Site icon BantenDaily

Workshop AI di UMN, Indiwan Seto Tekankan Pentingnya Berpikir Kritis

Workshop AI di UMN, Indiwan Seto membagikan strategi pemanfaatan AI secara efektif, etis, dan kritis untuk meningkatkan produktivitas.

Dr. Indiwan Seto Wahyu Wibowo menyampaikan materi tentang strategi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara efektif dan kritis dalam workshop di UMN, Tangerang. (Foto: Ist)

TANGERANG | BD — Dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Dr. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, M.Si., CMT., menekankan pentingnya berpikir kritis dalam memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, AI seharusnya membantu meningkatkan produktivitas, bukan membuat penggunanya malas berpikir dan bergantung pada teknologi.

Pesan tersebut disampaikan Indiwan yang juga dikenal sebagai pelatih AI praktis dalam workshop pemanfaatan AI di Google Education Center UMN, Tangerang, Rabu (28/10/2026).

“Seharusnya AI itu kita kuasai, jangan kita dikuasai oleh AI dan menjadi malas karenanya,” ujar Indiwan di sela-sela kegiatan.

Ia menyoroti kecenderungan sebagian pengguna, termasuk mahasiswa, dosen, dan wartawan, yang menjadikan AI sebagai andalan utama dalam menghasilkan tulisan maupun karya ilmiah. Padahal, penggunaan AI tanpa pemeriksaan kritis berisiko menghasilkan informasi keliru atau halusinasi.

Menurut Indiwan, kualitas jawaban AI turut dipengaruhi oleh kejelasan instruksi atau prompt yang diberikan pengguna.

“AI itu tergantung orangnya ya. Kalau kita enggak kasih perintah yang bagus, ya dia juga kasihnya biasa-biasa aja,” katanya.

Karena itu, pengguna perlu memahami cara menyusun instruksi, memberikan konteks, menentukan format keluaran, serta memeriksa kembali informasi yang dihasilkan AI sebelum menggunakannya.

Enam Strategi Mengoptimalkan Pemanfaatan AI

Dalam workshop tersebut, Indiwan membagikan enam strategi untuk mengoptimalkan penggunaan AI, mulai dari teknik penyusunan prompt, pembuatan konten visual, hingga penerapan AI dalam pekerjaan profesional.

Pertama, menentukan peran dan konteks. Pengguna perlu memberikan instruksi yang spesifik dengan menjelaskan tujuan, latar belakang, sasaran, dan hasil yang diharapkan. Misalnya, AI diminta bertindak sebagai konsultan pemasaran digital dengan konteks produk, target konsumen, dan anggaran yang jelas.

Kedua, memahami karakter platform AI. ChatGPT dan Google Gemini dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan berbasis teks maupun visual. Pengguna perlu menyesuaikan platform dengan kebutuhan dan membandingkan hasilnya, bukan menganggap satu alat selalu unggul untuk semua pekerjaan.

Ketiga, menyusun master prompt. Instruksi yang baik dapat mencakup subjek, konteks, gaya, format, dan kriteria kualitas. Dalam pembuatan gambar, misalnya, pengguna dapat menentukan komposisi, pencahayaan, rasio gambar, serta karakter visual yang diinginkan.

Keempat, memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas. AI dapat membantu menyusun kerangka dokumen, mengembangkan materi promosi, menyiapkan bahan presentasi, dan mengorganisasi informasi. Meski demikian, hasilnya tetap harus diperiksa dan disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan.

Kelima, menjaga etika akademik dan privasi data. Pengguna perlu memverifikasi sumber, menjaga integritas tulisan, serta menghindari pengunggahan informasi rahasia atau data sensitif ke platform AI tanpa memastikan keamanan dan kewenangan penggunaannya.

Keenam, memanfaatkan pustaka prompt. Contoh instruksi yang tersedia dapat menjadi referensi untuk mempercepat pekerjaan. Pengguna tetap perlu menyesuaikan instruksi dengan tujuan, konteks, dan karakter platform yang digunakan.

AI Membantu, Bukan Menggantikan Peran Manusia

Indiwan juga memperlihatkan bagaimana AI dapat membantu pekerjaan kreatif dan praktis. Salah satu contoh yang dibagikan dalam workshop adalah restorasi foto masa kecilnya bersama sang ibu. Foto fisik yang mengalami kerusakan diperbaiki menggunakan AI sehingga tampil lebih jelas.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan proses lebih rumit.

Dalam lingkungan profesional, AI juga berpotensi mempercepat penyusunan dokumen, pengembangan konsep komunikasi, pembuatan materi promosi, serta pengolahan informasi untuk laporan. Dengan bantuan tersebut, manusia dapat lebih berfokus pada analisis, kreativitas, dan pengambilan keputusan.

“Memang AI perlu belajar tapi bukan menggantikan. Kita itu belajar tapi AI itu enggak menggantikan kerja,” ujar Indiwan.

Namun, kemudahan yang ditawarkan AI harus diimbangi dengan tanggung jawab penggunanya. Mahasiswa dan peneliti, misalnya, tetap harus memahami isi tulisan, memeriksa sumber, dan mempertanggungjawabkan argumentasi serta kesimpulan yang dibuat.

Hal serupa berlaku bagi wartawan. AI dapat membantu proses awal penulisan berita, tetapi verifikasi fakta, akurasi kutipan, keberimbangan informasi, dan tanggung jawab publikasi tetap menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik.

Karena itu, kemampuan menggunakan AI tidak cukup diukur dari kecepatan menghasilkan jawaban atau banyaknya konten yang dibuat. Pengguna juga harus mampu mengevaluasi informasi, mengenali keterbatasan teknologi, dan menentukan apakah hasilnya layak digunakan.

Melalui workshop tersebut, pemanfaatan AI ditekankan bukan sekadar sebagai keterampilan teknis, melainkan juga sebagai kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, AI dapat menjadi alat untuk memperluas kemampuan manusia selama digunakan secara tepat. Teknologi boleh mempercepat pekerjaan, tetapi kualitas hasilnya tetap bergantung pada pengetahuan, penilaian, dan tanggung jawab penggunanya. (Ril/Red)

Exit mobile version