Ancaman atau Peluang? Menyikapi Dominasi AI dalam Perkembangan Ilmu Sosial

waktu baca 3 menit
Selasa, 2 Des 2025 12:10 125 Nazwa

OPINI | BD — Pertanyaan mengenai apakah kecerdasan buatan (AI) merupakan ancaman atau peluang bagi masa depan ilmu sosial telah menjadi perdebatan yang tak kunjung usai. Dominasi AI bukan lagi sekadar wacana futuristik yang digaungkan para ilmuwan data, melainkan kenyataan yang mulai menggeser cara tradisional dalam memahami masyarakat. AI telah menunjukkan kemampuan yang hampir mustahil ditandingi manusia—mengolah big data, membaca pola interaksi sosial, hingga memprediksi kecenderungan perilaku publik dalam skala masif dan kecepatan yang mengagumkan. Namun di balik janji efisiensi tersebut, muncul pula bayang-bayang kekhawatiran: apakah ketergantungan berlebihan pada mesin akan mengikis sensitivitas, empati, dan daya kritis yang menjadi inti dari ilmu sosial?

Tidak bisa dipungkiri, perkembangan AI telah merambah dunia penelitian sosial dengan dampak signifikan. Berkat algoritma machine learning, peneliti kini dapat memetakan persebaran hoaks, membaca kecemasan publik terhadap isu tertentu, bahkan mengidentifikasi titik-titik potensi konflik sosial. Kemampuan ini membuka ruang baru bagi penelitian interdisipliner yang lebih akurat dan berbasis bukti—sebuah kemajuan yang tak mungkin dicapai hanya melalui metode observasi manual.

Namun demikian, ilmu sosial bukanlah sekadar urusan data. Ia adalah disiplin yang mencoba memahami manusia sebagai makhluk bernilai dan berpengalaman. Di sinilah persoalan muncul. AI mampu membaca pola, tetapi tidak memahami makna; ia bisa memetakan emosi, tetapi tak memiliki empati; ia dapat mengolah representasi perilaku, tetapi tidak punya kesadaran moral. Jika seluruh proses analisis diserahkan kepada mesin, maka akan muncul jurang antara pengetahuan yang diproduksi dan realitas manusia yang sesungguhnya hidup dalam ruang kompleksitas sosial.

Karena itu, tantangan utama bukanlah memilih antara menolak atau menerima AI, melainkan menetapkan batas etis dan epistemologis dalam penggunaannya. Teknologi harus ditempatkan sebagai mitra, bukan pengganti. Para akademisi dan praktisi sosial perlu merumuskan pedoman penggunaan AI yang tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan: keadilan sosial, empati, refleksi, dan kritik. AI dapat mempercepat analisis, tetapi interpretasi tetap milik manusia.

Dalam konteks ini, era digital menuntut kita untuk menemukan titik keseimbangan antara rasionalitas teknologi dan kedalaman pemikiran manusia. Ilmu sosial tidak boleh terjebak dalam determinisme data, namun juga tidak boleh mengabaikan peluang besar yang ditawarkan AI. Dengan memadukan kecanggihan mesin dan kebijaksanaan manusia, penelitian sosial justru dapat menjadi lebih komprehensif—lebih mampu membaca dinamika masyarakat yang terus berubah.

Pada akhirnya, masa depan ilmu sosial tidak ditentukan oleh AI itu sendiri, melainkan oleh bagaimana manusia menggunakannya. AI tidak mampu mengarahkan kemajuan sosial tanpa sentuhan nilai, moral, dan intuisi manusia. Justru manusialah yang harus memastikan bahwa teknologi ini menjadi peluang, bukan ancaman.

Penulis: Chrystin Lidia Nauli Waruwu
Mahasiswa Prodi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Pamulang Kota Serang. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA