Site icon BantenDaily

Bentrok Remaja di Cikupa Berawal dari Tantangan Online, Berujung Luka Serius

Tawuran remaja di Cikupa berawal dari tantangan media sosial hingga berujung bentrokan yang menyebabkan korban luka serius di kepala.

Kapolresta Tangerang bersama jajaran kepolisian menunjukkan barang bukti terkait kasus tawuran remaja di Cikupa, termasuk senjata tajam yang diduga digunakan dalam aksi pembacokan. (Foto: Ist)

TANGERANG | BD – Tawuran antar kelompok remaja yang terjadi di wilayah Cikupa, Kabupaten Tangerang, pada Rabu (20/5/2026) dini hari, berawal dari pola interaksi yang kini semakin sering terjadi di kalangan remaja, yakni saling tantang melalui media sosial.

Dua kelompok yang terlibat, yakni Kilometer 18 dan Mystery 16, disebut telah lebih dahulu membangun komunikasi yang berisi tantangan dan ajakan untuk bertemu. Interaksi tersebut kemudian berkembang menjadi kesepakatan untuk melakukan pertemuan di lokasi yang telah ditentukan, yang pada akhirnya berubah menjadi bentrokan terbuka di lapangan.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah menjelaskan, fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi pemicu konflik apabila tidak digunakan secara bijak, terutama di kalangan remaja yang masih rentan terhadap provokasi.

“Dua kelompok remaja yang terlibat masing-masing bernama Kilometer 18 dan Mystery 16,” ujarnya dalam konferensi pers di Mapolresta Tangerang, Selasa (26/5/2026).

Ia menuturkan, situasi yang awalnya hanya berupa tantangan di dunia maya kemudian berubah menjadi aksi nyata di lapangan. Bentrokan tidak terhindarkan ketika kedua kelompok bertemu di lokasi yang telah disepakati.

Dalam peristiwa tersebut, seorang remaja berinisial RW (14) yang diketahui berasal dari kelompok Kilometer 18 menjadi korban. Ia mengalami luka serius setelah terkena sabetan senjata tajam jenis corbek di bagian kepala saat berada di atas sepeda motor.

Korban sempat terjatuh di lokasi kejadian sebelum akhirnya dievakuasi oleh rekan-rekannya ke rumah sakit di wilayah Jatiuwung untuk mendapatkan perawatan medis.

Peristiwa ini juga menyoroti kembali pola tawuran remaja yang kerap dipicu oleh dinamika pergaulan dan konten di media sosial, termasuk ajakan, tantangan, hingga pembentukan kelompok yang berujung pada aksi kekerasan.

Polisi mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital perlu diimbangi dengan pengawasan dan literasi digital yang kuat, baik dari lingkungan keluarga maupun sekolah, agar tidak berujung pada tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. (*)

Exit mobile version