Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | BD — Membaca Pengetahuan, Membongkar Pikiran, dan Menemukan Jalan Pulang melalui Nalar Jungkit-Jungkit
Ada masa ketika saya percaya bahwa dunia mempunyai arah yang cukup jelas. Pendidikan adalah jalan menuju pengetahuan, pengetahuan adalah jalan menuju pemahaman, dan pemahaman pada akhirnya akan membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik. Cara berpikir semacam itu terasa masuk akal karena sejak kecil kita dibentuk oleh keyakinan bahwa semakin banyak belajar, membaca, memperoleh gelar, dan menguasai berbagai teori, semakin dekat pula kita kepada kebenaran. Namun, semakin jauh perjalanan kehidupan berlangsung, terutama ketika memasuki dunia setelah dekade 1990-an yang ditandai oleh perubahan politik, perkembangan teknologi informasi, globalisasi, dan ledakan produksi pengetahuan, keyakinan tersebut justru mulai terasa tidak sesederhana yang pernah saya bayangkan.
Dunia memang semakin penuh dengan pengetahuan, tetapi manusia tidak otomatis menjadi semakin memahami kehidupannya. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, tetapi kemampuan untuk memilah mana yang benar, mana yang sekadar diyakini, dan mana yang sengaja dibentuk untuk memengaruhi cara berpikir justru menjadi persoalan yang semakin rumit. Pendidikan semakin mudah diakses, tetapi orang yang berpendidikan belum tentu semakin mengenal dirinya sendiri. Kita bahkan hidup dalam situasi yang agak ganjil: manusia semakin pandai menjelaskan dunia, tetapi sering kali semakin kesulitan menjelaskan mengapa dirinya sendiri berpikir dengan cara tertentu.
Pada titik itulah dunia mulai terasa seperti terbalik.
Sesuatu yang semestinya membantu manusia melihat justru kadang membuat pandangannya semakin sempit. Pengetahuan yang seharusnya membuka kemungkinan dapat berubah menjadi pagar. Teori yang semestinya menjadi alat untuk memahami kenyataan dapat berubah menjadi kacamata yang membuat kita hanya mampu melihat apa yang sesuai dengan teori tersebut. Bahkan pikiran yang pada mulanya kita gunakan untuk membebaskan diri dari kebodohan dapat berubah menjadi penjara ketika kita mulai memperlakukan pikiran sendiri sebagai kebenaran yang tidak perlu lagi diperiksa.
Maka, persoalan yang menarik bagi saya bukan lagi sekadar apa yang kita ketahui, melainkan bagaimana kita mengetahui sesuatu, dari mana pengetahuan itu datang, siapa yang membentuknya, dan apa yang terjadi pada diri kita setelah kita mempercayainya.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang kemudian membawa saya pada gagasan yang saya sebut sebagai Nalar Jungkit-Jungkit.
Ada sebuah ungkapan yang sejak beberapa waktu terakhir terus mengganggu pikiran saya: swaraning sunya kapyarsi, yang kurang lebih dapat dibaca sebagai suara keheningan yang terdengar. Secara logika sederhana, ungkapan tersebut tentu mengandung paradoks, sebab bagaimana mungkin sesuatu yang sunyi justru mempunyai suara? Namun, justru karena paradoks itulah ungkapan tersebut menjadi menarik. Ia seperti memaksa kita untuk keluar sebentar dari kebiasaan berpikir yang terlalu cepat menentukan bahwa sesuatu harus berada pada satu sisi atau sisi lainnya.
Keheningan ternyata tidak selalu berarti tidak adanya suara. Ada suara yang justru baru dapat didengar ketika kebisingan berhenti. Ada kenyataan yang baru dapat dilihat ketika pikiran berhenti memaksakan kesimpulannya sendiri. Ada pengalaman yang selama ini sebenarnya hadir di depan mata, tetapi tidak pernah kita sadari karena kepala kita terlalu sibuk dengan berbagai konsep yang sudah terlebih dahulu kita bawa.
Barangkali persoalan manusia modern memang bukan karena kekurangan pengetahuan, melainkan karena kita menerima terlalu banyak pengetahuan tanpa pernah memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengendapkannya. Kita membaca begitu banyak buku, mendengar begitu banyak pendapat, mengikuti begitu banyak perdebatan, mengonsumsi begitu banyak informasi, tetapi jarang sekali bertanya apa yang sebenarnya dilakukan semua pengetahuan itu terhadap cara kita melihat kehidupan.
