Fadel Ramadhan. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | BD — Media sosial lahir sebagai sebuah ruang baru—ruang yang tidak pernah kita bayangkan akan menjadi begitu dominan dalam ritme hidup sehari-hari. Dahulu, komunikasi berarti hadir, menatap, dan bercakap. Kini, komunikasi cukup dengan mengetuk layar dan berharap notifikasi terkirim. Instagram, TikTok, hingga X (Twitter) telah mengubah cara kita mengukur kehadiran, merayakan identitas, dan memahami realitas sosial.
Tidak berlebihan bila banyak yang menyebut media sosial sebagai “kekuatan transformatif”. Ia bukan lagi sekadar alat, melainkan lanskap sosial yang membentuk bagaimana kita berinteraksi dan memaknai diri.
Seiring tumbuhnya budaya always-on, ritme komunikasi mengalami pergeseran radikal. Interaksi yang dahulu mengutamakan kedalaman dan konteks kini dikemas dalam format yang cepat dan ringkas: foto, video pendek, caption minimalis, hingga deretan emoji.
Media sosial menjadikan komunikasi lebih efisien, tetapi juga lebih rapuh. Kita makin sering berbicara, tetapi semakin jarang mendengarkan. Kita terhubung, namun tidak selalu hadir. Generasi muda bahkan membangun dialek baru—singkatan, meme, bahasa visual—yang mempercepat arus pesan, tetapi terkadang memperlebar jarak pemahaman antar generasi.
Di ruang digital, setiap orang bukan lagi sekadar individu; mereka adalah “brand”.
Foto harus aesthetic, caption harus witty, persona harus konsisten. Validasi eksternal—likes, views, followers—menjadi metrik nilai diri yang baru.
Inilah yang mendorong lahirnya individualisme digital. Banyak dari kita hidup dalam performa sosial yang nyaris tanpa henti. Hanya potongan terbaik hidup yang dipamerkan. Yang retak dan kusut sering disimpan rapat-rapat.
Ironisnya, media sosial juga mendemokratisasi informasi. Semua orang bisa berbicara, semua orang bisa berpengaruh. Ini positif, tetapi efek sampingnya berbahaya: penyebaran hoaks, ruang gema yang mempersempit perspektif, dan menguatnya polarisasi sosial.
Fenomena FOMO fear of missing out menjadi contoh paling nyata dari tekanan budaya digital.
Di Instagram dan TikTok, hidup tampak lebih indah daripada yang sesungguhnya. Dari perjalanan liburan hingga kopi pagi, semuanya dipresentasikan dalam versi yang telah disunting.
Lama-lama, kita membandingkan hidup nyata kita yang tidak sempurna dengan potongan visual orang lain yang sudah dipoles. Komunikasi pun berubah menjadi monolog performatif: unggahan bukan lagi tentang berbagi, tetapi membangun citra.
Algoritma media sosial bekerja seperti bensin bagi emosi. Konten yang memicu kemarahan atau keterkejutan akan mendapat jangkauan lebih besar. Akibatnya, polarisasi opini meningkat.
Cancel culture menjadi bukti bagaimana massa digital dapat berubah menjadi kekuatan yang reaktif.
Ketika seseorang dianggap melakukan kesalahan, hukuman sosial dapat datang begitu cepat—melalui tagar, komentar, dan boikot—sering kali tanpa ruang untuk klarifikasi atau pemulihan.
Di titik ini, media sosial tidak hanya mengubah komunikasi, tetapi juga menata ulang etika publik.
Pada akhirnya, media sosial menghadirkan paradoks: ia menghubungkan manusia secara global, tetapi dapat mengikis kehangatan komunikasi di level personal.
Untuk mengurangi dampak negatifnya—disinformasi, polarisasi, cancel culture—kita perlu membangun literasi digital yang matang. Literasi yang bukan hanya soal kecakapan teknis, tetapi juga kecakapan emosional: skeptis terhadap informasi, kritis terhadap algoritma, dan empatik terhadap sesama pengguna.
Teknologi seharusnya memberdayakan, bukan mengambil alih nilai-nilai sosial kita. Dan untuk itu, kitalah yang harus menguasai media sosial—bukan sebaliknya.
Penulis: Fadel Ramadhan
Mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten. (*)
Tidak ada komentar