Dr. Zulkifli, MA. (Foto: Ist)OPINI | BD — Setiap insan tak luput dari ujian dalam perjalanan hidupnya. Kehadiran ujian bukan hanya cobaan semata, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Melalui ujian, manusia diajarkan untuk mensyukuri nikmat yang diterima, bersabar menghadapi kesulitan, serta menjaga keimanan di tengah berbagai ketidakpastian. Inilah salah satu jalan seorang hamba untuk meraih cinta serta keridaan Allah.
Dalam buku Kunikmati Ujian-Mu karya Mifta Novikasari dijelaskan bahwa ujian merupakan pesan singkat dari Allah, sebuah tanda perhatian-Nya kepada orang beriman. Dengan ujian pula Allah ingin menyingkap ketulusan iman seorang hamba dan meninggikan derajatnya di hadapan-Nya.
Allah berfirman dalam QS. Al-‘Ankabut (29): 2–3:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sementara mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui siapa yang benar dan siapa yang berdusta.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa iman bukanlah sekadar ucapan, melainkan harus teruji dengan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.
Allah menguji hamba-Nya dengan beragam cara. Secara umum, ujian dapat hadir dalam tiga bentuk utama:
Ujian Syukur – ketika Allah memberi kelapangan rezeki, kesehatan, atau keberhasilan. Nikmat ini bukan sekadar karunia, melainkan juga ujian untuk melihat apakah manusia semakin bersyukur atau malah terlena.
Ujian Sabar – ketika sesuatu yang diinginkan belum dikabulkan. Penundaan ini melatih hati agar tidak mudah berputus asa, tetap tenang, dan terus bersandar kepada Allah.
Ujian Iman – ketika doa tidak terjawab sesuai harapan. Penolakan tersebut sering kali mengandung hikmah yang lebih baik. Inilah bentuk ujian yang sesungguhnya, apakah seorang hamba tetap yakin pada kebijaksanaan Allah atau justru meragukan-Nya.
Banyak orang menganggap ujian sebagai penderitaan. Padahal, jika dijalani dengan rasa syukur, kesabaran, dan iman yang kokoh, ujian justru menjadi jalan menuju kasih sayang Allah. Kadang Allah menasihati manusia dengan peringatan lembut, namun jika itu tidak diindahkan, teguran bisa datang melalui musibah agar kita kembali mendekat kepada-Nya.
Hidup di dunia memang singkat, dan ujian adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuju Allah. Maka, mari belajar menerima ujian dengan lapang dada, sebagai tanda kasih sayang-Nya. Dengan begitu, kita dapat menjaga keimanan, memperkokoh kesabaran, dan menumbuhkan rasa syukur di setiap keadaan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Penulis: Dr. Zulkifli, MA. (*)
Tidak ada komentar