OPINI | BD — “Di tengah derasnya informasi, yang paling langka bukanlah pengetahuan, melainkan kemampuan memahami.”
Dalam era digital, kehidupan kampus semakin terhubung dengan internet. Generasi mahasiswa saat ini tumbuh dan terbentuk di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti bergerak. Setiap detik, layar ponsel selalu menampilkan berita terkini, video pendek, pendapat publik, hingga data yang terlihat ilmiah. Meskipun saat ini akses terhadap pengetahuan semakin luas, kemampuan untuk memahami, memilah, dan menilai informasi justru melemah dan mengalami penurunan. Banyak mahasiswa merasa “terhubung” dengan berbagai informasi, tetapi mereka tidak benar-benar memahami isi dari apa yang mereka baca. Inilah yang disebut sebagai krisis literasi informasi, yaitu sebuah situasi yang menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah masalah ini berakar dari kemampuan bahasa yang belum kuat, atau mungkin pola pikir yang belum terbiasa untuk berpikir kritis?
Pertanyaan tersebut bukan hanya penting dalam dunia pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi bentuk refleksi bagi dunia komunikasi di era digital yang semakin kompleks. Dalam sudut pandang Ilmu Komunikasi, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami pesan-pesan media, tetapi juga mampu menganalisis bagaimana informasi dibentuk, diproduksi, dan disebarluaskan. Namun, kemampuan tersebut tidak dapat berkembang bila fondasi bahasa dan cara berpikir kritis masih sangat lemah.
Bahasa: Kunci Memahami Pesan dan Cara Kita Menangkap Informasi
Bahasa adalah fondasi utama dalam memahami pesan dan informasi. Kemampuan bahasa bukan hanya sekadar soal tata bahasa, tetapi juga kemampuan menangkap maksud penulis, memahami hubungan antarkalimat, serta membaca konteks sosial yang melatarbelakangi sebuah pesan dan informasi tersebut. Namun, di era digital, cara bahasa bekerja mulai berubah dan muncul banyak tantangan ketika mahasiswa terbiasa melihat konten yang serba cepat, seperti potongan video, ringkasan satu paragraf, atau caption singkat yang sering kali lebih memancing emosional daripada memberikan penjelasan.
Dalam konteks akademik, pemahaman bahasa yang lebih kompleks dibutuhkan untuk menangkap makna teks panjang, menjelaskan argumen, atau menganalisis sumber. Tanpa kemampuan memahami bahasa dengan baik, mahasiswa lebih berpotensi menerima informasi berdasarkan permukaan saja, yaitu sesuatu yang sering terlihat dalam konten media sosial, di mana bahasa dibuat semenarik mungkin agar cepat tersebar, bukan agar benar-benar dipahami.
Analisis literasi media pada mahasiswa juga menunjukkan bahwa kemampuan mengevaluasi pesan harus dibangun melalui latihan membaca yang melampaui sekadar teks permukaan media digital. Literatur di bidang literasi media menekankan bahwa pendidikan literasi tidak hanya soal teknis membaca, tetapi tentang memahami hubungan antara teks, konteks, dan tujuan komunikasi yang lebih luas.
Pola Pikir: Fondasi Penting yang Sering Terlewatkan
Tetapi kemampuan bahasa yang kuat saja tidak cukup jika tidak dilengkapi dengan pola pikir yang reflektif dan kritis. Di dunia digital, kecepatan dan viralitas sering kali lebih dihargai daripada ketelitian isi pesan. Pola pikir yang terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa refleksi membuat mahasiswa mudah terjebak pada konten yang menarik secara emosional tetapi tidak akurat secara faktual.
