Kelola Sampah Berbasis Komunitas, Warga Bukit Nusa Indah Ciputat Buat Komposter Mandiri

waktu baca 3 menit
Selasa, 6 Jan 2026 14:36 92 Nazwa

TANGERANG | BD – Warga Bukit Nusa Indah di Ciputat layak mendapat penghargaan atas inovasi dan perhatian mereka terhadap lingkungan. Di sela-sela rutinitas harian, mereka secara independen mengubah drum penyimpan air menjadi alat pengomposan yang efektif untuk mendaur ulang sampah organik.

Langkah ini merupakan bagian dari usaha kolektif masyarakat untuk menciptakan area hunian yang lebih bersih dan sehat melalui penanganan limbah yang didasarkan pada partisipasi warga.

Alat pengomposan ini dibuat untuk menampung dan memproses sampah organik seperti sisa makanan, dedaunan, dan limbah dapur lainnya.

Selain itu, penduduk juga menerapkan berbagai pendekatan ramah lingkungan untuk mengelola sampah, termasuk membuat lubang biopori dan merencanakan pembentukan bank sampah untuk menangani limbah non-organik.

Penanganan sampah mandiri ini melibatkan tiga RW dengan 26 RT secara keseluruhan. Yang menarik, pembuatan alat pengomposan dilakukan melalui kerja sama sukarela oleh warga, termasuk para pria yang sebagian besar berusia di atas 50 tahun. Meskipun usia mereka tidak lagi muda, kemampuan dan antusiasme mereka dalam menghasilkan solusi ekologis tetap luar biasa.

Salah satu tokoh utama kegiatan ini, Hohan Barazing (60), menyatakan bahwa ide ini muncul dari kesadaran bersama masyarakat tentang pentingnya menangani sampah sejak awal.

“Kami membangun ini untuk menyelesaikan masalah limbah di tiga RW. Ini juga sebagai kontribusi untuk membantu pemerintah dalam pengelolaan sampah,” kata Hohan saat diwawancarai di lokasi pada Selasa (06/01/2026).

Penanganan limbah ini dilakukan secara swadaya atau dengan dana dari masyarakat setempat. Menggunakan peralatan sederhana, warga bekerja sama memotong dan merakit drum menjadi alat pengomposan yang siap pakai.

Nantinya, hasil dari proses penguraian sampah organik akan digunakan kembali sebagai kompos dan pupuk cair yang kaya nutrisi untuk memperkaya tanah di sekitar lingkungan.

Hohan menambahkan, penanganan sampah mandiri ini bertujuan membangun kebiasaan sadar kebersihan di masyarakat, sehingga tidak sepenuhnya mengandalkan pihak luar.

“Ini konsep dari warga untuk warga. Jadi, harus bisa berdiri sendiri, nanti kami akan sosialisasi dan buat aturan bersama dengan pak RT dan pak RW,” ujarnya.

Pada awalnya, warga menyasar pembuatan 40 unit alat pengomposan untuk memenuhi kebutuhan tiga RW. Setiap unit dibuat dengan biaya sekitar Rp450 ribu, yang sepenuhnya dari sumbangan masyarakat.

Selain bermanfaat untuk kebersihan lingkungan, program ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman bahwa limbah memiliki nilai praktis dan ekonomi jika dikelola dengan baik.

“Jadi, masyarakat juga harus paham bahwa sampah dan limbah ini punya nilai ekonomi dan bisa membuat lingkungan sehat. Untuk alat pengomposan sendiri nanti bisa jadi pupuk cair dan kompos,” jelasnya.

Inisiatif masyarakat Bukit Nusa Indah ini menunjukkan bahwa penanganan sampah berbasis komunitas bisa berjalan lancar berkat semangat kebersamaan dan kepedulian bersama. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA