Ilustrasi gambar dibuat menggunakan kecerdasan imitasi/AISERANG | BD — Bayi yang sulit melekat pada payudara, sering terlepas saat menyusu, atau mengalami kenaikan berat badan yang kurang optimal belum tentu mengalami tongue tie. Kondisi yang membatasi gerakan lidah ini memang dapat mengganggu proses menyusui, tetapi diperlukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan penyebabnya.
Dokter Spesialis Anak sekaligus Konselor Laktasi Bethsaida Hospital Serang, dr. Viany Rehansyah P, M.Ked(Ped), Sp.A, CBS, menjelaskan bahwa kesulitan menyusu dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik dari bayi maupun ibu.
“Tongue tie memang bisa menjadi salah satu penyebab bayi mengalami kesulitan menyusu, tetapi bukan berarti setiap bayi yang sulit menyusu pasti mengalami tongue tie. Kita perlu melihat proses menyusunya secara menyeluruh,” jelas dr. Viany, Sabtu (17/10).
Tongue tie atau ankyloglossia merupakan kondisi ketika frenulum, yakni jaringan yang menghubungkan bagian bawah lidah dengan dasar mulut, membatasi pergerakan lidah.
Gerakan lidah berperan penting dalam proses bayi melekat pada payudara, mengisap ASI, memindahkan ASI ke mulut, dan menelannya. Jika pergerakan lidah benar-benar terbatas, proses menyusui dapat terganggu.
Meski demikian, frenulum yang tampak pendek tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan menyusui. Menurut dr. Viany, hal yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana kondisi tersebut memengaruhi fungsi lidah dan efektivitas bayi saat menyusu.
Bayi yang belum menyusu secara optimal dapat menunjukkan sejumlah tanda, seperti sulit melekat pada payudara, sering terlepas, terdengar bunyi “klik” saat menyusu, menyusu dalam waktu lama, mudah lelah, atau masih tampak belum puas setelah menyusu.
Pada ibu, masalah ini dapat disertai nyeri atau luka pada puting. Sementara itu, berat badan bayi mungkin sulit bertambah sesuai harapan.
Tanda-tanda tersebut dapat ditemukan pada bayi dengan tongue tie, tetapi tidak spesifik untuk kondisi tersebut. Posisi dan pelekatan yang belum tepat, kelahiran prematur, hidung tersumbat, serta koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas yang belum optimal juga dapat menyebabkan kesulitan menyusu.
Faktor dari ibu turut berpengaruh, termasuk bentuk puting, kondisi payudara, produksi ASI, serta aliran ASI yang terlalu cepat atau lambat.
“Masalah menyusui bisa berasal dari bayi, ibu, atau kombinasi keduanya. Karena itu, evaluasinya perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada lidah bayi,” terang dr. Viany.
Menurut dr. Viany, tidak semua bayi dengan tongue tie memerlukan tindakan pada frenulum. Pada sebagian bayi, masalah menyusui dapat membaik setelah posisi dan pelekatan diperbaiki serta ibu memperoleh pendampingan laktasi yang sesuai.
Dalam konsultasi, dokter dapat mengevaluasi posisi bayi, pelekatan pada payudara, pola isapan, proses menelan, kondisi rongga mulut, perpindahan ASI, serta pertumbuhan dan berat badan bayi.
Tindakan pada frenulum baru dipertimbangkan apabila keterbatasan gerak lidah terbukti menyebabkan gangguan fungsi menyusu yang bermakna dan tidak teratasi dengan dukungan menyusui yang tepat.
“Tindakan pada frenulum tidak otomatis diperlukan pada setiap bayi. Yang utama adalah menilai apakah ada gangguan fungsi yang benar-benar memengaruhi proses menyusu,” ujar dr. Viany.
Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau konselor laktasi apabila bayi terus mengalami kesulitan melekat pada payudara, sering terlepas saat menyusu, mudah lelah, menyusu lama tetapi tetap tampak belum puas, atau mengalami kenaikan berat badan yang kurang optimal.
Ibu juga perlu mendapatkan bantuan apabila mengalami nyeri atau luka pada puting secara berulang.
Evaluasi sejak dini membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi penyebab kesulitan menyusu dan menentukan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan ibu dan bayi.
Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan Dokter Spesialis Anak dan Konseling Laktasi untuk membantu orang tua menghadapi berbagai tantangan dalam proses menyusui.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya, menyampaikan bahwa keberhasilan menyusui melibatkan kondisi dan kesiapan ibu maupun bayi.
“Melalui layanan Dokter Spesialis Anak yang didukung Konseling Laktasi, kami ingin membantu orang tua mendapatkan evaluasi dan pendampingan yang tepat sejak awal,” pungkasnya. (*)
Tidak ada komentar