Bahasa di Media Sosial: Kebebasan Ekspresi atau Ancaman?

waktu baca 5 menit
Minggu, 21 Des 2025 16:11 107 Nazwa

OPINI | BD – Cara manusia berkomunikasi telah membawa banyak perubahan di dunia teknologi digital. Media sosial berkembang secara signifikan dan bukan hanya sekadar tempat untuk berbagi informasi pribadi, sekarang justru telah terjadi alih fungsi sebagai tempat publik baru di mana kritik, ide, dan gagasan dapat dipertukarkan secara bebas. Bahasa menjadi faktor utama untuk membentuk opini publik dan memengaruhi masyarakat terhadap peristiwa di ruang ini.

Namun, kebebasan berbahasa yang nyaris tanpa batas di media sosial banyak menimbulkan dilema. Hal tersebut memberikan kebebasan untuk berargumen tetapi juga dapat menghancurkan norma sosial dan etika berbahasa. Peran bahasa dalam dunia digital menjadi instrumen utama dalam pergeseran argumentasi di dunia maya dan dunia asli, akibatnya ketidakseimbangan antara kebiasaan di dunia asli dan adaptasi di dunia maya.

Bahasa yang digunakan dalam media sosial adalah bukti nyata awal mula kebebasan berekspresi yang dimiliki masyarakat modern. Individu memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan pendapat, kritik, mau pun respons terhadap berbagai problema sosial, politik, dan budaya. Dengan keberagaman kebebasan ini adalah bentuk nyata dari ruang yang terbuka untuk demokrasi digital, yang memungkinkan partisipasi publik yang lebih luas. Bahasa memberi kesempatan terhadap orang untuk berbicara, menyuarakan argumen, dan memperjuangkan kepentingan bersama tanpa terhambat oleh batasan-batasan struktural seperti yang ditemukan dalam media konvensional.

Penggunaan bahasa yang tidak bertanggung jawab di media sosial juga dapat mengancam budaya berbahasa yang beradab dan kualitas komunikasi. Bahasa yang kasar, tidak teratur, dan tidak reflektif dapat memengaruhi pola pikir secara instan, terutama pada anak-anak. Situasi ini dapat merusak kesantunan, empati, dan rasionalitas dalam berkomunikasi jika dibiarkan. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital dan etika berbahasa sangat penting untuk menjaga kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial.

Tidak ada cara untuk melihat fenomena bahasa di media sosial secara hitam putih. Di satu sisi, ia memungkinkan banyak kebebasan ekspresi, tetapi di sisi lain justru menimbulkan banyak masalah baru dalam kehidupan sosial. Cara masyarakat berbicara di ruang digital menunjukkan bagaimana kebebasan dimaknai dan digunakan. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang apakah bahasa media sosial membantu atau menimbulkan masalah, beberapa argumen berikut harus dibahas.

Pertama, media sosial memungkinkan semua orang untuk berkomunikasi. Siapa pun dapat menyuarakan pendapat, mengkritik kebijakan publik, atau menanggapi isu-isu sosial tanpa harus memiliki posisi atau kekuasaan tertentu. Karena bahasa yang digunakan di media sosial dapat mengakomodasi suara yang sebelumnya terpinggirkan, bahasa ini menjadi simbol demokratisasi ruang publik. Kebebasan berbahasa membantu warga negara berpartisipasi dalam situasi ini.

Kedua, kebebasan sering disalahartikan sebagai kebebasan mutlak tanpa batas. Banyak pengguna media sosial tidak mengikuti standar kesantunan berbahasa. Provokasi berbasis identitas, penghinaan, dan ujaran kebencian semakin marak. Bahasa tidak lagi digunakan untuk menyampaikan ide-ide secara rasional. Sebaliknya, hal ini digunakan untuk menggiring opini dan menyerang orang lain. Kondisi ini dapat menyebabkan perselisihan sosial dan memperluas ruang perpecahan di masyarakat.

Ketiga, cara pengguna media sosial dalam berpikir dapat mempengaruhi kebiasaan berbahasa penggunanya. Karena kecepatan media sosial, orang sering menggunakan bahasa yang singkat, tidak runtut, dan kurang berpikir. Akibatnya, mereka sering menggunakan respons impulsif daripada berpikir kritis. Jika generasi muda menjadi pengguna media sosial yang paling banyak, mereka berisiko mengadopsi gaya komunikasi yang tidak jelas dan tidak bertanggung jawab.

Keempat, masalah bahasa di media sosial diperparah oleh kurangnya literasi digital. Banyak pengguna tidak dapat membedakan kritik dari penghinaan, kebenaran dari kepercayaan, dan ekspresi kebebasan dari pelanggaran etika. Bahasa yang tidak jelas dan provokatif sering digunakan untuk menyebarkan hoaks dan menipu orang. Dalam keadaan seperti ini, bahasa dapat berfungsi sebagai alat kekuasaan dan dapat memengaruhi pandangan masyarakat yang tidak positif.

Kelima, permasalahan berbahasa di media sosial tidak dapat diselesaikan hanya dengan undang-undang. Meskipun penerapan hukum sangat penting. Tetapi tanpa adanya kesadaran publik justru dapat menimbulkan masalah akan terus berulang. Pendidikan bahasa yang menekankan empati, kesantunan, dan logika harus diperkuat, terutama di rumah dan sekolah. Bahasa dapat kembali digunakan untuk membangun dialog daripada konflik.

Bahasa yang digunakan dalam media sosial memiliki dua sisi yang bertentangan. Di satu sisi, bahasa adalah alat kebebasan berekspresi yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan semangat masyarakat, memfasilitasi ruang untuk diskusi, dan mendorong partisipasi publik dalam berbagai masalah penting. Media sosial dapat berfungsi sebagai tempat untuk bertukar ide, belajar dari satu sama lain, dan memperkuat prinsip demokrasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa yang kritis dan santun.

Jika bahasa media sosial digunakan tanpa kesadaran moral, ia dapat menjadi ancaman. Bahasa yang provokatif, manipulatif, dan sarat emosi dapat mengganggu komunikasi dan melemahkan kohesi sosial. Media sosial menciptakan ruang publik yang bising, penuh konflik, dan jauh dari tujuan meningkatkan kehidupan bersama ketika kebebasan berekspresi tidak dibarengi dengan kontrol diri, empati, dan literasi digital.

Pada akhirnya, gaya bahasa yang digunakan di media sosial menunjukkan peradaban masyarakat yang menggunakannya. Cara seseorang berbicara, membuat kalimat, dan memilih kata menunjukkan tingkat kesadaran sosial dan kematangan berpikir mereka. Kebebasan berekspresi bukan hanya hak untuk berbicara tanpa batas, itu juga memerlukan kewajiban moral untuk menjaga kesantunan, kejujuran, dan kebenaran dalam berbicara.

Tanpa kesadaran tersebut, kebebasan justru berpotensi melahirkan kekacauan komunikasi dan merusak tatanan sosial. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan literasi digital dan pendidikan etika berbahasa di era digital. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab strategis untuk mempromosikan penggunaan bahasa yang berempati, kritis, dan bertanggung jawab. Media sosial akan berkembang menjadi ruang publik yang sehat, mencerdaskan, dan berkontribusi positif bagi peradaban jika kebebasan dan tanggung jawab dapat diimbangi.

Penulis: Kandah Rosul, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA