HIPJI Gelar ISPS 2026 di Yogyakarta, Perkuat Daya Saing Penerbitan Ilmiah Indonesia

waktu baca 3 menit
Kamis, 15 Okt 2026 11:33 10 Redaksi

YOGYAKARTA | TD — Himpunan Penerbit Ilmiah Indonesia (HIPJI) menggelar Indonesian Scholarly Publishing Summit (ISPS) 2026 di Gadjah Mada University Club (UC) Hotel, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (15/10/2026), untuk memperkuat profesionalisme dan daya saing penerbitan ilmiah Indonesia di tingkat global. Forum berskala nasional ini mendorong kolaborasi antara penerbit, akademisi, regulator, dan organisasi internasional dalam membangun ekosistem publikasi ilmiah yang berkualitas dan berkelanjutan.

Pembukaan ISPS 2026 ditandai dengan sambutan Sekretaris Jenderal HIPJI, Prof. Dr. Karona Cahya Susena. Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk memperkuat tata kelola penerbitan ilmiah sekaligus meningkatkan kualitas publikasi akademik Indonesia.

Mengusung tema “People, Ideas, Collaboration, and Lasting Impact”, ISPS 2026 menjadi forum pertukaran gagasan dan pengetahuan bagi para pemangku kepentingan untuk membahas tantangan serta peluang pengembangan penerbitan ilmiah di tengah dinamika dunia akademik.

Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran Lembaga Sertifikasi Profil (LSP) Penerbitan Ilmiah Indonesia. Inisiatif tersebut diharapkan mendukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan profesionalisme dalam pengelolaan jurnal serta penerbitan karya ilmiah.

Hadirkan Pembicara dari Berbagai Lembaga

ISPS 2026 menghadirkan pembicara dari organisasi penerbit ilmiah, lembaga pemerintah, lembaga sertifikasi profesi, hingga organisasi internasional. Para narasumber tersebut dijadwalkan membahas berbagai aspek pengembangan publikasi ilmiah, mulai dari standar kompetensi hingga penguatan jejaring internasional.

Pembicara yang tercantum dalam agenda kegiatan meliputi:

  • Dr. Andri Putra K, M.IP., Ketua Umum HIPJI.
  • Epik Finilih, S.Si., M.Hum., Direktur LSP PII.
  • Dr. Irham Hanif Nabawi, S.Sos., M.Hum., Pustakawan Ahli Muda Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
  • Miftakul Azis, S.H., M.H., anggota komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
  • Dr. Ir. Syauqi Soeratno, M.M., Wakil Ketua II Komite III DPD RI.
  • Rocio Gaudioso Pedraza, Community Engagement Manager di Crossref.

Kehadiran para pembicara lintas sektor diharapkan memperkaya diskusi mengenai tata kelola penerbitan, sertifikasi kompetensi, peningkatan kualitas publikasi, serta pengembangan kerja sama antara penerbit dan komunitas akademik.

Dalam keterangan yang disampaikan di sela-sela pembukaan, perwakilan pengurus HIPJI menegaskan bahwa pengembangan penerbitan ilmiah perlu memperhatikan kualitas dan dampak jangka panjang, bukan hanya jumlah publikasi yang dihasilkan.

“Melalui ISPS 2026, kita ingin membangun ekosistem penerbitan ilmiah yang tidak hanya produktif secara kuantitas, tetapi juga memiliki dampak keberlanjutan (lasting impact) serta standar kualitas yang terakreditasi secara profesional,” ungkap perwakilan pengurus HIPJI.

Dorong Profesionalisme dan Kualitas Publikasi

Penguatan ekosistem penerbitan ilmiah membutuhkan tata kelola yang baik, sumber daya manusia yang kompeten, serta kolaborasi berkelanjutan antara berbagai pemangku kepentingan.

Penerbit ilmiah memiliki peran penting dalam mengelola dan menyebarluaskan hasil penelitian melalui proses penerbitan yang memenuhi standar kualitas. Sementara itu, akademisi berkontribusi dalam menghasilkan pengetahuan yang dapat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Sinergi antara penerbit, akademisi, regulator, dan organisasi internasional diharapkan mampu meningkatkan kualitas sekaligus memperluas jangkauan publikasi ilmiah Indonesia.

Melalui diskusi interaktif dan pertukaran pengalaman, ISPS 2026 diharapkan menghasilkan rekomendasi serta langkah konkret untuk mendukung pengembangan kebijakan riset dan penerbitan nasional.

Penguatan kolaborasi, inovasi, dan kompetensi sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem penerbitan ilmiah yang profesional dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya saing publikasi Indonesia di tingkat internasional. (Ril)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA