Site icon BantenDaily

Nevio Zabry Rezyidco, Mahasiswa UMT yang Raih Juara 1 Orasi Kebangsaan Kota Tangerang

Nevio Zabry Rezyidco, mahasiswa UMT, meraih juara 1 orasi kebangsaan Kota Tangerang dengan mengangkat isu demokrasi dan aspirasi rakyat.

Nevio Zabry Rezyidco, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), menunjukkan piagam penghargaan setelah meraih Juara 1 Lomba Orasi Kebangsaan tingkat Kota Tangerang .Foto: Ist)

TANGERANG | BD — Nevio Zabry Rezyidco, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), meraih juara 1 Lomba Orasi Kebangsaan tingkat Kota Tangerang. Melalui orasinya tentang demokrasi, partisipasi publik, dan kedaulatan rakyat, Nevio menyuarakan pentingnya kebebasan berpendapat serta keterlibatan masyarakat dalam kehidupan bernegara.

Lomba tersebut diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Tangerang dan DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tangerang pada Selasa (27/10/2026). Penyerahan hadiah berlangsung dalam upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Alun-Alun Kota Tangerang, Rabu (28/10/2026). Hadiah diserahkan langsung oleh Wali Kota Tangerang, Sachrudin.

Nevio mengatakan, keikutsertaannya dalam lomba tersebut dilatarbelakangi pandangannya bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, termasuk mendorong pemerintah agar mendengarkan berbagai persoalan publik.

Menurutnya, lomba orasi menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan pandangan mengenai kebijakan pemerintah melalui cara yang berbeda, tetapi tetap berorientasi pada kepentingan publik.

“Ini menjadi satu langkah lebih maju agar mahasiswa atau masyarakat umumnya bisa menyuarakan aspirasinya terkait beberapa kebijakan yang perlu didengar oleh pemerintah. Itu yang menjadi motivasi saya, yaitu satu langkah lebih maju dengan cara yang berbeda dan tetap beresensi untuk kepentingan masyarakat,” ujar Nevio.

Dalam orasinya, Nevio mengangkat tema demokrasi, partisipasi publik, dan kedaulatan rakyat. Ia menekankan bahwa demokrasi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai penyelenggaraan pemilihan umum setiap lima tahun sekali.

“Pemerintah harus bisa menilai demokrasi bukan hanya sekadar pemilu yang diselenggarakan lima tahun sekali. Jangan sampai demokrasi hanya identik dengan kotak suara, kertas suara, dan bilik suara. Demokrasi harus dinilai dengan kacamata yang lebih besar dan sudut pandang yang berbeda,” katanya.

Nevio menjelaskan, kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi menjadi salah satu alasan dirinya mengangkat tema tersebut. Ia juga menyinggung sejumlah peristiwa yang menurut pandangannya menunjukkan pentingnya ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, termasuk aksi aktivis lingkungan dan persoalan penahanan politik yang disorotnya dalam orasi.

Bagi Nevio, demokrasi tidak cukup berhenti pada prosedur pemilihan pemimpin. Demokrasi juga perlu diwujudkan melalui ruang partisipasi publik yang terbuka serta kesediaan pemerintah mendengarkan kritik dan aspirasi masyarakat.

Terkait proses perlombaan, Nevio mengungkapkan bahwa persiapannya berjalan relatif lancar karena informasi mengenai kompetisi telah disampaikan jauh sebelum pelaksanaan. Tantangan muncul ketika memasuki babak grand final, saat peserta memperoleh materi secara mendadak.

“Kami perlu melakukan riset ulang mengenai beberapa kebijakan pemerintah. Namun, alhamdulillah, prosesnya berjalan lancar karena beberapa hal sudah pernah kami sampaikan bersama rekan-rekan mahasiswa dalam kesempatan aksi sebelumnya,” ungkapnya.

Selain berbicara tentang demokrasi, Nevio menyoroti peran generasi muda dalam mengawal kepemimpinan. Ia mengibaratkan tanggung jawab tersebut sebagai tongkat estafet yang harus dijaga hingga tiba di tangan generasi berikutnya.

Menurutnya, generasi muda tidak hanya perlu mempersiapkan diri untuk menerima kepemimpinan, tetapi juga mengawasi jalannya pemerintahan, memperbaiki hal-hal yang dinilai bermasalah, serta menjaga capaian yang sudah baik agar dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya.

“Peran generasi muda adalah menjaga tongkat estafet kepemimpinan yang saat ini belum sampai di tangan mereka, agar tidak rusak di tengah jalan. Jika tongkat itu dinilai rusak, tugas kita memperbaikinya. Sementara yang sudah baik harus dijaga hingga sampai kepada generasi berikutnya,” tuturnya.

Bagi Nevio, keberhasilan meraih juara pertama merupakan bentuk rasa syukur, bukan akhir dari perjuangan menyuarakan kepentingan masyarakat. Sebaliknya, prestasi tersebut menjadi dorongan untuk terus mencari cara yang lebih efektif dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.

“Juara ini bukan akhir atau alasan untuk berhenti memperjuangkan harapan masyarakat. Justru kami sebagai mahasiswa perlu mencari metode dan cara baru agar aspirasi masyarakat sampai ke telinga pemerintah dengan langkah yang lebih cepat dan relevan,” tegasnya.

Nevio berharap pencapaiannya dapat menjadi bagian dari semangat kolektif mahasiswa UMT untuk terus mengembangkan potensi, memperkuat tradisi intelektual, dan berani berkompetisi di berbagai bidang.

Ia meyakini kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

Prestasi Nevio diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa UMT lainnya untuk terus mengasah kemampuan, berani menyampaikan gagasan, serta berpartisipasi aktif dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat. (Red)

Exit mobile version