Kita merasa sedang menggunakan pengetahuan, padahal mungkin pada saat tertentu justru pengetahuanlah yang sedang menggunakan kita.
Dari sini persoalan pendidikan menjadi menarik untuk dipikirkan kembali. Selama ini pendidikan sering dipahami sebagai proses memasukkan pengetahuan ke dalam kepala manusia. Anak datang ke sekolah karena dianggap belum tahu, kemudian guru memberikan pengetahuan, sekolah menguji pengetahuan tersebut, universitas memperluasnya, dan pada akhirnya seseorang memperoleh gelar sebagai tanda bahwa ia telah menyelesaikan tahapan tertentu dalam proses pendidikan.
Semua itu tentu penting dan tidak perlu disangkal. Namun, apakah seseorang yang telah menyelesaikan seluruh tahapan tersebut otomatis telah menjadi manusia yang terdidik?
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.
Sebab pendidikan dalam pengertian yang lebih mendalam tidak hanya berurusan dengan berapa banyak informasi yang dapat dikuasai seseorang, tetapi juga dengan perubahan yang terjadi pada cara ia memandang dirinya sendiri, orang lain, dan kenyataan yang berada di sekelilingnya. Dalam gagasan Bildung, misalnya, pendidikan mempunyai hubungan dengan proses pembentukan manusia, sedangkan Ausbildung lebih dekat dengan proses pembentukan atau pelatihan untuk kemampuan tertentu. Perbedaan ini penting karena ia mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak selalu identik dengan penambahan pengetahuan.
Manusia bukan semata-mata wadah kosong yang harus terus diisi.
Di dalam dirinya sudah terdapat pengalaman, bahasa, ingatan, kebudayaan, keluarga, lingkungan sosial, agama, ideologi, ketakutan, harapan, dan berbagai perjumpaan yang secara perlahan membentuk cara ia memahami dunia. Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya bertugas menambahkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada, tetapi juga membantu manusia mengenali apa yang selama ini telah berada di dalam dirinya dan bagaimana semua itu memengaruhi cara ia melihat kenyataan.
Dengan kata lain, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang saya pelajari?”, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih mengganggu: “menjadi siapa saya setelah mempelajari semua itu?”
Di sinilah pendidikan mulai berhubungan dengan perjalanan manusia untuk mengenali dirinya.
Dalam tradisi siwa-sisya, hubungan antara guru dan murid juga menarik jika dilihat dari sudut tersebut. Guru tidak semata-mata berada pada posisi sebagai orang yang memiliki pengetahuan, sedangkan murid diposisikan sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan. Di dalam hubungan semacam itu terdapat proses pembentukan, pengujian, penyingkapan, ketekunan, pengalaman, dan perjalanan yang memungkinkan pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi perlahan menjadi bagian dari pembentukan diri.
Di sinilah saya melihat perbedaan antara pengajaran dan pendidikan.
Pengajaran dapat berlangsung ketika informasi dipindahkan dari satu kepala ke kepala yang lain. Pendidikan baru memperoleh makna yang lebih dalam ketika proses tersebut mengubah cara seseorang melihat.
Seorang guru karena itu tidak harus selalu menjadi gudang jawaban. Ada kalanya guru justru lebih berguna ketika ia mampu mengajukan pertanyaan yang membuat murid merasa terganggu oleh ketidaktahuannya sendiri. Sebab manusia tidak selalu tumbuh karena memperoleh jawaban. Kadang manusia justru tumbuh ketika menyadari bahwa pertanyaan yang selama ini dianggap benar ternyata dibangun di atas asumsi yang belum pernah diperiksa.
Di sinilah prinsip pertama Nalar Jungkit-Jungkit mulai bekerja: gagasan boleh diterima, tetapi tidak boleh langsung disembah.
Kita menerima sebuah teori karena ia mungkin berguna, tetapi pada saat yang sama kita tetap menyediakan ruang untuk mengujinya. Kita menerima keyakinan, tetapi tidak menyerahkan seluruh kemampuan berpikir kepada keyakinan tersebut. Kita menghargai pemikiran orang lain tanpa menjadikannya pengganti pengalaman kita sendiri.
Sebab begitu sebuah gagasan berhenti menjadi alat dan mulai diperlakukan sebagai tujuan akhir, pada saat itulah gagasan berpotensi berubah menjadi berhala pikiran.
Persoalan berikutnya muncul ketika pengetahuan mulai diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat dimiliki.
Kita sering mendengar seseorang berkata, “Saya sudah tahu.” Kalimat tersebut terdengar biasa, tetapi sebenarnya menyimpan persoalan epistemologis yang cukup besar. Ketika seseorang merasa sudah tahu, sering kali proses pencarian berhenti. Ia tidak lagi melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang terus dapat diperiksa, melainkan sebagai sesuatu yang sudah menjadi miliknya dan karena itu harus dipertahankan.
Pengetahuan kemudian berubah menjadi identitas.
Orang merasa tinggi karena memiliki banyak buku, banyak gelar, banyak istilah, atau banyak pengalaman akademik. Pada titik tertentu, yang dipertahankan bukan lagi kebenaran dari pengetahuan tersebut, melainkan harga diri sebagai orang yang dianggap mengetahui.
Di sinilah pengetahuan dapat mengalami pembalikan fungsi. Sesuatu yang semestinya membuat manusia rendah hati karena menyadarkan betapa luasnya kenyataan justru dapat membuat manusia merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Karena itu, membaca pengetahuan tidak cukup hanya dengan bertanya, “apa isi pengetahuan ini?”
Pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting adalah: “bagaimana pengetahuan ini menjadi pengetahuan?”
Dari mana sebuah konsep berasal? Dalam situasi sosial seperti apa ia dilahirkan? Persoalan apa yang hendak dijawab oleh konsep tersebut? Siapa yang menggunakan dan menyebarkannya? Apa yang menjadi terlihat setelah konsep itu digunakan, dan apa pula yang justru menjadi tidak terlihat?
Dengan pertanyaan seperti itu, kita tidak lagi memperlakukan pengetahuan sebagai benda mati yang tinggal dipelajari, tetapi mulai melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang mempunyai sejarah, struktur, kepentingan, konteks, dan gerak.
Pengetahuan ternyata tidak pernah benar-benar diam.
Karena itu saya tertarik pada perumpamaan bahwa konsep atau teks dapat menjadi jari yang menunjuk kepada rembulan. Jari memang diperlukan agar kita dapat diarahkan kepada sesuatu yang hendak dilihat, tetapi jari bukanlah rembulan itu sendiri.
Perumpamaan ini sederhana, tetapi mempunyai konsekuensi yang cukup dalam bagi cara kita membaca pengetahuan.
Konsep tentang manusia bukanlah manusia itu sendiri. Konsep tentang Tuhan bukanlah Tuhan. Peta bukanlah wilayah. Kata bukanlah sesuatu yang ditunjuk oleh kata. Dan teori, betapapun canggihnya, tetap bukan kenyataan yang hendak dijelaskannya.
Masalah muncul ketika manusia lupa pada perbedaan tersebut.
Kita terlalu lama hidup bersama konsep sampai akhirnya mengira konsep adalah kenyataan. Kita menghafal definisi sampai merasa telah memahami sesuatu. Kita membaca teori tentang pengalaman sampai lupa bahwa membaca teori tentang pengalaman tidak sama dengan mengalami pengalaman itu sendiri.
Karena itu, karya seperti Sutasoma menurut saya dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar sebagai teks sastra yang selesai pada dirinya sendiri. Ia dapat menjadi pintu untuk melihat bagaimana manusia pada suatu zaman memahami kehidupan, moralitas, kekuasaan, agama, hubungan antarmanusia, dan persoalan keberadaan.
Hal yang sama dapat dilakukan terhadap Serat Centhini, Serat Cebolek, kisah Kiai Mutamakin, maupun karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Teks-teks tersebut dapat diperlakukan sebagai semacam arsip kesadaran, karena melalui teks kita dapat melihat bagaimana manusia dari zaman yang berbeda memahami dirinya dan dunianya.
Membaca karya-karya itu berarti membaca masa lalu, tetapi bukan berarti melarikan diri dari masa kini.
Justru sebaliknya, masa lalu dapat menjadi cermin untuk memahami mengapa masa kini menjadi seperti sekarang.
Saya kira kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada romantisme masa lalu. Membaca sejarah bukan berarti menganggap semua yang berasal dari masa lalu pasti benar, sedangkan segala sesuatu yang lahir pada masa kini pasti salah. Cara berpikir semacam itu hanya akan menghasilkan pembalikan dogma: kita meninggalkan satu keyakinan lama lalu menggantinya dengan keyakinan baru yang arahnya berlawanan.
Yang lebih penting bukan membalik dunia, melainkan memahami gerakan yang membuat dunia menjadi terbalik.
Mengapa sebuah konsep yang dahulu mempunyai makna tertentu kemudian memperoleh makna yang berbeda? Mengapa sebuah istilah yang lahir dalam satu kebudayaan dapat mengalami perubahan ketika berpindah ke kebudayaan lain? Mengapa sesuatu yang pada suatu zaman dianggap wajar kemudian pada zaman lain dianggap bermasalah?
Pertanyaan semacam itu membuat kita tidak tergesa-gesa memberikan penilaian.
Misalnya ketika membicarakan dharma, kita tidak cukup hanya mencari satu definisi lalu menganggap persoalan selesai. Dalam konteks Sutasoma, istilah tersebut mempunyai latar moral, etis, filosofis, dan kebudayaan yang perlu dilihat dalam konteks sejarahnya. Ketika berbagai gagasan tersebut bergerak dan kemudian berjumpa dengan tradisi monoteisme dan Islam, terjadilah perjumpaan pemikiran yang tentu tidak sederhana.
Demikian pula ketika kita membaca Centhini atau Tambangraras, kita berhadapan dengan dunia pemikiran yang mempunyai lapisan sangat beragam, termasuk persoalan hubungan manusia dengan Yang Ilahi, kawula-Gusti, tasawuf, dan berbagai gagasan tentang keberadaan.
Karena itu, tugas pembaca menurut saya bukan memaksa teks agar sesuai dengan pengertian yang sudah kita miliki, melainkan memberi kesempatan kepada teks untuk memperlihatkan bagaimana sebuah pengertian tumbuh, berubah, berjumpa, bertentangan, dan memperoleh makna baru.
Jangan terlalu cepat membekukan pengertian. Ikuti geraknya.
Pada tahap tertentu, membaca menjadi kegiatan yang jauh lebih serius daripada sekadar memahami isi buku. Membaca dapat menjadi pengalaman yang mengganggu karena teks tertentu justru memaksa kita mempertanyakan sesuatu yang selama ini kita anggap sudah selesai.
Buku yang baik tidak selalu membuat kita berkata, “Saya setuju.”
Kadang buku yang baik justru membuat kita terdiam cukup lama dan bertanya, “Jangan-jangan selama ini saya yang keliru?”
Di situlah teks mulai bekerja sebagai pengalaman intelektual.
Kita tidak lagi membaca untuk mencari pembenaran atas pendapat sendiri, tetapi memberikan kesempatan kepada teks untuk mengganggu kenyamanan pikiran kita. Teks tidak lagi hanya menjadi objek yang kita baca, tetapi menjadi sesuatu yang ikut membaca kita.
Sebab sebenarnya siapa yang sedang membaca?
Saya merasa sedang membaca sebuah teks, tetapi bukankah saya sendiri dibentuk oleh teks-teks yang pernah saya baca sejak kecil? Saya dibentuk oleh keluarga, sekolah, kampus, agama, media, lingkungan sosial, ideologi, bahasa, pengalaman, dan berbagai perjumpaan yang membentuk cara saya melihat dunia.
Dengan demikian, saya bukan sepenuhnya subjek yang berdiri bebas di luar teks.
Saya juga merupakan hasil dari berbagai teks yang pernah membentuk saya.
Maka pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: benarkah ini sepenuhnya pendapat saya?
Siapa yang sebenarnya sedang berbicara melalui diri saya?
Di sinilah persoalan avidya dan vidya menjadi menarik untuk dibaca kembali. Avidya sering dipahami sebagai ketidaktahuan, sedangkan vidya berhubungan dengan pengetahuan atau penglihatan yang membuka. Tetapi saya kira kita perlu berhati-hati jika menyamakan avidya hanya dengan “tidak memiliki pengetahuan” dan vidya dengan “memiliki banyak pengetahuan”.
Sebab seseorang dapat mengetahui begitu banyak hal sekaligus tetap tidak melihat.
Ia dapat menguasai teori, memahami banyak buku, memperoleh berbagai gelar, bahkan mampu menjelaskan filsafat dan agama dengan sangat baik, tetapi tetap tidak mampu melihat bagaimana pengetahuan tersebut telah membentuk kesombongan, prasangka, atau keterikatannya sendiri.
Karena itu, kebutaan yang paling berbahaya bukan ketika seseorang tidak memiliki pengetahuan.
Kebutaan yang lebih berbahaya adalah ketika pengetahuan membuat seseorang merasa tidak perlu melihat lagi.
Kita memiliki peta, tetapi lupa bahwa peta bukan wilayah. Kita mempunyai konsep, tetapi lupa bahwa konsep bukan kenyataan. Kita memiliki kata, tetapi lupa kepada sesuatu yang ditunjuk oleh kata tersebut.
Pada titik inilah pengetahuan dapat berubah menjadi selubung.
Dari sinilah saya memahami Nalar Jungkit-Jungkit sebagai sebuah cara untuk menjaga pikiran agar tidak terlalu cepat menetap pada satu posisi.
Ketika sebuah gagasan datang, saya tidak harus langsung menerimanya sebagai kebenaran. Namun saya juga tidak perlu menolaknya hanya karena gagasan tersebut berbeda dengan apa yang selama ini saya yakini. Saya terima terlebih dahulu, saya pahami, kemudian saya periksa asumsi yang menopangnya, saya bawa kepada pengalaman, lalu saya lihat kembali apakah gagasan tersebut masih mampu menjelaskan kenyataan.
Kalau tidak, ia harus dikoreksi.
Kalau masih berguna, ia tetap digunakan, tetapi tidak perlu disembah.
Di sinilah keraguan memperoleh tempatnya. Meragukan keyakinan bukan berarti menjadikan keraguan sebagai tujuan. Keraguan hanyalah alat untuk memastikan bahwa keyakinan tidak berubah menjadi dogma.
Begitu pula kontradiksi. Saya tidak melihat kontradiksi semata-mata sebagai kesalahan yang harus segera dihapus. Dalam banyak keadaan, kontradiksi justru menjadi tenaga yang membuat pikiran bergerak. Ketika dua kenyataan tampak bertentangan, kita dipaksa untuk mencari struktur yang membuat keduanya bisa muncul sekaligus.
Maka berpikir bukan sekadar bergerak dari pertanyaan menuju jawaban, melainkan juga berani kembali mempertanyakan jawaban yang baru saja kita peroleh.
Pikiran bergerak menuju realitas, kemudian realitas dikembalikan kepada pikiran untuk mengoreksi pikiran itu sendiri.
Inilah mengapa saya menyebutnya jungkit-jungkit.
Bukan karena pikiran tidak mempunyai arah, melainkan karena arah itu harus terus diuji.
Pada titik tertentu, kritik terhadap dunia harus berbalik menjadi kritik terhadap diri sendiri.
Semula kita mengkritik sistem, kemudian mengkritik teori, mengkritik ideologi, mengkritik agama, mengkritik kebudayaan, mengkritik kekuasaan, bahkan mengkritik cara orang lain berpikir. Semua itu mungkin penting, tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih sulit: siapa yang sedang melakukan kritik tersebut?
Jangan-jangan kita membongkar dogma orang lain sambil membangun dogma baru di dalam diri sendiri.
Jangan-jangan kita mengkritik fanatisme sambil menjadi fanatik terhadap pemikiran sendiri.
Jangan-jangan kita merasa telah bebas dari ideologi tertentu hanya karena kita telah berpindah kepada ideologi yang lain.
Karena itu, bagi saya, musuh pertama manusia bukan selalu orang lain. Musuh pertama itu bisa berupa asumsi yang belum pernah diperiksa tetapi telah kita perlakukan sebagai kenyataan.
Kita mudah melihat kesalahan orang lain karena kesalahan itu berada di luar diri. Yang jauh lebih sulit adalah melihat bagaimana cara berpikir kita sendiri telah dibentuk oleh sesuatu yang bahkan tidak kita sadari.
