JAKARTA | BD — Sekitar 300 mahasiswa dan dosen menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas MH Thamrin, Jakarta, Kamis (22/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi terbuka bagi civitas akademika untuk membahas isu sosial, lingkungan, dan masyarakat adat di Papua.
Sejak awal acara, antusiasme peserta terlihat memenuhi ruang pemutaran film. Tidak hanya mahasiswa dari Universitas MH Thamrin, sejumlah peserta dari berbagai komunitas dan organisasi mahasiswa turut hadir mengikuti rangkaian diskusi hingga selesai.
Film dokumenter Pesta Babi menyoroti kehidupan masyarakat adat Papua yang menghadapi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari persoalan ruang hidup, hutan adat, hingga relasi masyarakat dengan negara. Pemutaran film kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog interaktif bersama Direktur Eksekutif IndexPolitica, Alip Purnomo.
Dalam diskusi tersebut, Alip menilai Papua tidak bisa dipahami hanya melalui pendekatan ekonomi maupun investasi semata. Menurutnya, pembangunan di Papua harus mempertimbangkan aspek kemanusiaan serta keberlangsungan budaya masyarakat adat.
“Hutan bagi orang Papua adalah ‘Mama’. Ketika hutan dihancurkan, yang rusak bukan hanya ekosistem, tetapi juga identitas dan martabat masyarakat Papua,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya negara mendengar suara masyarakat adat sebelum menjalankan berbagai proyek pembangunan di Papua. Menurutnya, pendekatan yang terlalu berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam justru dapat memperbesar konflik sosial dan kerusakan lingkungan.
Kegiatan nobar dan diskusi itu mendapat respons positif dari peserta. Sejumlah mahasiswa mengaku memperoleh perspektif baru mengenai persoalan Papua, terutama terkait kehidupan masyarakat adat dan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis.
BEM Universitas MH Thamrin berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai ruang edukasi publik sekaligus mendorong mahasiswa lebih aktif dalam isu-isu sosial dan kemanusiaan di Indonesia. (*)
