EKBIS | BD — Persaingan dompet digital (e-wallet) di Indonesia semakin mengerucut pada segelintir pemain utama. Riset terbaru menunjukkan bahwa preferensi pengguna tidak hanya dipengaruhi oleh fitur, tetapi juga oleh faktor generasi—membentuk peta kompetisi yang kian tersegmentasi antara nama-nama besar seperti DANA, GoPay, hingga layanan paylater yang ikut meramaikan pasar.
Sepanjang 2025, e-wallet mencatat penetrasi lebih dari 90% di kalangan pengguna fintech di Indonesia. Capaian ini menegaskan bahwa dompet digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas finansial masyarakat, mulai dari transaksi ritel hingga pembayaran tagihan.
Survei yang dilakukan Jakpat terhadap 1.945 responden—terdiri dari Gen Z (42%), Milenial (39%), dan Gen X (19%)—mengungkap bahwa di balik tingginya adopsi tersebut, terdapat perbedaan signifikan dalam cara tiap generasi memilih dan menggunakan layanan e-wallet.
Dominasi Merek dan Segmentasi Generasi
DANA menjadi e-wallet yang paling banyak digunakan dengan tingkat adopsi mencapai 72%, terutama di kalangan Gen Z. Sementara itu, GoPay menempati posisi kedua dengan 60% pengguna, lebih dominan di kalangan Milenial dan Gen X.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kekuatan merek tidak bersifat universal. Setiap platform memiliki basis pengguna yang berbeda, seiring dengan preferensi generasi yang juga beragam.
“Pilihan e-wallet tidak sama di setiap generasi. Ini menunjukkan bahwa setiap brand memiliki ‘rumahnya’ masing-masing di segmen pengguna tertentu,” ujar Farida Hasna, Lead Researcher Jakpat, dilansir Senin, 27 April 2026.
Fitur Jadi Penentu: Dari Transaksi hingga Paylater
Selain merek, faktor fitur menjadi kunci dalam persaingan. Sekitar 60% responden memilih e-wallet karena kemudahan penggunaan dan kepraktisan pembayaran. Di kalangan Milenial, aspek keamanan juga penting—56% memilih layanan yang berizin dan terdaftar di OJK.
Gen Z, di sisi lain, cenderung tertarik pada fleksibilitas fitur. Mereka memanfaatkan e-wallet tidak hanya untuk pembayaran, tetapi juga untuk transfer dan menyimpan uang.
Secara umum, transfer uang menjadi fungsi utama (70%), diikuti pembayaran tagihan dan belanja online (masing-masing 64%). Sementara itu, transaksi offline dan layanan pesan antar juga cukup tinggi, terutama di kalangan Milenial dan Gen X.
Tren menarik juga terlihat pada fitur paylater. Sekitar 15% responden menggunakannya, dengan SPayLater mendominasi hingga 75%, khususnya di kalangan Gen Z (84%). Layanan lain seperti GoPay Later (42%) dan DANA Cicil (25%) turut bersaing di segmen ini.
Peta Kompetisi yang Kian Dinamis
Dengan preferensi yang semakin tersegmentasi, peta persaingan e-wallet di Indonesia tidak lagi sekadar soal jumlah pengguna, tetapi juga relevansi fitur dan kedekatan dengan kebutuhan generasi tertentu.
DANA unggul di kalangan pengguna muda, GoPay kuat di segmen yang lebih matang, sementara layanan paylater menjadi pintu masuk baru bagi ekspansi layanan finansial digital.
Di tengah dinamika ini, satu hal menjadi jelas: masa depan e-wallet di Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan tiap platform dalam membaca perilaku pengguna—bukan sekadar menawarkan teknologi, tetapi juga pengalaman yang sesuai dengan gaya hidup masing-masing generasi. (*)
