Ilustrasi oleh BantenDaily.idKOLOM | BD — Di hadapan arus waktu, manusia kerap terjebak dalam ilusi bahwa hidup hanyalah rangkaian detik yang terus bergerak maju. Padahal waktu bukan semata urutan kronologis; ia adalah ruang batin tempat kesadaran tumbuh, bekerja, dan menemukan dirinya sendiri. Kita tidak hidup hanya karena jarum jam berpindah, tetapi karena kesadaran kita hadir.
Setiap pagi ketika mata terbuka, ada jeda hening yang sering kita lewatkan begitu saja. Pada saat itulah seharusnya rasa syukur terbit paling jernih: kita kembali diberi kesempatan untuk hidup, menghirup udara, dan meneruskan perjalanan yang belum selesai. Kesadaran sederhana ini, bila dirawat, menjadi fondasi bagi seluruh hari.
Pagi adalah undangan—undangan untuk membangun kesadaran baru bahwa hari ini adalah kesempatan yang sangat mahal: kesempatan yang tak dapat ditukar, dan tak akan pernah kembali. Kesempatan untuk melakukan yang terbaik semampu kita; untuk menyembah Tuhan, berbuat baik kepada sesama, serta menjaga diri dari berbagai kemungkinan tergelincir oleh kelengahan, hawa nafsu, atau kesalahan.
Waktu yang hakiki bukanlah yang tercatat di kalender, melainkan yang terbit di hati. Yaitu saat kita sadar bahwa hidup ini sepenuhnya anugerah:
anugerah diadakan/diciptakan oleh Tuhan (ijad),
anugerah dipelihara dan dicukupi oleh Tuhan (imdad).
Kesadaran itu membebaskan kita dari kecemasan berlebih. Ketika segala sesuatu ditambatkan kepada Tuhan— Faqoh, tempat bersandar paling kukuh—jiwa kembali menemukan keteguhannya.
Namun, di era media sosial, kesadaran semacam ini dengan mudah terkikis. Kita hidup dalam dunia yang riuh, yang setiap detiknya menawarkan distraksi, opini, perbandingan, dan sensasi tanpa henti. Dalam kebisingan konten, diri kita mudah tercerai; terlepas dari pusatnya; larut menjadi sekadar bayangan dari algoritma.
Di sinilah pentingnya menjadi manusia sadar : manusia yang hadir utuh dalam dirinya, tidak menyusut menjadi sekadar “akun” atau “pengguna”, dan tidak terperangkap menjadi sosok anonim yang kehilangan orientasi batin. Hidup detik demi detik sejatinya adalah laku menjaga kewarasan—upaya menahan diri agar tidak hanyut dalam arus dunia yang terus berusaha melumat identitas kita.
Kesadaran adalah kompas. Tanpanya kita berjalan, tetapi tidak menuju apa-apa.
Dengan kesadaran, kita hidup dalam anugerah, bukan dalam kecemasan.
Dengan kesadaran, kita memilih, bukan sekadar bereaksi.
Dengan kesadaran, kita kembali menjadi manusia—bukan bayangan dari dunia maya yang kita ciptakan sendiri.
Pada akhirnya, yang paling hakiki bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan seberapa sadar kita menjalani kehidupan itu. Di tengah riuhnya dunia digital, kesadaran menjadi bentuk ibadah, bentuk perlindungan, dan bentuk cinta kepada hidup yang Tuhan titipkan. (Tim Redaksi)
Tidak ada komentar