Site icon BantenDaily

Tasawuf Underground Soroti Masalah Kota Lewat Fotografi

Tasawuf Underground menyoroti masalah sosial dan infrastruktur kota lewat fotografi, sekaligus mendorong kebijakan kota yang lebih inklusif.

Usai diskusi, komunitas Tasawuf Underground bersama tim peneliti dan perwakilan pemerintah berpose bersama dalam rangkaian pameran Photovoice “Mengubah Stigma, Menantang Algoritma” di UIN Jakarta. (Foto: Ist)

KOTA TANGSEL | BD  — Komunitas punk dan santri jalanan Tasawuf Underground (TU) menyoroti berbagai persoalan sosial perkotaan melalui karya fotografi. Kabel semrawut, saluran air tersumbat, trotoar rusak hingga persoalan akses pendidikan anak-anak marginal direkam dari sudut pandang mereka melalui pameran Photovoice.

Pameran bertajuk “Mengubah Stigma, Menantang Algoritma” digelar tim peneliti Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang bersama KMF Kala Citra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Gedung Student Center (SC) UIN Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Karya yang dipamerkan merupakan hasil dokumentasi para santri jalanan dan anak punk Tasawuf Underground. Mereka merekam berbagai realitas sosial, persoalan lingkungan, keadilan ekologis serta kondisi infrastruktur perkotaan di Jakarta dan Tangerang Selatan.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Ade Irfan Abdurahman, S.Kom.I., M.Si., mengatakan fotografi dalam pameran tersebut tidak sekadar menjadi karya visual, tetapi juga medium komunikasi bagi komunitas marginal untuk menyampaikan pengalaman dan keresahan mereka.

“Foto-foto yang dipamerkan hari ini bukan sekadar mengejar estetika visual, melainkan media penyampaian pesan moral dan data kemanusiaan langsung dari warga aspal jalanan,” ujar Ade.

Menurut Ade, sejumlah persoalan yang diabadikan para fotografer jalanan antara lain kabel yang tidak tertata, saluran air tersumbat, trotoar rusak dan berlubang, hingga persoalan akses pendidikan anak-anak marginal.

“Keresahan yang dipotret murni dari sudut pandang mereka,” katanya.

Foto Menjadi Suara Komunitas Jalanan

Dalam sesi guided tour dan Focus Group Discussion (FGD) Advokasi Kebijakan, para fotografer dari komunitas Tasawuf Underground menjelaskan cerita di balik foto yang mereka hasilkan.

Salah satu isu yang disoroti adalah kondisi infrastruktur perkotaan yang berpotensi membahayakan masyarakat. Kabel yang tidak tertata serta trotoar rusak dan berlubang menjadi gambaran persoalan ruang publik yang mereka temui dalam keseharian.

Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko bagi pejalan kaki, pedagang dan kelompok rentan, termasuk penyandang tunanetra.

Melalui Photovoice, pengalaman tersebut diubah menjadi pesan visual yang kemudian dibawa ke ruang dialog bersama pemerintah.

Pameran ini sekaligus menjadi upaya mengubah stigma terhadap anak punk dan anak jalanan. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai objek persoalan sosial, tetapi diberikan ruang untuk menjadi subjek yang mampu mendokumentasikan lingkungan, menyampaikan kritik serta menawarkan perspektif mengenai persoalan kota.

Pemkot Tangsel Siapkan Program Pemberdayaan

Pameran dan FGD tersebut turut dihadiri sejumlah pemangku kebijakan daerah, di antaranya Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Tangerang Selatan H. Mukroni serta Ahmad Assegaf yang mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemprov DKI Jakarta.

Mukroni mengapresiasi karya fotografi dan kepedulian sosial yang ditunjukkan komunitas Tasawuf Underground.

“Anak-anak punk membuktikan bahwa mereka punya karya nyata dan perhatian tinggi terhadap lingkungan,” ujar Mukroni.

Menurutnya, Pemkot Tangerang Selatan siap membuka ruang kolaborasi dengan komunitas tersebut melalui sejumlah program pemberdayaan.

Program tersebut antara lain pembinaan wirausaha, pelatihan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK), serta kolaborasi pengelolaan sampah berbasis Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Pemprov DKI Soroti Hak Pendidikan

Sementara itu, Ahmad Assegaf mengapresiasi proses pembinaan spiritual yang dijalankan Tasawuf Underground melalui konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Ia mengatakan Pemprov DKI Jakarta memiliki program Pembinaan Aktivitas Pemuda dan Bantuan Wirausaha Pemula yang dapat dikolaborasikan dengan komunitas TU.

“Kami dari Dispora DKI Jakarta menyediakan program Pembinaan Aktivitas Pemuda dan Bantuan Wirausaha Pemula,” kata Ahmad.

Ia juga menyampaikan peluang melibatkan produk usaha sablon anak-anak TU dalam berbagai kegiatan dan booth pemerintah daerah.

Selain pemberdayaan ekonomi, persoalan akses pendidikan anak-anak marginal turut menjadi perhatian. Ahmad menyatakan pihaknya siap berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk membantu mengatasi kendala pendaftaran sekolah yang dihadapi anak-anak dari komunitas tersebut.

“Terkait kendala pendaftaran sekolah anak, kami siap berkoordinasi langsung dengan Dinas Pendidikan agar hak pendidikan anak-anak ini terpenuhi,” ujarnya.

Tujuh Rekomendasi Kebijakan

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan dokumen Policy Brief secara simbolis dari tim peneliti kepada perwakilan Pemprov DKI Jakarta dan Pemkot Tangerang Selatan.

Dokumen tersebut memuat tujuh rekomendasi strategis yang ditujukan untuk mendorong kebijakan kota yang lebih inklusif terhadap kelompok marginal.

Rekomendasi tersebut antara lain layanan administrasi kependudukan dengan sistem jemput bola, pelibatan komunitas marginal dalam proses perumusan kebijakan kota, serta fasilitasi transportasi inklusif dan gratis melalui layanan JakLingko.

Penyerahan Policy Brief menjadi bagian penting dari kegiatan karena persoalan yang diangkat melalui karya fotografi tidak berhenti sebagai dokumentasi visual.

Melalui forum dialog bersama pemerintah, berbagai pengalaman dan keresahan yang direkam komunitas Tasawuf Underground diharapkan dapat menjadi masukan bagi kebijakan publik, khususnya dalam menciptakan ruang kota yang lebih aman, inklusif dan memberikan akses yang lebih setara bagi kelompok marginal.

Pameran “Mengubah Stigma, Menantang Algoritma” menjadi ruang pertemuan antara seni, pengalaman warga jalanan dan advokasi kebijakan. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa dari balik kamera komunitas marginal terdapat suara yang penting dalam membaca dan memahami persoalan kota. (*)

Exit mobile version