Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid saat memantau pelaksanaan MBG di SPPG Parahu 2 yang melayani sekitar 2.500 penerima manfaat, dengan proses distribusi makanan menggunakan armada khusus menuju titik penerima. (Foto: Ist)TANGERANG | BD — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Parahu 2 di Desa Parahu, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang, melayani sekitar 2.500 penerima manfaat dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pelaksanaan dan proses distribusi makanan tersebut dipantau langsung oleh Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, saat melakukan kunjungan ke SPPG Parahu 2, Selasa (6/10/2026).
Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana makanan yang telah disiapkan di SPPG didistribusikan menuju titik-titik penerima manfaat. Dalam kunjungan tersebut, Maesyal turut didampingi jajaran Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Puskesmas, Camat Sukamulya, serta Kepala Desa Parahu.
Bupati Maesyal mengatakan, penerima manfaat SPPG Parahu 2 berasal dari sejumlah kelompok sasaran program MBG.
Mereka mencakup balita, anak-anak sekolah jenjang TK, SD, dan SMP, serta ibu hamil. Dengan jumlah penerima yang mencapai sekitar 2.500 orang, pengelolaan distribusi menjadi salah satu bagian penting agar makanan dapat diterima sesuai waktu dan kebutuhan.
“Alhamdulillah, hari ini kami bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Puskesmas, Pak Camat dan Pak Kepala Desa melihat secara langsung operasional SPPG di Desa Parahu. Alur-alurnya sudah dijelaskan dan sesuai dengan SOP. Sertifikat higienis dari Dinas Kesehatan juga sudah keluar,” ujar Bupati Maesyal Rasyid.
Untuk mendukung pendistribusian, SPPG Parahu 2 menggunakan armada khusus. Waktu tempuh menuju titik penerima manfaat ditargetkan maksimal sekitar 15 menit.
Menurut Maesyal, pengaturan waktu tersebut menjadi penting mengingat makanan harus didistribusikan kepada penerima manfaat dalam kondisi yang baik. Karena itu, koordinasi antara dapur SPPG dengan petugas distribusi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan MBG.
Dalam proses distribusinya, makanan MBG ditempatkan menggunakan wadah ompreng. Setelah makanan selesai dikonsumsi, wadah tersebut tidak langsung menjadi limbah, melainkan ditarik kembali oleh petugas untuk dibersihkan dan digunakan kembali.
Pengambilan wadah dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB setelah makanan selesai dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Sistem tersebut membuat proses distribusi tidak berhenti ketika makanan telah sampai kepada penerima. Setelah pengantaran dan konsumsi selesai, terdapat tahapan lanjutan berupa pengambilan dan pembersihan wadah untuk mendukung operasional berikutnya.
Maesyal menilai ketepatan waktu menjadi salah satu hal yang harus terus dijaga dalam pelaksanaan program MBG. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari tersalurkannya makanan, tetapi juga dari bagaimana makanan tersebut diterima oleh kelompok sasaran sesuai waktu yang telah ditentukan.
“Yang paling penting adalah bagaimana program ini terus berjalan dengan baik, makanannya bergizi, prosesnya higienis, distribusinya tepat waktu, dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Dengan cakupan penerima yang cukup besar, keberadaan SPPG menjadi bagian penting dalam memastikan makanan bergizi dapat menjangkau kelompok sasaran di wilayah pelayanan.
Maesyal berharap SPPG Parahu 2 dapat mempertahankan pola kerja yang telah berjalan, terutama dalam mengatur alur distribusi dan memastikan makanan sampai kepada penerima manfaat tepat waktu.
Ia juga mendorong adanya koordinasi antara pengelola SPPG dengan pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan pelaksanaan MBG berjalan secara terarah dan kebutuhan gizi penerima manfaat tetap menjadi perhatian.
Pemantauan langsung terhadap distribusi MBG di SPPG Parahu 2 menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk memastikan program tersebut dapat berjalan secara optimal di lapangan, terutama dalam menjangkau ribuan penerima manfaat secara tepat waktu dan teratur. (*)
Tidak ada komentar