Maka pembongkaran harus terus bergerak sampai menyentuh orang yang sedang melakukan pembongkaran itu sendiri.
Di sinilah filsafat dan perjalanan batin mulai menemukan titik perjumpaannya.
Filsafat bertanya apakah apa yang kita pikirkan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Perjalanan batin membawa pertanyaan itu lebih jauh: mengapa kita begitu melekat kepada apa yang kita pikirkan?
Filsafat dapat membongkar konsep.
Perjalanan batin dapat membongkar keterikatan terhadap konsep.
Karena itu, menurut saya, mengosongkan pikiran dari berhala pikiran mempunyai kedekatan tertentu dengan usaha mengosongkan kolbu dari berbagai keterikatan duniawi. Yang perlu dibongkar bukan pengetahuan itu sendiri, melainkan keterikatan kita terhadap pengetahuan; bukan konsepnya yang harus dimusuhi, tetapi kecenderungan kita menjadikan konsep sebagai kenyataan terakhir.
Di titik ini saya melihat kemungkinan pertemuan antara berpikir dan berdzikir.
Berpikir membantu kita membongkar berhala pikiran.
Berdzikir membantu kita tidak menjadikan pikiran yang telah dibongkar itu sebagai berhala baru.
Dengan demikian, perjalanan intelektual tidak harus berakhir pada kesombongan karena merasa paling tahu. Sebaliknya, semakin jauh seseorang berjalan dalam pengetahuan, semakin besar pula kesadarannya bahwa pengetahuan manusia selalu mempunyai batas.
Tradisi Zen dengan koan-nya memberi gambaran menarik mengenai keterbatasan berpikir linear. Ada persoalan tertentu yang tidak dimaksudkan untuk diselesaikan hanya dengan menambahkan informasi, karena persoalan sebenarnya terletak pada pola berpikir yang digunakan untuk memahami persoalan tersebut.
Hal semacam ini sebenarnya juga sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Kita menghadapi masalah, kemudian menambah informasi, mencari teori baru, membaca lebih banyak buku, bertanya kepada lebih banyak orang, tetapi persoalan tidak kunjung selesai karena kita masih melihat persoalan itu melalui kerangka yang sama.
Pada keadaan seperti itu, mungkin yang dibutuhkan bukan jawaban tambahan.
Yang dibutuhkan adalah perubahan cara melihat.
Sebab menambahkan seribu informasi ke dalam kerangka berpikir yang keliru tidak otomatis menghasilkan kebenaran.
Kadang manusia tidak membutuhkan jawaban baru, tetapi membutuhkan keberanian untuk mempertanyakan cara ia menyusun pertanyaannya.
Karena itu saya tidak ingin mengatakan bahwa dunia yang terbalik harus sekadar dibalikkan kembali. Membalikkan sesuatu tidak otomatis menyelesaikan persoalan, karena posisi yang berlawanan belum tentu menghasilkan pemahaman yang lebih baik.
Yang perlu dilakukan adalah memahami gerak yang membuat dunia menjadi terbalik.
Kita perlu bergerak melingkar, kembali kepada teks yang sama dengan pengalaman yang berbeda, kembali kepada pertanyaan yang sama dengan kesadaran yang berbeda, dan kembali kepada diri sendiri setelah melalui berbagai pengalaman yang telah mengguncang keyakinan-keyakinan lama.
Kita mungkin membaca buku yang sama sepuluh tahun kemudian, tetapi buku itu tidak lagi berbicara dengan cara yang sama karena kita bukan lagi pembaca yang sama.
Kita mungkin kembali kepada pengalaman masa lalu, tetapi pengalaman itu tampak berbeda karena kesadaran kita telah berubah.
Dan kita mungkin kembali kepada diri sendiri, tetapi kemudian menyadari bahwa diri yang selama ini kita anggap sebagai sesuatu yang tetap ternyata terus dibentuk oleh perjalanan.
Mungkin itulah yang saya maksud dengan jalan kembali kepada diri.
Bukan kembali menjadi diri yang dahulu, melainkan kembali kepada diri dengan kesadaran baru tentang bagaimana diri itu dibentuk.
Pada akhirnya, pendidikan, sastra, filsafat, dan perjalanan batin mungkin tidak benar-benar berdiri sendiri-sendiri. Semuanya dapat bertemu dalam satu pekerjaan yang sederhana tetapi tidak mudah, yaitu membuat manusia mampu melihat kembali.
