Siapa yang Mengendalikan Hidup Kita di Era Disrupsi Informasi: Diri Sendiri, Sistem, atau Ego?

waktu baca 6 menit
Minggu, 7 Jun 2026 18:00 11 Redaksi

KOLOM | BD — Seorang kawan yang sedang dilanda kegelisahan pernah bertanya kepada saya:

“Apa manfaatnya setiap hari mengonsumsi begitu banyak informasi jika kehidupan kita tidak juga menjadi lebih bijaksana? Mengapa semakin banyak membaca justru semakin sulit membedakan mana yang penting dan mana yang tidak, mana yang bermanfaat dan mana yang hanya kebisingan, mana yang asli dan mana yang sekadar salinan?”

Pertanyaan itu membuat saya merenung cukup lama.

Barangkali persoalan terbesar manusia modern bukan lagi kekurangan informasi. Persoalan terbesar kita justru adalah kesulitan mengenali suara sendiri di tengah begitu banyak suara yang datang dari luar.

Kita sering merasa sedang menjadi diri sendiri. Kita mengira pendapat yang kita sampaikan adalah hasil pemikiran pribadi. Kita percaya pilihan yang kita ambil lahir dari kehendak bebas.

Padahal belum tentu demikian.

Bisa jadi apa yang kita sebut sebagai aku hanyalah kumpulan gema dari berbagai suara yang terus berdatangan: suara keluarga, lingkungan, tradisi, tokoh yang dikagumi, media massa, algoritma media sosial, bahkan suara ego yang diam-diam ingin selalu dibenarkan.

Di era disrupsi informasi, persoalan ini menjadi jauh lebih rumit.

Bahkan sebelum kaki kita menyentuh lantai setiap pagi, kesadaran sudah lebih dahulu dipenuhi berbagai pesan yang datang tanpa henti. Notifikasi berita, video pendek, unggahan media sosial, podcast, opini para ahli, motivator, influencer, ustaz, politisi, hingga komentar publik silih berganti memenuhi ruang perhatian kita.

Tidak pernah dalam sejarah manusia informasi mengalir sedemikian deras seperti hari ini.

Ironisnya, semakin banyak informasi yang tersedia, semakin sulit pula manusia mengenali dirinya sendiri.

Kita mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memahami.

Kita terhubung dengan banyak orang, tetapi belum tentu mengenal diri.

Kita memiliki akses terhadap pengetahuan yang hampir tak terbatas, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan.

Di tengah situasi semacam ini, muncul satu pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar:

Apakah yang sedang kita pikirkan benar-benar hasil pemikiran kita sendiri?

Ataukah sebagian besar hanyalah gema dari suara-suara yang setiap hari memenuhi kesadaran kita?

Pertanyaan ini penting karena manusia tidak hanya dibentuk oleh apa yang ia ketahui, melainkan juga oleh apa yang terus-menerus ia dengar.

Apa yang diulang berkali-kali perlahan terasa seperti kebenaran.

Apa yang terus muncul di layar tampak semakin penting.

Apa yang ramai dibicarakan akhirnya dianggap layak dipercaya.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Sebab tidak semua yang populer adalah benar.

Tidak semua yang viral adalah penting.

Dan tidak semua yang ramai diperbincangkan layak menguasai perhatian kita.

Lebih dari dua ribu tahun lalu, Socrates telah mengingatkan manusia tentang pentingnya memeriksa kehidupan. Baginya, hidup yang tidak diperiksa adalah hidup yang kehilangan makna.

Jika Socrates hidup di era media sosial, mungkin ia akan bertanya:

“Pendapat yang sedang kau pertahankan itu benar-benar hasil perenunganmu, atau sekadar pendapat yang kebetulan sedang populer hari ini?”

Socrates mengajarkan sesuatu yang mulai langka di zaman digital: keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya.

Beberapa abad kemudian, René Descartes mengajarkan pentingnya keraguan. Ia meragukan segala sesuatu sebelum menerimanya sebagai kebenaran.

Sikap semacam itu terasa semakin relevan hari ini.

Kita hidup di tengah potongan-potongan fakta yang kehilangan konteks, opini yang menyamar sebagai fakta, dan keyakinan yang terus diulang hingga tampak seperti kebenaran yang tak terbantahkan.

Meragukan bukan berarti menolak segala sesuatu.

Meragukan berarti memberi kesempatan kepada akal untuk bekerja sebelum hati memutuskan percaya.

Kemudian Jean-Paul Sartre berbicara tentang kebebasan.

Menurut Sartre, manusia memang bebas. Namun kebebasan bukanlah hadiah yang nyaman. Kebebasan adalah tanggung jawab.

