Site icon BantenDaily

Mengajar Bahasa Inggris di Negeri Orang: Paradoks Mahasiswa PBSI UMT di Thailand

Mahasiswa PBSI UMT mengajar Bahasa Inggris di Thailand, refleksi peran pendidik lintas budaya dan relevansi pendidikan global.

Belajar lintas bahasa, bertumbuh lintas budaya.Senyum-senyum kecil ini menjadi saksi bahwa pendidikan tak mengenal batas negara—di Krabi, Thailand, ruang kelas berubah menjadi ruang perjumpaan, tempat bahasa, nilai, dan harapan saling bertukar. (Foto: Dok. Penulis)

KOLOM | BD — Di tengah meningkatnya mobilitas mahasiswa Indonesia ke luar negeri melalui program PPL dan KKN internasional, muncul fenomena menarik: mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) justru mengajar Bahasa Inggris di sekolah-sekolah di Krabi, Thailand. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar—apakah peran mahasiswa PBSI mulai bergeser, atau justru semakin relevan dalam konteks pendidikan global?

Sebagai mahasiswa PBSI yang mengajar Bahasa Inggris di Thailand, saya berpendapat bahwa fenomena ini bukanlah bentuk penyimpangan kompetensi. Sebaliknya, hal ini mencerminkan fleksibilitas, kemampuan adaptasi, serta urgensi peran pendidik Indonesia di kancah internasional. Mahasiswa PBSI tidak hanya membawa identitas kebahasaan nasional, tetapi juga nilai-nilai pedagogis yang bersifat universal.

Pertama, secara pedagogis, mahasiswa PBSI dibekali kemampuan dasar pengajaran bahasa, mulai dari perencanaan pembelajaran, pengelolaan kelas, hingga penerapan pendekatan komunikatif. Kompetensi ini bersifat lintas bahasa. Dalam konteks mengajar Bahasa Inggris di Thailand, mahasiswa PBSI tidak semata mentransfer kosakata dan struktur bahasa, melainkan juga menerapkan strategi pembelajaran yang humanis dan kontekstual.

Kedua, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak sekolah di Thailand, khususnya di tingkat dasar, lebih membutuhkan guru yang mampu mengajar secara komunikatif dan menyenangkan daripada penguasaan bahasa tingkat lanjut. Di sinilah mahasiswa PBSI memiliki keunggulan, terutama melalui pengalaman mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) serta pemahaman terhadap kesulitan yang dihadapi pembelajar pemula.

Ketiga, pengalaman ini memperluas perspektif mahasiswa PBSI tentang bahasa sebagai alat komunikasi global. Mengajar Bahasa Inggris di Thailand justru memperkuat kesadaran akan posisi bahasa Indonesia di tengah persaingan bahasa dunia. Mahasiswa belajar bahwa pengajaran bahasa tidak hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana diplomasi budaya dan pembentukan sikap saling menghargai.

Meski demikian, tantangan tetap hadir. Perbedaan budaya belajar, keterbatasan bahasa pengantar, serta ekspektasi sekolah sering kali menuntut mahasiswa bekerja lebih keras. Tanpa persiapan yang matang, kondisi ini berpotensi menimbulkan krisis kepercayaan diri. Oleh karena itu, dukungan institusi pendidikan tinggi menjadi krusial, terutama melalui pembekalan lintas budaya dan penguatan kompetensi bahasa asing.

Mengajar Bahasa Inggris di Thailand bagi mahasiswa PBSI bukanlah sebuah ironi, melainkan peluang reflektif. Pengalaman ini membuktikan bahwa lulusan PBSI memiliki daya saing dan fleksibilitas dalam dunia pendidikan global. Sudah saatnya paradigma pendidikan bahasa diperluas: guru bahasa adalah pendidik lintas budaya, bukan sekadar pengajar satu bahasa. Jika dikelola dengan baik, pengalaman ini justru akan memperkuat identitas mahasiswa PBSI sebagai agen literasi dan diplomasi budaya Indonesia.

Penulis: Khalisha Ana Nailah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)

Exit mobile version