LEBAK | BD — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Kelompok 25 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten menggelar sosialisasi pencegahan bullying di SMP Nur Utami Kencana, Desa Cicaringin, Kabupaten Lebak, Senin (3/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut diikuti seluruh siswa kelas VII hingga IX beserta dewan guru sebagai upaya membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.
Kepala SMP Nur Utami Kencana, Mugni Rohim, S.Pd., mengatakan kegiatan KUKERTA merupakan bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus menjadi wadah edukasi bagi peserta didik.
“Kami berharap seluruh siswa mengikuti kegiatan ini dengan baik. Jangan pernah menganggap mengejek teman, termasuk orang tua teman, sebagai candaan biasa. Semoga setelah sosialisasi ini, anak-anak semakin memahami bahwa bullying adalah tindakan yang harus dihentikan,” ujar Mugni saat membuka kegiatan.
Ketua Pelaksana, Ilham Wijaya K., menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah atas dukungan yang diberikan sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan lancar.
“Terima kasih kepada kepala sekolah, dewan guru, dan seluruh siswa yang telah menyambut kami dengan baik. Harapan kami, sosialisasi ini dapat menumbuhkan budaya saling menghargai sehingga tidak ada lagi perilaku saling mengejek maupun bullying di lingkungan sekolah,” katanya.
Sebelum memasuki sesi materi, panitia mengajak peserta mengikuti ice breaking untuk menciptakan suasana yang lebih santai dan interaktif.
Memahami Bullying dan Bentuk-Bentuknya
Pada awal penyampaian materi, pemateri mengawali diskusi dengan pertanyaan, “Apa itu bullying?” Salah seorang siswa kelas IX, Alya, menjawab bahwa bullying merupakan tindakan perundungan berupa penghinaan secara fisik maupun verbal.
Pemateri kemudian menjelaskan bahwa bullying adalah tindakan menyakiti orang lain yang dilakukan secara sengaja, berulang, dan disertai ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban.
“Tidak semua candaan adalah bullying, tetapi ketika seseorang terus-menerus menyakiti orang lain hingga membuat korban merasa takut atau tertekan, itulah bullying. Jika mengalaminya, jangan diam. Beranilah bercerita kepada guru atau orang yang dipercaya,” jelas pemateri.
Peserta juga dikenalkan pada empat bentuk bullying, yakni bullying fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying. Pemateri mencontohkan bahwa tindakan seperti mendorong teman, mengejek fisik, mengucilkan seseorang dari kelompok pertemanan, hingga memberikan komentar yang menghina di media sosial termasuk bentuk perundungan yang harus dihindari.
Dampak Bullying bagi Semua Pihak
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa bullying tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga terhadap pelaku maupun saksi.
Korban berpotensi mengalami rasa takut datang ke sekolah, kehilangan rasa percaya diri, hingga menarik diri dari lingkungan pergaulan. Sementara itu, pelaku dapat terbiasa bersikap agresif, dijauhi teman, bahkan memperoleh sanksi dari sekolah. Adapun saksi juga dapat mengalami rasa takut dan ketidaknyamanan karena menyaksikan tindakan perundungan.
Mengajak Siswa Berani Peduli
Sebagai langkah pencegahan, pemateri mengajak seluruh siswa untuk menghargai setiap teman tanpa membedakan latar belakang, menghindari perkataan maupun tindakan yang menyakitkan, menumbuhkan empati, berani mengatakan bahwa bullying adalah tindakan yang salah, serta melaporkan setiap kejadian kepada guru.
Dalam sesi tersebut, pemateri juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai penyintas bullying semasa SMP.
“Saya pernah menjadi korban ejekan karena bentuk tubuh dan penampilan. Saat itu rasanya tidak mudah, tetapi pengalaman tersebut justru memotivasi saya untuk terus berkembang dan membuktikan bahwa hinaan orang lain tidak menentukan masa depan kita,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemutaran video edukasi bertema bullying yang disaksikan bersama oleh seluruh peserta sebagai bahan refleksi. Selanjutnya, siswa mengikuti kegiatan butterfly hug yang diiringi musik sebagai simbol penguatan diri dan kepedulian terhadap sesama, sebelum diakhiri dengan sesi foto bersama.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KUKERTA Kelompok 25 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten berharap semakin banyak siswa yang berani menolak segala bentuk bullying, berani melindungi teman, dan bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, serta penuh rasa saling menghormati.
Kontributor: Tania Cahayani dan Hilyatun Nisa
KUKERTA Kelompok 25 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)
Tidak ada komentar