Pendidikan membantu manusia membaca dunia sekaligus membaca bagaimana dirinya dibentuk oleh dunia.
Sastra menyimpan pengalaman manusia dalam bentuk cerita, simbol, konflik, dan bahasa sehingga generasi berikutnya dapat bercermin kepada pengalaman yang telah berlalu.
Filsafat mengajarkan keberanian untuk tidak menerima begitu saja sesuatu yang dianggap sudah jelas, termasuk keberanian untuk mempertanyakan pertanyaan yang kita ajukan sendiri.
Sementara perjalanan batin mengajak manusia melihat bahwa setelah dunia dikritik, teori dibongkar, ideologi dipertanyakan, dan berbagai keyakinan diperiksa, masih ada satu wilayah yang belum selesai diperiksa: diri sendiri.
Mungkin karena itu pendidikan yang paling penting bukanlah pendidikan yang membuat manusia mampu menjawab semua pertanyaan.
Pendidikan yang lebih dalam adalah pendidikan yang membuat manusia tahu pertanyaan mana yang perlu dipertanyakan kembali.
Pada akhirnya saya kembali kepada swaraning sunya kapyarsi, suara keheningan yang terdengar.
Mungkin keheningan itu sebenarnya tidak pernah benar-benar diam. Mungkin yang terlalu bising justru diri kita sendiri karena sepanjang hidup kita sibuk mengumpulkan teori, mempertahankan identitas, membela keyakinan, mengejar pengakuan, mengutip tokoh, memenangkan perdebatan, dan membuktikan bahwa orang lain keliru.
Kita begitu sibuk berbicara tentang kehidupan sampai lupa mendengarkan kehidupan itu sendiri.
Kita begitu sibuk menjelaskan Tuhan sampai lupa memeriksa keadaan batin ketika menyebut nama-Nya.
Kita begitu sibuk membicarakan kebenaran sampai lupa bertanya apakah cara kita mencari kebenaran sudah benar.
Dan kita begitu sibuk membongkar dunia sampai lupa bahwa orang yang sedang membongkar dunia itu pun harus dibongkar.
Di sinilah Nalar Jungkit-Jungkit bagi saya menemukan maknanya yang paling sederhana sekaligus paling sulit: pikiran harus mampu mengoreksi dirinya sendiri.
Kita menerima gagasan, tetapi tidak menyembahnya. Kita meragukan keyakinan, tetapi tidak menyembah keraguan. Kita membongkar teori, tetapi kemudian mengujinya melalui pengalaman. Kita bergerak dari pikiran menuju kenyataan, lalu kembali kepada pikiran untuk memperbaikinya. Kita memeriksa pertanyaan sebelum tergesa-gesa mencari jawaban. Kita menggunakan kontradiksi bukan semata-mata sebagai kesalahan, tetapi sebagai tenaga untuk membuat pikiran bergerak. Dan pada akhirnya, seluruh gerak itu harus membawa manusia keluar dari keterjajahan oleh pikirannya sendiri.
Sebab mungkin keterjajahan yang paling halus bukan ketika seseorang dipaksa oleh orang lain untuk berpikir tertentu, melainkan ketika ia sudah begitu percaya kepada pikirannya sendiri sehingga tidak lagi menyadari bahwa ia sedang diperbudak oleh pikirannya.
Maka jalan pulang bukanlah jalan menuju tempat yang pernah kita tinggalkan.
Jalan pulang adalah perjalanan untuk kembali melihat diri setelah berbagai lapisan pengetahuan, teori, ideologi, identitas, keyakinan, dan pengalaman kita periksa satu demi satu.
Pada akhirnya kita mungkin menemukan bahwa yang selama ini kita cari di luar ternyata membutuhkan keberanian untuk dilihat ke dalam.
Dan ketika semua kebisingan itu perlahan berkurang, mungkin kita mulai mendengar sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar hilang.
Bukan karena dunia akhirnya berhenti berbicara, melainkan karena kita akhirnya berhenti terlalu sibuk berbicara untuk mulai benar-benar mendengar.
Penulis: Mohamad Romli, Redaktur BantenDaily dan Mahasiswa Magister Komunikasi, Budi Luhur University. (*)
Tidak ada komentar