OPINI | BD — Pemikiran Santo Agustinus (354–430 M) menempati posisi penting dalam sejarah filsafat Barat, terutama pada masa transisi dari filsafat klasik menuju filsafat abad pertengahan. Ia dikenal sebagai tokoh yang berupaya memadukan ajaran Kristen dengan rasionalitas filsafat Yunani, khususnya pemikiran Plato dan para Neoplatonis. Dengan cara itu, Agustinus menjadi jembatan antara filsafat dan teologi, suatu peran yang kemudian sangat memengaruhi perkembangan pemikiran abad pertengahan hingga masa modern.
Tulisan ini membahas gagasan utama Agustinus mengenai hubungan iman dan akal, konsep kebenaran, serta pemahaman tentang Tuhan dan manusia dalam perspektif metafisik dan moral.
Latar Belakang Pemikiran Agustinus
Sebelum menjadi pemikir Kristen, Agustinus mengalami perjalanan panjang pencarian spiritual dan intelektual. Ia sempat menganut Manikheisme dan skeptisisme, hingga akhirnya memeluk agama Kristen setelah melalui proses perenungan mendalam (Brown, 2000).
Karyanya yang terkenal, Confessiones, merupakan autobiografi reflektif yang menggambarkan pergulatannya mencari kebenaran dan Tuhan. Agustinus banyak terinspirasi oleh filsafat Plato melalui Plotinus, tokoh Neoplatonisme, yang menekankan bahwa realitas tertinggi bersifat immaterial dan sempurna. Tetapi ia menafsirkan gagasan tersebut dalam bingkai teologi Kristen, dengan menegaskan bahwa Tuhan adalah sumber dari kebenaran, kebaikan, dan keberadaan (Gilson, 1955).
Hubungan Iman dan Akal
Agustinus meyakini bahwa iman dan akal bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Ungkapan terkenalnya, credo ut intelligam (“Aku beriman supaya aku mengerti”), menunjukkan bahwa iman menjadi fondasi agar akal mampu memahami realitas.
Menurut Agustinus, kebenaran tidak dapat dicapai hanya dengan rasio, sebab rasio manusia terbatas oleh dosa dan ketidaksempurnaan (Matthews, 2005). Akal dapat berfungsi secara benar hanya jika diterangi oleh iman.
Ia menolak rasionalisme ekstrem yang menganggap akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran, sekaligus menolak fideisme yang meniadakan peran akal. Sinergi antara keduanya menjadi karakter khas filsafat Agustinus dan menginspirasi pemikir skolastik seperti Thomas Aquinas.
Konsep Tuhan dan Kebenaran
Dalam filsafat Agustinus, Tuhan adalah pusat realitas dan sumber kebenaran mutlak. Ia menegaskan bahwa kebenaran bersifat abadi, tidak berubah, dan berada di atas pikiran manusia. Karena manusia bersifat fana, maka kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam Tuhan (TeSelle, 2004).
Agustinus menolak relativisme dan berpendapat bahwa pengetahuan sejati dicapai melalui iluminasi ilahi (divine illumination), yaitu ketika akal manusia diterangi oleh cahaya Tuhan sehingga dapat mengenali kebenaran. Dengan demikian, proses berpikir manusia merupakan bentuk partisipasi dalam kegiatan ilahi.
Hakikat Manusia dan Dosa Asal
Agustinus menempatkan manusia sebagai makhluk yang pada asalnya baik, namun kehendak bebasnya kerap disalahgunakan sehingga menjauh dari Tuhan. Dalam De Civitate Dei (Kota Allah), ia membedakan dua kota: “Kota Allah”, yang dibangun atas dasar cinta kepada Tuhan, dan “kota dunia”, yang dibangun atas dasar cinta diri.
Dualitas ini menggambarkan ketegangan moral dan spiritual manusia (O’Donnell, 2015). Baginya, kehendak manusia telah rusak oleh dosa asal, dan hanya kasih karunia Tuhan yang mampu memulihkannya. Tuhan, bukan manusia, adalah agen utama keselamatan.
Etika dan Tujuan Hidup
Dalam etika Agustinus, tujuan tertinggi manusia adalah kebahagiaan sejati yang hanya dapat ditemukan dalam Tuhan. Ia menolak pandangan hedonistik dan materialistik yang memusatkan kebahagiaan pada kenikmatan indrawi.
Baginya, kehidupan moral adalah soal mengarahkan cinta secara benar (ordo amoris), yaitu mencintai hal-hal sesuai urutan kepantasannya, dengan Tuhan sebagai objek cinta tertinggi (Gilson, 1955).
Kesalahan moral muncul ketika manusia mencintai ciptaan melebihi Sang Pencipta. Karena itu, perjalanan hidup manusia pada dasarnya adalah perjalanan kembali kepada Tuhan melalui cinta, iman, dan pengetahuan.
Relevansi Pemikiran Agustinus
Pemikiran Agustinus tetap relevan dalam dunia modern, terutama terkait relasi antara iman dan rasio, serta persoalan etika dan spiritualitas. Dalam masyarakat yang semakin sekuler, Agustinus mengingatkan bahwa makna hidup dan kebenaran tidak dapat dicapai hanya melalui rasionalitas instrumental.
Gagasannya tentang cinta, kehendak bebas, dan tanggung jawab moral menjadi dasar refleksi bagi etika kontemporer, teologi eksistensial, hingga studi tentang moralitas modern (Wetzel, 2010).
Kesimpulan
Agustinus menghadirkan sintesis antara akal dan iman, dan meyakini bahwa kebenaran sejati hanya dapat dicapai melalui partisipasi manusia dalam kegiatan ilahi. Ia menekankan bahwa cinta harus diatur secara benar, dengan Tuhan sebagai tujuan tertinggi.
Manusia pada dasarnya baik, namun rusak oleh dosa asal dan penyalahgunaan kehendak bebas. Karena itu, hanya kasih karunia Tuhan yang dapat memulihkan manusia dan menuntunnya menuju kebahagiaan sejati—bukan kebahagiaan duniawi yang bersifat sementara, tetapi kebahagiaan yang terletak dalam hubungan kembali kepada Tuhan melalui cinta, iman, dan pengetahuan.
Penulis: Muhammad Nashshar Al Fayyadh
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)
Tidak ada komentar