Site icon BantenDaily

Incar Ketahanan Pangan, Pemkot Tangsel Uji Varietas Inpari 32 di Tandon Ciater

Pemkot Tangsel menguji varietas Inpari 32 di Tandon Ciater sebagai alternatif budidaya pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie bersama jajaran meninjau penanaman padi varietas Inpari 32 menggunakan metode padi apung di Tandon Ciater. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kesesuaian metode budidaya tersebut sebagai alternatif produksi pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian. (Foto: Ist)

KOTA TANGSEL | BD — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) menguji budidaya padi varietas Inpari 32 dengan metode padi apung di Tandon Ciater, Kecamatan Serpong. Langkah ini dilakukan untuk mencari alternatif produksi pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan.

Uji coba yang dimulai pada Senin (26/10/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Tangsel mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah. Tandon yang selama ini berfungsi sebagai tempat penampungan air dicoba untuk mendukung kegiatan pertanian tanpa bergantung pada lahan persawahan konvensional.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, keterbatasan lahan sawah di Tangsel mendorong pemerintah daerah untuk mencari metode alternatif dalam mengembangkan budidaya tanaman pangan.

“Walaupun Tangsel tidak punya sawah, tidak punya areal sawah kering atau sawah tanah hijau, ya kita usahakan tandon-tandon yang ada di Tangerang Selatan itu kita jadikan multifungsi, termasuk dalam menanam tanaman padi,” ujar Benyamin.

Uji Varietas Inpari 32 dengan Metode Padi Apung

Dalam tahap awal pengujian, Pemkot Tangsel menggunakan varietas Inpari 32 yang ditanam melalui media styrofoam yang mengapung di permukaan air.

Sebanyak 200 lembar styrofoam disiapkan sebagai media tanam. Setiap lembar dilengkapi 21 pot, dengan masing-masing pot diisi tiga bibit padi.

Metode tersebut memungkinkan tanaman dibudidayakan di atas permukaan air tanpa menggunakan petak sawah seperti pada umumnya. Namun, keberhasilan penerapannya di Tandon Ciater masih perlu dibuktikan melalui pengamatan pertumbuhan tanaman hingga masa panen.

Pemilihan varietas Inpari 32 menjadi bagian dari pengujian untuk melihat kesesuaiannya dengan kondisi lokasi dan metode penanaman yang digunakan. Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi sebelum pemerintah menentukan langkah pengembangan selanjutnya.

Benyamin menegaskan, program tersebut masih dalam tahap percobaan sehingga hasil produksinya belum dapat dipastikan.

“Ini uji coba dulu. Satu pot tiga bibit, tiga batang padi, yang nanti akan panennya kita lihat nanti di Januari,” kata Benyamin.

Pemanfaatan Tandon untuk Mendukung Ketahanan Pangan

Selain menguji metode penanaman, Pemkot Tangsel melihat peluang pemanfaatan tandon sebagai salah satu alternatif untuk memperluas kegiatan produksi pangan di tengah keterbatasan lahan.

Benyamin menyebutkan, Tangsel memiliki sekitar 24 tandon yang berpotensi dikaji untuk pengembangan program serupa. Meski demikian, pemanfaatan setiap lokasi perlu mempertimbangkan kondisi dan fungsi tandon agar kegiatan budidaya tidak mengganggu peruntukan utamanya.

Pemerintah daerah juga membuka peluang untuk mengembangkan komoditas lain, seperti sayuran dan cabai. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menambah pilihan sumber produksi pangan dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di kawasan perkotaan.

Di sisi lain, efektivitas program tetap perlu diukur melalui hasil produksi dan perhitungan manfaat ekonominya. Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengetahui sejauh mana metode padi apung dapat mendukung upaya ketahanan pangan daerah.

“Ini sementara ini kita uji coba dulu. Nanti kita lihat hasilnya seperti apa. Termasuk impact benefit-nya juga harus saya ukur,” ujar Benyamin.

Untuk mendukung pelaksanaan dan evaluasi program, Pemkot Tangsel akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Banten, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Kementerian Pertanian, serta perangkat daerah terkait.

Melalui uji coba ini, Pemkot Tangsel berupaya menjajaki metode budidaya yang dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah perkotaan. Hasil evaluasi di Tandon Ciater nantinya akan menjadi pertimbangan dalam menentukan potensi pengembangan padi apung sebagai salah satu alternatif produksi pangan di Tangsel. (Idris Ibrahim)

Exit mobile version