Asep Nurdin Ingatkan Remaja Tangsel, Gawai dan Media Sosial Bisa Ganggu Kesehatan Mental

waktu baca 4 menit
Jumat, 28 Agu 2026 11:29 6 Nazwa

KOTA TANGSEL | BD — Kemudahan mengakses informasi melalui gawai dan media sosial membuat kehidupan remaja semakin dekat dengan ruang digital. Namun, di balik berbagai manfaatnya, penggunaan teknologi secara berlebihan juga dapat membawa dampak terhadap kesehatan mental.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, mengingatkan para remaja agar tidak menjadikan gawai dan media sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Menurut Asep, perkembangan teknologi telah mengubah cara remaja berinteraksi. Komunikasi yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara langsung kini semakin bergeser ke ruang digital.

“Ketergantungan terhadap gawai telah mengubah pola interaksi sosial secara radikal, dari komunikasi tatap muka yang hangat menjadi interaksi artifisial yang sering kali hampa makna di ruang digital,” ujar Asep dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).

Ia menjelaskan, teknologi informasi memang memberikan akses pengetahuan yang luas dan memudahkan seseorang untuk berkomunikasi. Namun, penggunaan yang tidak diimbangi kemampuan mengelola diri dapat membuat remaja lebih rentan terhadap berbagai tekanan yang muncul di dunia maya.

Salah satunya berasal dari media sosial. Arus informasi yang berlangsung cepat membuat remaja dapat terpapar beragam konten, termasuk informasi negatif dan berbagai tekanan sosial yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis.

Asep menilai, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian karena masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan karakter sekaligus perkembangan emosional seseorang.

“Nah, anak-anak sekalian, kesehatan mental ini sangat berpengaruh untuk masa depan kalian dan ini harus dijaga banget,” jelasnya.

Media Sosial dan Tekanan Sosial Remaja

Menurut Asep, media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi remaja untuk mencari pengakuan dan validasi.

Ketika interaksi di dunia maya menjadi terlalu dominan, remaja berpotensi lebih memperhatikan respons dari lingkungan digital dibandingkan komunikasi secara langsung dengan orang-orang di sekitarnya.

Situasi tersebut dapat membuat hubungan sosial menjadi lebih kompleks. Remaja dapat merasa harus mengikuti tren, mendapatkan respons positif, atau menyesuaikan diri dengan standar tertentu yang berkembang di media sosial.

Di sisi lain, paparan informasi yang tidak sesuai dengan usia maupun kondisi psikologis juga menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, Asep menekankan pentingnya kemampuan remaja dalam menggunakan teknologi secara bijak.

Ia mengingatkan agar perkembangan teknologi tidak hanya membuat generasi muda semakin mahir menggunakan perangkat digital, tetapi juga mampu mengendalikan diri ketika berada di ruang digital.

“Perkembangan teknologi informasi memang membuka akses pengetahuan tanpa batas, namun di sisi lain juga membawa kerentanan psikologis yang serius jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang matang,” tuturnya.

Jangan Biarkan Gawai Mengambil Alih Kehidupan Sosial

Asep juga menyoroti perubahan pola komunikasi yang terjadi akibat penggunaan gawai. Menurutnya, kemudahan berkomunikasi melalui layar tidak seharusnya membuat interaksi secara langsung semakin ditinggalkan.

Kehadiran teknologi, kata dia, semestinya dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas positif, memperluas pengetahuan, dan membuka kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan potensi.

Namun, apabila penggunaan gawai tidak terkontrol, ruang digital justru dapat mengambil porsi terlalu besar dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Asep mengajak para remaja untuk mampu menentukan batas dalam penggunaan teknologi serta lebih selektif terhadap informasi dan lingkungan pergaulan di dunia maya.

“Jangan menjadi kertas kosong yang tidak punya nilai,” tegas Asep.

Ia juga mengingatkan remaja untuk tidak mudah terbawa oleh berbagai pengaruh yang muncul melalui media sosial maupun lingkungan digital. Menurutnya, setiap individu memiliki peran dalam menentukan pilihan yang akan membentuk masa depannya.

“Pilihan bukan ada di ibu kamu, pilihan bukan ada di orang tua kamu, pilihan bukan ada di pemerintah kota, tapi ada di diri sendiri untuk jadi orang bernilai. Jadi ingat ya, pilih keputusan dengan baik,” jelasnya.

Kesehatan Mental Perlu Dijaga Bersama

Asep menegaskan, menjaga kesehatan mental remaja di tengah perkembangan teknologi bukan persoalan yang dapat diselesaikan oleh satu pihak.

Selain kemampuan remaja dalam mengendalikan penggunaan gawai, lingkungan sekitar juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang mendukung tumbuh kembang mereka.

Ia menilai komunikasi yang sehat antara remaja dengan orang-orang di sekitarnya tetap diperlukan agar persoalan yang dihadapi tidak hanya dibawa ke ruang digital.

“Antara orang tua, guru, dan Pemerintah Kota harus dalam satu kesatuan yang utuh menjaga anak dari kesehatan mental ini,” terang Asep.

Melalui edukasi dan penguatan literasi digital, Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus mendorong generasi muda agar mampu memanfaatkan teknologi secara positif.

Asep berharap remaja Tangsel tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami risiko di balik penggunaannya. Dengan begitu, perkembangan dunia digital dapat menjadi sarana untuk belajar dan berkembang tanpa mengorbankan kesehatan mental serta kehidupan sosial mereka. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA