Site icon BantenDaily

Pendidikan Literasi di Pelosok Negeri: Masalah yang Masih Diabaikan

Opini tentang tantangan literasi di daerah pelosok, peran guru, kesenjangan pendidikan, dan pentingnya literasi bermakna.

Sejumlah anak membaca buku di perpustakaan sederhana di daerah pelosok, mencerminkan semangat literasi di tengah keterbatasan akses dan sarana pendidikan. (Gambar: gramedia.com)

OPINI | BD — Pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik untuk bertanya, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan. Melalui proses inilah pengalaman belajar yang bermakna terbentuk. Hakikat pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter, sikap, serta keterampilan hidup yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun demikian, literasi masih menjadi permasalahan mendasar dalam dunia pendidikan Indonesia, terutama di berbagai daerah pelosok. Di tengah gencarnya program peningkatan mutu pendidikan, kesenjangan literasi antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil masih terasa nyata. Permasalahan ini bukan semata-mata disebabkan oleh rendahnya minat baca, tetapi juga oleh keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, sarana pendukung, serta pendampingan literasi yang berkelanjutan.

Persoalan literasi juga berkaitan erat dengan kualitas pembelajaran. Peserta didik yang memiliki kemampuan literasi rendah cenderung mengalami kesulitan dalam memahami instruksi, menganalisis informasi, serta mengemukakan gagasan secara kritis. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi tidak optimal dan berdampak pada hasil belajar di berbagai mata pelajaran. Literasi seharusnya tidak dipahami hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga sebagai kemampuan berpikir, memahami, serta memaknai informasi secara mendalam.

Di daerah pelosok, peran guru menghadapi tantangan yang tidak ringan. Keterbatasan pelatihan dan akses pengembangan profesional membuat inovasi pembelajaran literasi sulit berkembang. Guru sering kali dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi yang serba terbatas, tanpa dukungan sumber belajar yang memadai. Meskipun demikian, tidak sedikit guru yang tetap berupaya membangun budaya literasi melalui cara-cara sederhana, seperti kegiatan membaca bersama, diskusi teks kontekstual, atau pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

Ke depan, upaya peningkatan literasi perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius. Pemerintah seharusnya memastikan bahwa setiap pelosok daerah memperoleh akses yang adil terhadap fasilitas pendidikan dan distribusi bahan bacaan yang layak. Program literasi juga perlu disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat agar lebih relevan dan bermakna bagi peserta didik. Selain itu, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menumbuhkan budaya literasi di luar lingkungan sekolah.

Literasi merupakan kunci untuk memahami dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat. Tanpa kemampuan literasi yang kuat, peserta didik di daerah pelosok akan terus tertinggal, dan kesenjangan pendidikan akan semakin melebar. Sudah saatnya literasi tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang menjangkau seluruh pelosok negeri.

Penulis : Putri Mariyah Ulfah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)

Exit mobile version