Studi menunjukkan bahwa literasi digital mahasiswa berpengaruh terhadap kemampuannya dalam menganalisis berita hoaks di media sosial. Meskipun banyak mahasiswa memiliki pemahaman dasar tentang literasi digital seperti mengenali sumber kredibel, masih ada kesulitan dalam mengidentifikasi hoaks secara cepat dan tepat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pola pikir kritis sangat diperlukan dalam mendorong mahasiswa untuk bertanya: “Siapa penyampai pesan ini?”, “Apa sumbernya?”, dan “Apakah ada bukti yang mendukung?”. Tanpa pertanyaan tersebut, informasi di media digital hanya menjadi konsumsi pasif, bukan sebagai bahan reflektif untuk memahami realitas. Aspek ini sekaligus menjadi salah satu indikator penting dalam literasi digital mahasiswa, di mana kemampuan membaca informasi secara mendalam tidak hanya melibatkan teknis bahasa, tetapi juga proses berpikir yang aktif dan kritis.
Media Digital: Ruang Bebas yang Penuh Peluang dan Tantangan
Media digital menawarkan banyak peluang belajar, tetapi juga membawa tantangan. Algoritma platform media digital cenderung menampilkan konten serupa berulang kali, membuat pengguna terjebak dalam ruang gema. Paparan informasi yang singkat dan serba cepat menurunkan kemampuan membaca mendalam, yang pada akhirnya melemahkan berpikir kritis.
Bahasa dan Pola Pikir: Dua Pilar yang Tidak Bisa Dipisahkan
Dalam dunia media digital, bahasa dan pola pikir adalah dua aspek yang tidak bisa dipisahkan. Bahasa membantu kita memahami pesan, sementara pola pikir membantu kita menilai apakah pesan atau informasi tersebut valid, akurat, atau sekadar opini yang tidak berdasar. Jika mahasiswa hanya mengandalkan bahasa tanpa berpikir kritis, mereka akan terjebak pada konten yang hanya terlihat menarik atau populer tanpa mampu menilai kebenarannya. Sebaliknya, pola pikir kritis pun tidak cukup jika mahasiswa tidak memiliki keterampilan bahasa dan kebiasaan memahami informasi secara menyeluruh. Keduanya harus berjalan bersama. Literasi bahasa memberi kita alat untuk membaca pesan, sementara pola pikir memberi kita metode untuk memilah dan menentukan relevansi pesan dalam konteks kebenaran.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
- Mulai membaca lebih beragam dan lebih dalam.
- Bertanya sebelum percaya.
- Menggunakan media digital secara sadar.
- Melatih pola pikir reflektif.
- Berdiskusi dengan sehat dan terbuka.
Penutup
Krisis literasi informasi di kalangan mahasiswa tidak dapat dijelaskan dengan satu faktor saja. Ini bukan hanya persoalan kemampuan memahami bahasa, dan bukan pula hanya soal pola pikir. Keduanya saling berhubungan, saling menguatkan, dan saling menentukan. Di era media digital yang cepat, padat, dan penuh tantangan, kemampuan membaca yang teliti dan pola pikir yang reflektif menjadi bekal penting. Ketika bahasa dan pola pikir bekerja bersama, mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pembaca yang cermat, pemikir yang tajam, dan insan digital yang bertanggung jawab.
“Masalah literasi bukan tentang seberapa banyak kita membaca, tetapi seberapa dalam bahasa dan pola pikir bekerja sama.”
Referensi
Kusumawati, N. A., Tumanggor, R. O., Isnaeny, A., Mareta, K. A., Harto, I. R., Putri, R. A., & Saputri, D. A. (2025). Pentingnya Literasi Digital untuk Menghindari Misinformasi Mahasiswa Generasi Z. Jurnal Syntax Imperatif, 6(5), 1202–1212.
Cahaya, A. F. (2025). Literasi media dalam era digital: Inisiatif perpustakaan untuk meningkatkan kecakapan analitis mahasiswa. Jurnal Kepustakawanan Indonesia, 1(1), 53–62.
Effendi, D., & Wahidy, A. (2019). Realitas bahasa terhadap budaya sebagai penguatan literasi pendidikan. Prosiding Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang.
Haliq, A., Hafid, A., Asriadi, & Nojeng, A. (2025). Tingkat literasi digital: Kemampuan mahasiswa dalam menganalisis berita hoaks. Jurnal Onoma, 11(2).
Penulis: Mia Amalia
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)
