JAKARTA | BD – Kerusakan parah di ruas Tol Jakarta–Tangerang mendapat sorotan dari DPR RI. Komisi V DPR memperingatkan kondisi jalan yang rusak berpotensi memicu kecelakaan, terutama menjelang meningkatnya arus mudik Lebaran.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, mengatakan pihaknya menerima banyak pengaduan masyarakat terkait kondisi jalan tol tersebut. Laporan disampaikan melalui berbagai kanal, mulai dari pesan WhatsApp hingga laporan langsung kepada anggota DPR.
“Kerusakan jalan cukup parah sampai masyarakat tidak tahan lagi dan akhirnya menyampaikan langsung ke Komisi V. Karena itu kami melakukan sidak ke ruas Tol Jakarta–Tangerang yang banyak dikeluhkan,” kata Huda, Kamis malam (12/3/2026).
Dari hasil inspeksi mendadak (sidak), Komisi V menemukan sejumlah kerusakan serius di beberapa ruas tol dan jalan arteri. Namun kondisi paling parah ditemukan di ruas Tol Jakarta–Tangerang yang dikelola oleh Jasa Marga.
Huda mengingatkan bahwa seluruh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) wajib memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) jalan tol. Komisi V bahkan telah membentuk panitia kerja (Panja) khusus untuk mengawasi pemenuhan standar tersebut.
“Ada 16 indikator dalam SPM yang harus dipenuhi oleh semua BUJT. Dalam beberapa ruas yang kami lihat, indikator itu tidak sepenuhnya dipenuhi sesuai regulasi, baik dalam PP maupun Permen PU,” ujarnya.
Ia menegaskan kerusakan jalan tol tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan langsung dengan keselamatan pengguna jalan. Bahkan beberapa anggota Komisi V yang rutin melintasi ruas tersebut mengaku merasakan langsung dampaknya.
“Dua anggota Komisi V asal Lampung yang sering bolak-balik lewat jalur ini mengatakan secara objektif kondisi jalannya memang buruk. Mobil sampai terasa bergoyang,” kata Huda.
Persoalan ini juga telah disampaikan dalam rapat kerja Komisi V bersama Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, serta 16 operator jalan tol termasuk Jasa Marga.
Komisi V mendesak agar perbaikan segera dipercepat mengingat arus mudik Lebaran semakin dekat. Huda menyebut keluhan publik sudah sangat serius, bahkan sebagian masyarakat mengancam akan melakukan aksi demonstrasi jika tidak ada perbaikan segera.
“Dalam jangka pendek harus ada percepatan perbaikan. Jalan rusak ini berisiko menyebabkan kecelakaan. Kalau belum bisa diperbaiki, minimal harus diberi tanda peringatan agar tidak membahayakan pengguna jalan,” tegasnya.
Komisi V juga menyoroti kewajiban penyelenggara jalan tol untuk memastikan kemantapan jalan, kelengkapan rambu, jalur keselamatan, rest area yang layak hingga penerangan jalan sesuai standar.
Selain itu, Huda menegaskan pengawasan terhadap operator jalan tol harus diperketat. Ia meminta Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) bertindak tegas jika ada operator yang tidak memenuhi SPM.
“Kalau setelah evaluasi tidak ada kesungguhan perbaikan, BPJT bisa menjatuhkan sanksi tegas. Salah satunya menurunkan tarif tol atau bahkan menolak usulan kenaikan tarif,” ujarnya.
Di sisi lain, operator jalan tol selama ini berdalih kerusakan jalan juga dipicu kendaraan ODOL (over dimension over load) yang melampaui kapasitas jalan. Namun Huda menegaskan alasan tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran.
“Apapun alasannya, kerusakan jalan tol yang membahayakan pengguna tidak bisa ditoleransi,” kata Huda.
Ia juga mengingatkan kemacetan akibat kerusakan jalan dapat memicu penumpukan kendaraan, keterlambatan perjalanan mudik, hingga meningkatkan risiko kelelahan pengemudi di jalan.
Komisi V menegaskan peringatan keras sebenarnya sudah disampaikan sejak dua bulan lalu. Jika tidak ada perbaikan nyata, DPR menilai ada unsur kelalaian bahkan pembiaran.
“Warning dari Komisi V sudah kami sampaikan sejak lama. Kalau sampai sekarang belum ada perbaikan serius, itu bisa masuk kategori kelalaian,” tegasnya.
Sementara itu, Jasamarga Metropolitan Tollroad (JMT) Regional Division selaku pengelola Ruas Tol Jakarta–Tangerang menyatakan terus melakukan perbaikan perkerasan jalan di sejumlah titik sebagai bagian dari upaya pemeliharaan jalan tol.
Senior General Manager JMT Widiyatmiko Nursejati mengatakan pihaknya telah mengerahkan sejumlah tim untuk mempercepat perbaikan menjelang arus mudik dan balik Idulfitri 1447 H.
“Kami terus mengoptimalkan upaya perbaikan melalui pengerahan beberapa tim pemeliharaan yang bekerja secara bertahap di sejumlah titik. Saat ini terdapat tiga tim rekonstruksi dengan masing-masing 15 personel, satu tim Scrapping, Filling, and Overlay (SFO) beranggotakan 10 personel, serta enam tim patching beranggotakan masing-masing lima personel,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Ia menambahkan pekerjaan pemeliharaan perkerasan menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya masih tingginya curah hujan di wilayah Jabodetabek serta tingginya volume kendaraan berat yang melintas, termasuk kendaraan bermuatan berlebih.
Perbaikan saat ini diprioritaskan pada segmen KM 8 hingga KM 26 Ruas Tol Jakarta–Tangerang.
Menurut Widiyatmiko, pekerjaan perbaikan permanen seperti rekonstruksi dan SFO masih dapat dilaksanakan hingga 15 Maret 2026 dengan mempertimbangkan telah memasuki masa puncak arus mudik Idulfitri 1447 H.
Sementara itu, penanganan sementara seperti patching tetap dilanjutkan selama periode pelayanan arus mudik dan balik melalui tim “sapu lubang” yang secara rutin melakukan penyisiran di sepanjang ruas tol.
Sejak 11 Maret 2026, perbaikan perkerasan telah dilakukan di sejumlah titik di kedua arah lalu lintas. Selain itu, pada Kamis malam (12/3) dilakukan pekerjaan patching di 92 titik yang tersebar di dua arah lalu lintas Ruas Tol Jakarta–Tangerang.
Sebanyak 49 titik pekerjaan berada di Jalur A pada rentang KM 2+100 hingga KM 26+300, sementara 43 titik lainnya berada di Jalur B pada rentang KM 1+700 hingga KM 23+150. Pekerjaan dilaksanakan pada pukul 22.00 WIB hingga 04.30 WIB guna meminimalkan gangguan terhadap arus lalu lintas.
Jasa Marga memastikan proses perbaikan perkerasan jalan akan terus dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan kondisi lalu lintas agar pelayanan kepada pengguna jalan tetap berjalan dengan baik. (*)
Tidak ada komentar