Belajar Indonesia dari Desa, Mahasiswa Taiwan Gelar Program Pengabdian di Indramayu

waktu baca 3 menit
Jumat, 7 Agu 2026 16:07 0 Nazwa

INDRAMAYU | BD — Belajar tentang Indonesia tidak selalu dilakukan di ruang kuliah. Sebanyak 14 mahasiswa National Dong Hwa University (NDHU), Hualien, Taiwan, memilih tinggal dan berbaur dengan masyarakat Desa Juntiweden, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, melalui program pengabdian masyarakat yang berlangsung pada 2–25 Agustus 2026. Selain mempelajari budaya dan kehidupan masyarakat desa, mereka juga menggelar berbagai kegiatan pemberdayaan bagi komunitas pekerja migran dan pendidikan bagi pelajar.

Program tersebut merupakan bagian dari MOE Overseas & New Southbound Internship Program, sebuah inisiatif Pemerintah Taiwan untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melalui kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, Migrant CARE Indramayu bertindak sebagai tuan rumah yang memfasilitasi seluruh aktivitas para mahasiswa. Indramayu dipilih karena merupakan salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Indonesia, sehingga dinilai memiliki nilai pembelajaran yang kuat terkait isu migrasi.

Kepala Desa Juntiweden, Carsudi, menyambut hangat kedatangan para mahasiswa asal Taiwan tersebut. Menurutnya, kehadiran mereka menjadi kesempatan bagi masyarakat desa untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan.

“Saya berharap warga dan komunitas di Desa Juntiweden bisa belajar banyak dari teman-teman Taiwan ini. Semoga para mahasiswa betah dan kerasan tinggal di sini,” ujar Carsudi saat penyambutan di Balai Desa Juntiweden, 3 Agustus 2026.

Dosen pembimbing kegiatan, Prof. Li-fang Liang, mengatakan program ini tidak hanya menjadi sarana berbagi ilmu, tetapi juga kesempatan bagi mahasiswa Taiwan untuk memahami kehidupan masyarakat Indonesia secara langsung.

“Terlepas dari berbagai kegiatan yang akan kami lakukan di sini, ini merupakan kesempatan berharga bagi kami untuk belajar dari masyarakat Indonesia,” kata Li-fang Liang, peneliti yang telah lama mendalami isu migrasi, termasuk pekerja migran Indonesia di Taiwan.

Selama hampir satu bulan, para mahasiswa menjalankan dua program utama. Pertama, program pemberdayaan masyarakat yang menyasar komunitas pekerja migran, mantan pekerja migran yang tergabung dalam Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI), calon pekerja migran, serta anak-anak pekerja migran.

Melalui workshop migrasi aman, peserta memperoleh edukasi mengenai hak-hak pekerja migran di Taiwan, perbedaan budaya Indonesia dan Taiwan, serta pentingnya menjaga kesehatan mental. Mereka juga dibekali pemahaman agar mampu mengedukasi calon pekerja migran lainnya untuk menghindari praktik perekrutan ilegal, kerja paksa, dan berbagai bentuk pelanggaran hak selama bekerja di luar negeri.

Program tersebut disusun berdasarkan fakta bahwa masih banyak pekerja migran yang belum memahami hak-haknya. Kondisi itu menyebabkan sebagian dari mereka menerima upah di bawah standar, mengerjakan pekerjaan di luar kontrak, hingga memilih jalur keberangkatan ilegal karena minimnya informasi mengenai mekanisme perlindungan.

Selain itu, para mahasiswa memperkenalkan cara pengelolaan sampah yang diterapkan di Taiwan serta dijadwalkan ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang.

Program kedua difokuskan pada bidang pendidikan dengan menggandeng SDN Juntiweden II. Para siswa diajak mengenal bahasa dan budaya Taiwan melalui kegiatan kaligrafi Mandarin, membaca buku berbahasa Mandarin, hingga bermain board game bersama mahasiswa.

Interaksi lintas budaya tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan para pelajar agar memiliki semangat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk menempuh studi di luar negeri, bukan hanya bekerja di sektor informal.

Program ini juga menjadi respons atas fenomena masih banyaknya pelajar di Indramayu yang memilih bekerja ke luar negeri setelah lulus sekolah karena tergiur pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan bekerja di dalam negeri.

Melalui program pengabdian ini, para mahasiswa Taiwan tidak hanya belajar memahami budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia dari desa, tetapi juga berbagi pengetahuan yang diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi wujud penguatan hubungan Indonesia dan Taiwan di bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan pekerja migran.

Laporan: Vanny El Rahman, peneliti doktoral Program Asia-Pacific Regional Studies, National Dong Hwa University (NDHU), Taiwan. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA