikan gaya bank (banking education), yakni pola pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pemilik pengetahuan dan murid sebagai penerima pasif. Dalam model ini, guru menyampaikan materi, sedangkan murid dituntut mendengarkan, menghafal, dan mengulang informasi. Ruang untuk bertanya, berdialog, serta mengembangkan pemikiran mandiri berisiko terpinggirkan.

Bagi Freire, pendidikan semestinya tidak berhenti pada pemindahan pengetahuan. Pendidikan harus membantu manusia membaca realitas, membangun kesadaran kritis, dan memahami berbagai persoalan yang memengaruhi kehidupannya.

Gagasan tersebut menjadi relevan ketika pendidikan masih kerap diukur melalui nilai, pencapaian akademik, dan banyaknya materi yang dikuasai. Padahal, kemampuan menghafal tidak selalu sejalan dengan kemampuan memahami persoalan, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, atau mengambil sikap terhadap ketidakadilan.

Dr. Qomaruzzaman menyoroti kecenderungan pendidikan yang membebani peserta didik dengan terlalu banyak materi. Ia juga mempertanyakan penyeragaman pembelajaran yang kurang mempertimbangkan perbedaan kondisi sekolah di daerah dan perkotaan.

“Coba lihat mata pelajaran SD kelas 1. Buku yang mereka bawa sangat banyak. Materinya pun hampir setara materi SMP kelas 1. Sangat berat, kasihan anak-anak,” tegas Qomaruzzaman.

Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa di balik tumpukan buku dan target pembelajaran, terdapat anak-anak yang sedang tumbuh dan mengenali dunia. Mereka membutuhkan pengetahuan, tetapi juga memerlukan ruang untuk bermain, bertanya, bereksplorasi, dan mengembangkan rasa ingin tahu.

Ketika pendidikan terlalu berorientasi pada target, kegembiraan belajar berisiko terabaikan. Anak mungkin mampu menghafal banyak materi, tetapi belum tentu memahami maknanya. Mereka mungkin memperoleh nilai tinggi, tetapi belum tentu berani menyampaikan pendapat atau mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak adil.

Karena itu, persoalan pendidikan bukan sekadar seberapa banyak materi yang diajarkan, melainkan bagaimana proses belajar membantu anak tumbuh menjadi manusia yang mampu berpikir mandiri.

Dedeh Kartika Sari menekankan pentingnya kreativitas guru dalam membangun pembelajaran yang dialogis dan bermakna. Menurut Kepala SD Cibugel 1 tersebut, pemikiran Freire relevan diterapkan di sekolah apabila guru bersedia terus belajar, memahami kondisi peserta didik, dan tidak terpaku pada metode pembelajaran yang monoton.

“Kalau guru-gurunya mau terus belajar dan memahami kondisi murid, sekolah bisa menjadi garda terdepan untuk melakukan perubahan,” ujarnya.

Guru, dalam konteks ini, bukan sekadar penyampai materi, melainkan pendamping yang membantu peserta didik menemukan pemahaman. Guru tetap berperan membimbing, tetapi juga perlu membuka ruang bagi murid untuk mengemukakan pendapat, menguji gagasan, dan belajar dari pengalaman.

Perubahan tersebut tentu tidak bisa dibebankan kepada guru semata. Sistem pendidikan juga perlu memberikan dukungan dan keleluasaan agar proses pembelajaran tidak terjebak dalam rutinitas administratif serta tuntutan menuntaskan materi.

Sementara itu, Ade Irawan menghubungkan pemikiran Freire dengan gagasan sejumlah tokoh pendidikan Indonesia, seperti Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Sjafei, dan Tan Malaka. Ia menyoroti pentingnya pendidikan yang memerdekakan manusia, bukan sistem pembelajaran yang menekan potensi anak melalui paksaan dan penyeragaman berlebihan.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara, misalnya, menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Anak bukan objek yang dapat dibentuk sesuka hati, melainkan manusia yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Semangat tersebut sejalan dengan gagasan Freire yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Mereka tidak cukup hanya menerima informasi, tetapi perlu dilibatkan secara aktif untuk memahami realitas dan mengembangkan kesadaran terhadap lingkungan sosialnya.

Pendidikan yang membebaskan bukan berarti menghilangkan disiplin atau membiarkan anak belajar tanpa arah. Pendidikan tetap membutuhkan bimbingan, aturan, dan tanggung jawab. Namun, kedisiplinan tidak harus dibangun melalui ketakutan, sementara penghormatan kepada guru tidak berarti murid kehilangan hak untuk bertanya.

Berpikir kritis juga bukan berarti menolak setiap pendapat. Sebaliknya, kemampuan tersebut membantu anak memeriksa informasi, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, menguji alasan, dan mengambil kesimpulan secara bertanggung jawab.

Diskusi bedah buku yang digelar IPPC Cengkok bersama para mitra penyelenggara itu menjadi ruang untuk merefleksikan kembali tujuan pendidikan. Perubahan tidak cukup dilakukan dengan mengganti kurikulum, menambah perangkat digital, atau memperbanyak materi pelajaran. Lebih dari itu, diperlukan perubahan cara pandang terhadap anak, pengetahuan, guru, dan proses belajar.

Sekolah bukan hanya tempat mempersiapkan anak untuk memperoleh pekerjaan atau memenuhi kebutuhan dunia industri. Sekolah juga merupakan ruang bagi mereka untuk mengenali diri, belajar hidup bersama orang lain, memahami ketidakadilan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Keberhasilan pendidikan pun tidak cukup diukur melalui nilai rapor, gelar akademik, atau banyaknya materi yang dikuasai. Hal yang lebih mendasar adalah apakah pendidikan membantu manusia menjadi lebih sadar, mandiri, dan mampu menghargai sesamanya.

Anak yang hanya diajari menghafal mungkin tumbuh menjadi pribadi yang pandai mengikuti instruksi. Namun, anak yang diberi ruang untuk bertanya, berdialog, dan memahami kenyataan memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi manusia yang mampu menentukan sikap serta bertanggung jawab atas pilihannya.

Pada akhirnya, pendidikan tidak semestinya hanya menyiapkan anak untuk menyesuaikan diri dengan dunia sebagaimana adanya. Pendidikan juga perlu membekali mereka dengan pengetahuan, keberanian, dan kepedulian untuk memperbaiki dunia.

Sebab, anak bukan mesin penghafal. Mereka adalah manusia yang pikirannya perlu ditumbuhkan, rasa ingin tahunya perlu dirawat, dan keberaniannya perlu diberi ruang. Pendidikan menemukan maknanya ketika mampu membebaskan pikiran sekaligus memanusiakan manusia. (*)

Exit mobile version