Masalahnya, banyak orang ingin dianggap bebas tanpa bersedia memikul tanggung jawab untuk berpikir.

Mereka lebih nyaman menyerahkan penilaian kepada kelompok, tokoh, media, atau algoritma yang mereka ikuti.

Padahal setiap kali seseorang berhenti berpikir dan hanya mengikuti arus, pada saat yang sama ia sedang menyerahkan sebagian kebebasannya.

Nietzsche mengajak manusia menggali persoalan yang lebih dalam lagi.

Ia mempertanyakan asal-usul nilai yang diyakini manusia. Mengapa sesuatu dianggap baik? Mengapa sesuatu dianggap buruk? Mengapa seseorang dipuja, sementara yang lain dibenci?

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa sangat relevan hari ini.

Sebab banyak penilaian kita ternyata tidak lahir dari perenungan, melainkan dari pengulangan.

Kita menganggap sesuatu penting karena terus melihatnya.

Kita menganggap sesuatu benar karena terus mendengarnya.

Kita menganggap sesuatu berharga karena banyak orang mengatakan demikian.

Lalu Derrida mengingatkan bahwa di balik setiap narasi selalu ada asumsi yang tersembunyi. Di balik setiap bahasa terdapat sudut pandang. Dan di balik setiap klaim kebenaran sering kali tersimpan kepentingan tertentu.

Karena itu, ketika sebuah informasi tampil seolah-olah sebagai kebenaran mutlak, mungkin justru saat itulah kita perlu bertanya lebih dalam.

Namun para sufi melangkah lebih jauh daripada para filsuf.

Jika para filsuf mempertanyakan pengetahuan, para sufi mempertanyakan siapa yang sedang menggunakan pengetahuan itu.

Jika para filsuf bertanya tentang kebenaran, para sufi bertanya tentang keadaan hati yang sedang mencari kebenaran tersebut.

Imam Al-Ghazali, setelah melewati krisis intelektual yang panjang, sampai pada kesimpulan bahwa masalah manusia tidak selalu terletak pada kurangnya pengetahuan.

Sering kali persoalannya justru terletak pada hati yang tertutup oleh kesombongan, kepentingan, dan hawa nafsu.

Seseorang bisa mengetahui banyak hal, tetapi tetap gagal melihat kebenaran.

Seseorang bisa sangat cerdas, tetapi tetap diperbudak oleh dirinya sendiri.

Di sinilah Ibn Atha’illah as Sakandari memberikan peringatan yang terasa sangat aktual.

Musuh terbesar manusia tidak selalu kebodohan.

Sering kali musuh terbesar manusia adalah ego yang ingin selalu merasa benar.

Bukankah itu yang banyak kita saksikan hari ini?

Orang membaca bukan untuk memahami, melainkan untuk mencari pembenaran.

Orang berdiskusi bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk memenangkan perdebatan.

Orang berbicara bukan untuk mendengarkan, melainkan untuk didengar.

Akibatnya, banjir informasi tidak selalu melahirkan manusia yang lebih bijaksana.

Kadang justru melahirkan manusia yang semakin yakin pada dirinya sendiri tanpa pernah sungguh-sungguh memeriksa dirinya.

Di titik inilah ajaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani terasa begitu relevan.

Beliau mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi menghantam langsung ke pusat persoalan manusia:

“Engkau mengaku bebas, tetapi sebenarnya hatimu terikat kepada apa?”

Hari ini keterikatan itu mungkin bukan lagi sekadar harta atau jabatan.

Ia bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: kebutuhan untuk selalu diakui, keinginan memperoleh validasi, ketergantungan pada jumlah pengikut, atau dorongan untuk selalu tampak benar di hadapan orang lain.

Karena itu, tantangan terbesar manusia abad ini sesungguhnya bukan kekurangan informasi.

Informasi tersedia di mana-mana.

Yang semakin langka adalah kesadaran.

Kesadaran untuk berhenti di tengah kebisingan.

Kesadaran untuk memeriksa apa yang kita yakini.

Kesadaran untuk membedakan antara suara hati, suara sistem, dan bisikan ego.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa banyak informasi yang kita miliki.

Melainkan:

Siapa yang sesungguhnya sedang mengendalikan hidup kita?

Diri kita?

Sistem?

Algoritma?

Kerumunan?

Atau ego yang diam-diam menyamar sebagai kebenaran?

Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah kita benar-benar merdeka, atau hanya menjadi penumpang yang terbawa arus besar zaman tanpa pernah mengetahui ke mana sebenarnya kita sedang menuju.

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Pemimpin Redaksi BantenDaily. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA