Site icon BantenDaily

Rukun Haji dalam Perspektif Tasawuf dan Nilai Tanbih TQN Suryalaya

Makna ruhani haji dalam tasawuf TQN Suryalaya, perjalanan hati menuju Allah lewat akhlak, dzikir, dan kasih sayang.

Mohamad Romli. (Foto: Dok. Pribadi Penulis)

RELIGI | BD — Haji pada dasarnya bukan hanya perjalanan menuju tanah suci. Lebih dari itu, haji adalah perjalanan pulang seorang hamba menuju Allah. Yang berjalan bukan hanya kaki, tetapi juga hati. Yang diuji bukan hanya fisik, tetapi juga ego, kesabaran, keikhlasan, dan kemampuan manusia untuk membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk.

Dalam dunia tasawuf, setiap rukun haji memiliki makna batin yang sangat dalam. Semua ritual yang tampak secara lahir sebenarnya adalah simbol perjalanan ruhani manusia. Nilai-nilai itu juga sangat dekat dengan ajaran dalam Tanbih Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya yang diwariskan Syaikh Abdullah Mubarok dan dilanjutkan oleh KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin.

Tanbih tidak hanya berbicara tentang dzikir dan ibadah, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga hati, menghormati sesama, mengendalikan nafsu, dan hidup damai di tengah masyarakat. Karena hakikat tarekat bukan sekadar banyaknya wirid, melainkan perubahan akhlak.

Ihram: Belajar Menanggalkan Keakuan

Ketika seseorang memakai pakaian ihram di Masjidil Haram, semua identitas dunia seolah dilepas. Tidak terlihat lagi siapa pejabat, siapa orang kaya, siapa rakyat biasa. Semua memakai pakaian yang sama. Semua berdiri sebagai hamba.

Dalam tasawuf, ihram bukan sekadar mengganti pakaian, tetapi latihan menanggalkan kesombongan dan rasa “aku”. Sebab sering kali yang paling sulit dilepas manusia bukan hartanya, melainkan egonya.

Karena itu Tanbih Suryalaya mengingatkan agar manusia jangan sampai terpaut oleh bujukan nafsu dan godaan setan. Nafsu tidak selalu berbentuk keinginan duniawi. Kadang ia hadir dalam bentuk merasa paling benar, paling suci, atau paling tinggi dibanding orang lain.

Abah Anom juga pernah berpesan:

“Jangan benci kepada ulama sezaman.”
“Jangan menyalahkan kepada pengajaran orang lain.”

Pesan ini terasa sangat dalam. Sebab orang yang benar-benar sedang berjalan menuju Allah biasanya tidak sibuk merendahkan orang lain. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri.

Hakikat ihram adalah ketika hati mulai belajar rendah. Tidak mudah menghakimi. Tidak merasa lebih dekat kepada Tuhan dibanding orang lain.

Wukuf di Arafah: Saat Manusia Berhadapan dengan Dirinya Sendiri

Puncak haji adalah wukuf di Arafah. Di tempat itu jutaan manusia berkumpul dalam keadaan sederhana. Semua membawa dosa, harapan, dan doa masing-masing.

Dalam tasawuf, Arafah adalah tempat manusia mengenal dirinya sendiri. Tempat seseorang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia lalu bertanya kepada hatinya: “Apa sebenarnya yang selama ini aku cari?”

Di titik ini, manusia sering sadar bahwa hidupnya terlalu sibuk mengejar dunia, tetapi lupa menenangkan jiwanya sendiri.

Tanbih Suryalaya mengajarkan pentingnya meneliti diri sendiri. Jangan terlalu sibuk melihat kesalahan orang lain. Sebab penyakit hati sering tumbuh dari kebiasaan merasa diri lebih baik.

Karena itu Abah Anom berpesan:

“Jangan memeriksa murid orang lain.”

Kalimat sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Banyak konflik lahir karena manusia lebih senang mengoreksi orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri.

Wukuf mengajarkan bahwa jalan menuju Allah dimulai dari kejujuran melihat kelemahan diri.

Tawaf: Mengelilingi Allah dengan Hati

Saat manusia bertawaf mengelilingi Ka’bah, sebenarnya ia sedang diajarkan tentang pusat kehidupan. Bahwa hidup ini jangan lagi berputar pada ego, ambisi, atau pujian manusia, tetapi berpusat kepada Allah.

Dalam tasawuf, tawaf adalah simbol cinta. Hati seorang mukmin seharusnya terus bergerak mengingat Allah, sebagaimana manusia mengelilingi Ka’bah tanpa henti.

Di lingkungan TQN Suryalaya, dzikir bukan hanya amalan lisan, tetapi usaha menjaga hati agar tetap hidup bersama Allah di mana pun berada.

Namun dzikir yang sejati bukan hanya terdengar di mulut. Ia harus tampak dalam sikap.

Karena itu Abah Anom mengingatkan:

“Jangan merubah sikap meskipun disakiti.”

Ini bukan perkara mudah. Banyak orang mampu berdzikir, tetapi tidak semua mampu menjaga kelembutan hati ketika terluka.

Padahal ukuran kedewasaan ruhani sering terlihat dari cara seseorang memperlakukan orang lain saat dirinya disakiti.

Sai: Perjuangan Melawan Nafsu

Sai antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah mengabadikan perjuangan Siti Hajar mencari air untuk Nabi Ismail.

Dalam pandangan tasawuf, sai menggambarkan perjalanan hidup manusia yang tidak pernah lepas dari perjuangan. Kadang hati berada dalam harapan, kadang dalam ketakutan. Kadang kuat, kadang lemah.

Di sinilah manusia belajar bahwa menuju Allah bukan perjalanan yang selalu mudah. Ada lelah, ada kecewa, ada ujian, dan ada air mata.

Tanbih Suryalaya sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Jangan sampai hidup dipenuhi pertengkaran dan permusuhan.

Karena sesungguhnya salah satu jihad terbesar adalah menahan ego ketika marah.

Abah Anom bahkan berpesan:

“Harus menyayangi orang yang membenci kepadamu.”

Kalimat ini terasa sederhana, tetapi sangat berat dijalani. Sebab naluri manusia biasanya ingin membalas luka dengan luka.

Namun tasawuf mengajarkan bahwa hati yang dekat kepada Allah perlahan belajar membalas kebencian dengan kasih sayang.

Tahallul: Memotong Kesombongan

Tahallul dilakukan dengan mencukur rambut. Tetapi dalam makna ruhani, yang sebenarnya dipotong bukan rambutnya, melainkan kesombongan dalam diri manusia.

Tanbih Suryalaya banyak berbicara tentang pentingnya menghormati orang lain, menyayangi yang lemah, dan tidak merendahkan siapa pun.

Sebab orang yang benar-benar mengenal Allah biasanya justru semakin lembut hatinya.

Ia tidak mudah merasa paling suci. Tidak suka meremehkan orang lain. Tidak menikmati penghormatan.

Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya.

Tahallul mengajarkan bahwa perjalanan spiritual bukan tentang ingin dianggap alim, tetapi tentang belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Tertib: Jalan Ruhani Tidak Bisa Instan

Haji memiliki urutan. Semua dilakukan dengan tertib. Ini mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah juga membutuhkan proses.

Dalam TQN Suryalaya, perjalanan ruhani tidak hanya tentang semangat sesaat. Yang paling penting adalah istiqamah, menjaga adab, dan terus memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Karena itu Tanbih mengingatkan agar murid-murid selalu berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan, baik terhadap agama maupun kehidupan sosial.

Tasawuf sejati tidak membuat manusia menjauh dari masyarakat. Justru membuatnya menjadi lebih bermanfaat, lebih tenang, dan lebih mampu menjaga kedamaian.

Prinsip “cageur bageur” yang diajarkan di Suryalaya sesungguhnya sangat sederhana, tetapi dalam maknanya: menjadi manusia yang sehat lahir batin dan baik akhlaknya.

Penutup

Pada akhirnya, haji bukan hanya perjalanan menuju Ka’bah. Sebab tidak semua yang sampai ke Ka’bah berhasil sampai kepada Allah.

Tasawuf mengajarkan bahwa perjalanan yang paling jauh sebenarnya adalah perjalanan dari ego menuju keikhlasan, dari kebencian menuju kasih sayang, dan dari kesombongan menuju ketundukan.

Karena itu inti dari perjalanan ruhani bukanlah banyaknya simbol keagamaan, melainkan sejauh mana hati menjadi lebih lembut, lebih tenang, dan lebih mencintai sesama.

Sebagaimana pesan Abah Anom:

“Harus menyayangi orang yang membenci kepadamu.”

Sebab mungkin ukuran dekatnya seseorang kepada Allah bukan pada panjangnya wirid yang dibaca, tetapi pada seberapa luas kasih sayang yang tumbuh di dalam hatinya.

Penulis: Mohamad Romli
Pemimpin Redaksi BantenDaily, Ikhwan TQN Suryalaya. (*)

Exit mobile version