Site icon BantenDaily

Relevansi Pemikiran Aristoteles tentang Manusia sebagai Makhluk Sosial di Provinsi Banten

Opini tentang pergeseran ikatan sosial masyarakat Banten akibat industrialisasi, menyoroti pentingnya ruang sosial agar pembangunan tetap berkeadaban.

Nur Miswati. (Foto: Dok. Pribadi)

OPINI | BD — Banten terkenal memiliki ikatan sosial yang kuat. Tradisi keagamaan, kehidupan berdesa, dan budaya gotong royong membentuk masyarakat yang hidup bersama dan saling mendukung. Namun, perubahan sosial akibat industri dan perkotaan perlahan mengubah cara hidup warga di beberapa wilayah.

Di kawasan industri seperti Cikande, Kabupaten Serang, perubahan ini dapat dirasakan nyata. Aktivitas kerja terus-menerus, suasana hidup cepat, dan interaksi sosial yang terbatas membuat banyak warga pulang dalam keadaan lelah dan memilih beristirahat daripada ikut kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Situasi ini bukan kesalahan individu, melainkan dampak dari gaya hidup industri yang menguras waktu dan energi.

Pergeseran ini menunjukkan perubahan dari kehidupan sosial yang bersifat komunal menuju pola hidup yang lebih individual. Meski tinggal berdekatan, warga jarang berinteraksi. Hubungan sosial cenderung berbasis fungsi, bukan perasaan. Jika terus berlanjut, masyarakat berisiko kehilangan kepribadian sosialnya.

Aristoteles menyatakan bahwa manusia adalah zoon politikon, makhluk yang hanya dapat berkembang secara sempurna dalam komunitas. Menurutnya, manusia tidak hidup semata untuk bekerja, melainkan untuk menjalani kehidupan yang bermakna melalui hubungan sosial dan nilai-nilai kebajikan. Dalam konteks Banten, pemikiran Aristoteles ini menjadi sangat relevan. Jika pembangunan hanya berfokus pada aspek ekonomi dan industri tanpa memperhatikan dimensi sosial, masyarakat mungkin tampak maju secara fisik, tetapi rapuh secara sosial.

Oleh karena itu, pembangunan di Banten harus diiringi dengan peningkatan ruang-ruang sosial. Pemerintah daerah perlu menyediakan lebih banyak ruang publik, kegiatan sosial yang melibatkan warga, serta program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan industri. Industri seharusnya tidak memutus ikatan sosial, melainkan ikut berkontribusi dalam membangun lingkungan yang sehat secara sosial.

Pendidikan juga memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial. Nilai empati, sikap peduli, dan karakter sosial perlu diperkuat agar masyarakat tetap peka terhadap kehidupan bersama di tengah arus modernisasi. Banten tidak hanya membutuhkan gedung dan pabrik, tetapi juga hubungan sosial yang sehat. Pemikiran Aristoteles mengingatkan bahwa manusia akan kehilangan makna hidup ketika terpisah dari komunitas. Banten akan menjadi kuat bukan hanya karena industrinya, melainkan karena masyarakatnya yang saling mendukung.

Pada akhirnya, tantangan terbesar pembangunan di Banten bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan menjaga agar ikatan sosial tidak runtuh oleh kesibukan dan persaingan. Masyarakat tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri-sendiri dalam hiruk-pikuk dunia industri. Kehidupan sosial harus kembali ditempatkan sebagai fondasi, bukan sekadar pelengkap. Pemikiran Aristoteles seakan memberi peringatan bahwa kemajuan tanpa kebersamaan akan melahirkan keterasingan, bukan kesejahteraan. Ketika hubungan antarwarga melemah, kekuatan sosial pun ikut rapuh. Karena itu, arah pembangunan di Banten perlu dikoreksi agar tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga kualitas kehidupan bersama.

Banten yang maju sejatinya adalah Banten yang masyarakatnya masih saling mengenal, saling peduli, dan saling menopang. Di situlah letak kekuatan daerah ini yang sesungguhnya: bukan semata pada pabrik dan jalan raya, melainkan pada manusia dan nilai-nilai sosial yang hidup di dalamnya.

Penulis:
Nur Miswati, Mahasiswi Jurusan Administrasi Negara, Universitas Pamulang Kampus Serang

Dosen Pengampu:
Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P

Kepala Program Studi:
Zakaria Habib Al-Razie, S.IP., M.Sos. (*)

Exit mobile version