Kemiskinan di Indonesia Menurut Perspektif Kaum Elit

waktu baca 3 menit
Rabu, 17 Des 2025 21:53 100 Nazwa

OPINI | BD — Kemiskinan adalah kondisi di mana seseorang atau kelompok masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan akses terhadap kesempatan ekonomi. Di Indonesia, kemiskinan bukan sekadar masalah ekonomi; ia juga terkait dengan ketidaksetaraan sosial, struktur kebijakan, dan distribusi kekayaan yang timpang. Dari perspektif kaum elit—baik elit politik, birokrasi, maupun ekonomi—kemiskinan kerap dipandang sebagai “tantangan pembangunan” yang harus diatasi melalui program dan strategi nasional.

Namun, pendekatan ini kerap mengabaikan sisi kemanusiaan dari persoalan yang dihadapi masyarakat miskin sehari-hari. Kemiskinan bukan sekadar angka statistik yang bisa diselesaikan dengan kebijakan top-down; ia adalah realitas hidup yang memerlukan pemahaman lebih dalam tentang dinamika sosial, budaya, dan ekonomi di lapangan.

Permasalahan dari Sudut Pandang Kaum Elit

Kaum elit sering mengidentifikasi beberapa faktor penyebab kemiskinan di Indonesia:

  • Ketimpangan Akses Ekonomi
    Kelompok kaya memiliki akses luas terhadap modal, teknologi, dan jaringan bisnis, sementara masyarakat miskin sulit keluar dari lingkaran kemiskinan karena minimnya sumber daya.
  • Rendahnya Pendidikan dan Keterampilan
    Keterbatasan pendidikan dan keterampilan membuat masyarakat miskin sulit bersaing dalam pasar kerja modern yang semakin kompetitif.
  • Kebijakan yang Kurang Efektif
    Program pengentasan kemiskinan sering tidak tepat sasaran atau bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu.
  • Ketimpangan Wilayah
    Pembangunan yang masih terpusat di kota besar meninggalkan daerah terpencil jauh tertinggal, sehingga masyarakat di sana terperangkap dalam kemiskinan struktural.

Solusi yang Ditawarkan Kaum Elit

Melalui kaca mata elit, beberapa solusi yang kerap dikampanyekan meliputi:

  • Peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan untuk mencetak tenaga kerja kompetitif.
  • Reformasi kebijakan sosial dan ekonomi, agar subsidi dan jaminan sosial tepat sasaran.
  • Pemerataan pembangunan, dengan mengarahkan investasi ke wilayah tertinggal.
  • Pemberdayaan masyarakat, melalui penguatan UMKM dan koperasi dengan bantuan modal serta pendampingan.

Meski solusi ini terdengar logis secara makro, implementasinya seringkali tidak menyentuh akar masalah di tingkat masyarakat kecil.

Refleksi Mahasiswa: Mendengar Suara Rakyat

Dari perspektif mahasiswa yang mencoba menilik lebih dekat realitas sosial, kemiskinan tidak bisa hanya dipandang sebagai tantangan pembangunan makro. Ia adalah persoalan kemanusiaan yang membutuhkan pendekatan partisipatif dan empati. Kaum elit perlu lebih banyak mendengar suara rakyat kecil, memahami kebutuhan dan aspirasi mereka, dan merancang program yang benar-benar relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kemiskinan bukan hanya soal angka atau statistik; ia soal kehidupan manusia yang layak dan kesempatan yang setara. Sejatinya, pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang mampu menurunkan kemiskinan dengan menghargai martabat dan suara mereka yang paling merasakannya.

Penulis: Dzaki Firdaus
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA