Proses penyaluran air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Tangerang Selatan. Distribusi dilakukan melalui sinergi DCKTR, BPBD, BBWSCC, DLH, dan sejumlah pihak lainnya untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. (Foto: Ist)KOTA TANGSEL | BD – Penanganan dampak kemarau panjang di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dilakukan melalui kolaborasi lintas instansi. Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), hingga sejumlah pihak lainnya terus bersinergi menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kepala DCKTR Tangsel Ade Suprizal mengatakan, distribusi air bersih dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terdampak tetap terpenuhi.
“Hingga 31 Agustus 2026 sudah kita salurkan 727.750 liter air bersih kepada warga yang terdampak di 21 titik di wilayah Tangsel,” ujar Ade, Rabu (2/9/2026).
Menurut Ade, angka tersebut merupakan akumulasi bantuan air bersih yang disalurkan berbagai pihak selama sekitar tiga bulan. DCKTR menjadi salah satu unsur yang terlibat dalam distribusi, bersama BPBD, Sinarmas, BBWSCC, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Kolaborasi tersebut diperlukan lantaran kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah masih berlangsung. Permintaan bantuan dari masyarakat juga terus diterima dan selanjutnya dikoordinasikan melalui wilayah setempat dengan instansi terkait.
Ade menjelaskan, dalam pelaksanaannya satu hingga dua mobil tangki biasanya dikerahkan setiap hari. Masing-masing armada memiliki kapasitas sekitar 4.000 liter dan dapat melayani satu hingga dua lokasi, bergantung pada kebutuhan warga.
“Dalam sehari, biasanya dikerahkan satu hingga dua mobil tangki dengan kapasitas sekitar 4.000 liter setiap armada. Mobil tangki tersebut dapat melayani satu hingga dua lokasi, tergantung kebutuhan warga di masing-masing titik,” jelasnya.
Distribusi air dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan. Air yang dibawa mobil tangki kemudian ditampung ke dalam toren yang telah disiapkan warga.
Namun, proses penyaluran tidak selalu berjalan mudah. Sejumlah toren berada di dalam gang atau berjarak cukup jauh dari lokasi mobil tangki sehingga akses kendaraan menjadi salah satu tantangan di lapangan.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, petugas dapat menggunakan pipa sambungan agar air dari mobil tangki tetap dapat dialirkan menuju toren warga.
“Pipa sambungan menjadi pilihan untuk mengambil air dari mobil tangki ke toren warga,” ucap Ade.
Sinergi lintas instansi dan mitra dalam distribusi air bersih menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar selama kemarau. Sebelumnya, penyaluran bantuan air bersih di Tangsel juga telah melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah hingga mitra eksternal.
Ade menyebut kondisi kekeringan di Tangsel tahun ini masih relatif terkendali. Meski demikian, permintaan bantuan air bersih masih terus masuk dari sejumlah wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan.
Dari 21 titik penerima bantuan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, menjadi salah satu wilayah yang paling banyak membutuhkan pasokan air bersih.
Karena itu, Ade mengimbau masyarakat yang mengalami kesulitan air untuk segera menyampaikan permintaan melalui RT/RW dan kelurahan. Pengajuan tersebut kemudian dapat diteruskan kepada BPBD maupun DCKTR agar kebutuhan air bersih dapat segera dikoordinasikan dan ditindaklanjuti. (Idris Ibrahim)
Tidak ada komentar