Suasana retret pengurus IKG yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi ruang untuk berdiskusi, mempererat komunikasi, dan memantapkan arah organisasi melalui Sapta Cita IKG periode 2026–2031. (Foto: Ist)BOGOR | BD — Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) mengonsolidasikan jajaran pengurus melalui retret di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, pada 10–11 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan menyatukan visi, memperkuat soliditas organisasi, serta menyelaraskan program kerja untuk mewujudkan Sapta Cita IKG 2026–2031.
Ketua Umum IKG Ipda (Purn.) Saimo, S.E., M.M., saat membuka kegiatan, menekankan pentingnya mengoptimalkan seluruh aset dan potensi organisasi agar memberikan manfaat nyata bagi warga Gunungkidul di perantauan.
Menurut Saimo, aset fisik, jaringan kepengurusan, sumber daya manusia, serta potensi warga Gunungkidul merupakan kekuatan yang perlu dikelola secara terarah. Beberapa aset yang disebutnya antara lain Omah Joglo IKG dan Sekolah Budi Harapan.
“IKG memiliki aset, potensi, dan jaringan yang luar biasa, misalnya Omah Joglo IKG, Sekolah Budi Harapan, dan lainnya. Tantangan kita adalah bagaimana mengoptimalkan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan nyata bagi organisasi dan manfaat bagi warga Gunungkidul di perantauan,” ujar Saimo.
Ia mengajak seluruh pengurus mengesampingkan ego pribadi dan mengutamakan kepentingan organisasi dalam menjalankan program kerja.
“Saya mengajak seluruh pengurus untuk menyatukan visi, memperkuat komitmen, dan bekerja secara solid dalam mewujudkan Sapta Cita IKG 2026–2031. Mari kita kesampingkan ego pribadi, utamakan kepentingan organisasi, dan bergerak bersama dalam semangat guyub rukun, gotong royong, serta pengabdian yang tulus,” katanya.
Retret tersebut dihadiri jajaran Dewan Pengawas, Dewan Pembina, Dewan Penasihat, pengurus pusat, serta perwakilan wilayah IKG. Di antara peserta yang hadir ialah Dewan Pengawas IKG Sudarminto Darmawan, Dewan Pembina Gampang Harjono, Dewan Penasihat Sukardio, Ketua I Suyanto, Ketua III Rahmat Sutopo, Ketua IV Bambang Krisnadi, S.H., dan Ketua V Kapten AD H. Suyadi.
Hadir pula Sekretaris Jenderal IKG Hj. Siti Hardjarijah, S.E., M.M., Wakil Bendahara Umum Sukarna, serta 18 ketua kapanewon dan tujuh ketua wilayah atau koordinator wilayah (korwil).
Pada Sabtu (10/10), kegiatan berlangsung pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Agenda utama diisi dengan pemaparan rencana dan program kerja oleh jajaran ketua, Sekretaris Jenderal, serta Bendahara Umum IKG.
Pemaparan tersebut bertujuan menyelaraskan rencana kerja, menetapkan prioritas, mengidentifikasi kebutuhan, dan memperkuat koordinasi antarpengurus. Pembahasan juga mencakup optimalisasi aset organisasi serta penerapan tata kelola yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas.
Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah untuk mempererat hubungan antarpengurus. Agenda tersebut juga diisi penyampaian materi oleh Sudaryanto, S.H., M.M., yang menjabat Sekretaris Direktorat Jenderal Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Anggota Dewan Pengawas IKG, Sudarminto Darmawan, turut menyampaikan motivasi mengenai pentingnya komitmen, kekompakan, dan soliditas dalam menjalankan organisasi.
Ia menekankan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh program yang dirancang, tetapi juga oleh kesungguhan pengurus dalam menjalankan tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kemauan mendahulukan kepentingan organisasi.
Pada Minggu (11/10), rangkaian retret dilanjutkan dengan olahraga bersama dan diskusi santai. Kegiatan ditutup setelah makan siang.
Sekretaris Jenderal IKG Hj. Siti Hardjarijah, S.E., M.M., mengatakan retret tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat arah pembangunan organisasi melalui Sapta Cita IKG 2026–2031.
Fokus program tersebut mencakup tata kelola, kemandirian, sekretariat IKG, soliditas, kegiatan sosial, pendidikan dan olahraga, pelestarian budaya Gunungkidul dan Jawa, serta sinergi kelembagaan.
“Melalui kegiatan ini, IKG berharap seluruh jajaran pengurus memiliki pemahaman dan komitmen yang semakin kuat terhadap arah organisasi, sekaligus mampu menerjemahkan visi bersama menjadi program kerja yang konkret, terukur, dan berkelanjutan,” ungkap Siti.
Ia menjelaskan, retret tidak sekadar menjadi pertemuan pengurus, tetapi juga momentum untuk melakukan refleksi, menyatukan tekad, dan memperkokoh fondasi organisasi.
Melalui optimalisasi aset, penguatan jaringan, dan peningkatan soliditas, IKG berupaya menjadi wadah persaudaraan warga Gunungkidul di perantauan yang guyub, mandiri, dan bermanfaat.
Humas yang juga Sekretaris IV IKG, Tarsih Ekaputra, menjelaskan bahwa IKG merupakan wadah paguyuban warga Gunungkidul di perantauan yang berdiri pada 12 Desember 1970 di Jakarta.
Dengan semangat guyub rukun, saling membantu, dan gotong royong, IKG memiliki jaringan kepengurusan yang terdiri atas 18 koordinator kapanewon, tujuh koordinator wilayah, 144 koordinator kelurahan, dan 1.431 koordinator dusun.
Tarsih mengatakan, pelaksanaan Sapta Cita IKG 2026–2031 diharapkan memperkuat persaudaraan, membangun kemandirian, dan mendorong kontribusi nyata organisasi bagi warga Gunungkidul, baik di perantauan maupun di tanah kelahiran.
“Berlandaskan Sapta Cita IKG 2026–2031 yang mencakup tata kelola, kemandirian, sekretariat, soliditas, sosial, pendidikan dan olahraga, pelestarian budaya Gunungkidul dan Jawa, serta sinergi kelembagaan, IKG terus memperkuat persaudaraan, membangun kemandirian, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi warga Gunungkidul di perantauan maupun tanah kelahiran,” jelasnya. (*)
Tidak ada komentar