Site icon BantenDaily

Survei IPO dan Celios Beda Penilaian soal Bahlil, Ini Kata Dedi Kurnia Syah

IPO dan Celios berbeda menilai kinerja Bahlil. Dedi Kurnia Syah menyebut metodologi penelitian menjadi salah satu faktor pembeda.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Foto: Laman Facebook Bahlil Lahadalia

JAKARTA | BD — Survei Indonesia Political Opinion (IPO) dan kajian Center of Economic and Law Studies (Celios) menghasilkan penilaian berbeda terhadap kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Menanggapi perbedaan tersebut, Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menyebut perbedaan metodologi penelitian menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi hasil penilaian kedua lembaga.

Dedi menjelaskan, hasil pengukuran IPO menunjukkan persepsi publik terhadap kinerja Bahlil masih relatif positif. Dalam survei tersebut, tingkat kepuasan terhadap kinerja Bahlil mencapai 31,1 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebesar 4,5 persen dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri sebesar 2,0 persen.

Menurut Dedi, capaian tersebut menunjukkan bahwa Bahlil memiliki tingkat pengenalan dan perhatian publik yang relatif tinggi. Berdasarkan pengukuran IPO, Bahlil bahkan menempati posisi teratas dalam tingkat kepuasan di antara para menteri yang berkaitan dengan sektor ekonomi.

Ia menjelaskan, perbedaan hasil penilaian antara IPO dan Celios sangat mungkin dipengaruhi oleh pendekatan metodologi yang digunakan masing-masing lembaga. IPO, kata dia, menerapkan pengambilan sampel secara acak dan proporsional, sedangkan Celios menggunakan pendekatan sampling purposif.

“Perbedaan dengan Celios sangat mungkin karena metodologi yang digunakan juga berbeda. IPO menggunakan pengambilan sampel secara acak dan proporsional, sementara Celios menggunakan sampling purposif. Purposif itu artinya sampel ditentukan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan peneliti,” ujar Dedi, Jumat (30/10).

Ia menilai, karakteristik responden, kriteria pemilihan sampel, serta kelompok yang dilibatkan dalam penelitian dapat memengaruhi hasil akhir pengukuran. Karena itu, perbedaan hasil penelitian tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kinerja seorang pejabat publik sepenuhnya buruk.

Dedi juga menyoroti keterlibatan Kabinet Bayangan dalam kajian Celios. Menurutnya, latar belakang dan orientasi kelompok yang terlibat perlu menjadi pertimbangan ketika publik membaca hasil penilaian tersebut.

“Tentu jika tujuannya kritik, bisa dipastikan hanya melihat sisi buruk,” ungkapnya.

Meski demikian, perbedaan hasil survei dan kajian perlu dibaca secara proporsional dengan mempertimbangkan metodologi, karakteristik responden, serta indikator penilaian yang digunakan masing-masing lembaga.

Di luar persoalan hasil survei, Dedi menilai Bahlil memiliki karakter kepemimpinan yang cukup menonjol, terutama dalam menyikapi dinamika hubungan Indonesia dan Singapura. Ia memandang sikap Bahlil dalam merespons persoalan kedua negara sebagai bentuk keberanian politik sekaligus keberpihakan terhadap kepentingan nasional.

Dedi bahkan menilai Bahlil sebagai salah satu menteri yang mampu menangkap arah pemikiran Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan strategis Indonesia.

“Apa yang ditunjukkan Bahlil adalah sikap nasionalis, demi kedaulatan. Soal diplomasi persuasi yang diabaikan dapat dimaklumi jika Singapura lebih dahulu reaktif dan provokatif,” kata Dedi.

Menurutnya, dalam persoalan yang menyangkut kepentingan nasional, pemerintah tidak semestinya hanya mempertimbangkan keuntungan investasi luar negeri. Kepentingan masyarakat dan kedaulatan negara, kata dia, harus tetap menjadi prioritas.

Dedi menambahkan, penilaian terhadap seorang menteri tidak cukup hanya didasarkan pada popularitas maupun kritik yang berkembang di ruang publik. Aspek keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca kepentingan strategis nasional, serta keberpihakan terhadap kebutuhan masyarakat juga perlu diperhatikan.

Ia menilai, hasil survei IPO yang menempatkan Bahlil pada posisi teratas dalam tingkat kepuasan menteri bidang ekonomi menjadi salah satu perspektif dalam melihat kinerja Menteri ESDM tersebut. Sementara itu, perbedaan hasil dengan kajian Celios semestinya menjadi ruang bagi publik untuk memahami beragam perspektif penilaian terhadap pejabat negara. (*)

Exit mobile version