Yudisium 363 Mahasiswa UMT, Rektor Tekankan Pentingnya Adaptasi AI

waktu baca 3 menit
Minggu, 20 Sep 2026 14:18 14 Redaksi

TANGERANG | BD — Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Dr. Warsito, M.Si menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kepada 363 mahasiswa yang mengikuti yudisium. Ia mengingatkan lulusan agar tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar akademik.

Pesan tersebut disampaikan Warsito dalam acara yudisium mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMT yang berlangsung di Hotel Narita, Cipondoh, Kota Tangerang, Minggu (20/9/2026).

Sebanyak 363 mahasiswa mengikuti yudisium tersebut. Rinciannya, 292 mahasiswa berasal dari Program Studi Ilmu Komunikasi dan 71 mahasiswa dari Program Studi Ilmu Pemerintahan.

Menurut Warsito, perkembangan AI berlangsung sangat cepat dan menjadi bagian dari perubahan zaman yang harus dihadapi para lulusan.

“Kalau kalian tidak bisa adaptif terhadap perkembangan ini, akan tertinggal. Karena itu, terus belajar dan siap melakukan perubahan,” ujar Warsito.

Ia menegaskan, yudisium bukan merupakan akhir perjalanan pendidikan. Gelar sarjana yang diperoleh justru menjadi awal bagi lulusan untuk mengimplementasikan ilmu dan kompetensi di tengah masyarakat.

“Yudisium bukan akhir sebuah perjalanan. Hari ini kalian sudah berhak menyandang gelar akademik sarjana, tetapi bukan akhir dari perjalanan. Justru ini adalah awal untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat,” katanya.

Jangan Puas dengan Ijazah

Warsito mengingatkan lulusan UMT agar tidak menjadikan ijazah sebagai satu-satunya bekal memasuki dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, lulusan harus terus meningkatkan kompetensi melalui proses belajar yang tidak terbatas pada ruang kelas atau bangku kuliah.

“Kalau hanya diam dan puas dengan ijazah, maka selesai sudah. Belajar tidak mesti di bangku kuliah. Di mana pun harus dilakukan, karena saat ini yang dibutuhkan adalah orang-orang yang kompeten,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan akhlak dan karakter.

“Jangan hanya mengandalkan otak, tetapi juga hati,” ujar Warsito.

Lulusan Harus Memberi Dampak

Selain adaptif terhadap teknologi, Warsito berharap lulusan UMT mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia meminta alumni tidak menjadi beban di lingkungan masing-masing, melainkan hadir sebagai inovator yang mampu memberikan manfaat.

“Kami berharap lulusan UMT jangan menjadi benalu, tetapi menjadi inovator di tengah masyarakat. Itu ciri insan Muhammadiyah, di mana pun berada selalu menerangi,” katanya.

Warsito juga berpesan agar lulusan tetap menjaga karakter dan nilai-nilai Al-Islam di mana pun mereka berada.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan setelah menyelesaikan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga dukungan dan doa orang-orang terdekat.

Karena itu, ia meminta para lulusan tidak melupakan orang tua, pasangan bagi yang telah berkeluarga, serta jajaran struktural FISIP dan para dosen yang telah berkontribusi selama proses pendidikan.

“Setelah selesai hari ini, jangan lupa meminta doa orang tua. Yang sudah punya pasangan, minta juga doa pasangan,” ujarnya.

Warsito berharap seluruh lulusan FISIP UMT mampu membawa ilmu, kompetensi, akhlak, dan semangat untuk memberikan manfaat setelah meninggalkan lingkungan kampus.

“Setelah selesai dari UMT, saya berharap semuanya sukses,” pungkasnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA