Opini

Konsep Keberhasilan Kurikulum Pendidikan Nabi Ibrahim Sebagai Sosok Ayah dan Pemimpin di Keluarga

×

Konsep Keberhasilan Kurikulum Pendidikan Nabi Ibrahim Sebagai Sosok Ayah dan Pemimpin di Keluarga

Sebarkan artikel ini
Dr. Zulkifli, MA (Foto : Dok. pribadi untuk BantenDaily)

OPINI | BD — Proses keberhasilan dalam mendidik, mengajarkan dan pola pembiasaan akan terlihat dan terpotret manakala anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, apa yang didapat, dilihat itulah yang dijalankan dan dilakukan.

Para ahli psikologi sepakat bahwa anak adalah duplikat dari kedua orangtuanya. Proses pendidikan di keluarga tak lepas dari guru yang utama yaitu kedua orang tua, maka potret dari kepribadian dan proses pendidikan Nabi Ibrahim di keluarga tak lekang dengan zaman.

Sosok seorang ayah dan suami serta pemimpin yang menjadi teladan bagi keluarganya dan tentunya bisa kita jadikan sebagai pembelajaran dalam berumah tangga. Sebagai sosok ayah yang mendekatkan keluarganya kepada ketaatan, mengajarkan keikhlasan dan mengimplementasikan nilai – nilai kesabaran dalam hidup serta kehidupan.

Terkadang dalam berumah tangga banyak sekali ujian dan tempaan, baik kepada suami atau istri, entah itu masalah perekonomian, anak, lingkungan tempat tinggal bahkan yang lainnya. Maka sebaik – baik tempat bercerita atau mengeluh adalah dengan Allah SWT, bukan dengan manusia apalagi sosial media kekinian.

Nabi Ibrahim Alaihissalam memiliki resep yang ampuh dalam mendidik, mengajarkan dan pola pembinaan terhadap keluarganya, di antaranya :

1. Selalu berdoa dan mendoakan keluarga

Dari proses setelah nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah harus meninggalkan keluarganya pergi ke Palestina sedang keluarganya di Mekah. Kondisi ini tidak mengurungkan niatnya sebagai sosok ayah dan suami dalam hal mendidik dan melihat lingkungan di Mekah. Tidak ada kata jauh namun nabi Ibrahim mampu menjadikan anaknya Ismail menjadi nabi yang hebat.

Pelajaran yang bisa kita ambil disini adalah ayah bukan sekedar tugasnya mencari nafkah saja tetapi dia harus mampu menjadi teladan bagi keluarganya. Dalam kondisi nabi Ibrahim harus meninggalkan anaknya dan istrinya di sebuah tempat yang tandus dan tidak berpenghuni maka dia mengeluh dan bercerita kepada yang maha rahman dan rahim Allah SWT,
dalam Qur’an Surat 14 ayat 37 yang artinya “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di Mekah, lembah yang tak berpenghuni dan tidak mempunyai tanam – tanaman di lokasi yang dekat dengan rumahmu Baitullah yang dihormati. Ya Tuhan, aku tempatkan mereka di sana agar mereka melaksanakan solat, maka aku mohon Ya Allah jadikanlah hati sebagian manusia cendrung kepada mereka, dan berilah rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan dengan anugerah-Mu itu mereka selalu bersyukur kepada-Mu.

Dari doa atau pemintaan nabi Ibrahim kepada Allah yang sangat detail bisa diambil kesimpulannya,

A. Nabi Ibrahim berdoa agar anaknya dan keturunannya pandai menjaga salatnya. Hal ini mengenai masalah ibadah atau sering disebut Hablumminallah.

B. Nabi Ibrahim mendoakan keluarga dan keturunannya agar selalu dicintai oleh masyarakat dalam hal ini adalah muamalah atau Hablumminnas.

C. Nabi Ibrahim berdoa agar diberi rezeki berupa buah buahan.

2. Berdiskusi dan Musyawarah dengan Keluarga.

Proses berdiskusi atau meminta pendapat nabi Ibrahim sebagai sosok ayah terlihat manakala ketika bermimpi diperintahkan menyembelih putranya nabi Ismail. Hal yang dilakukan oleh seorang ayah tidak boleh diktator apalagi otoriter. Disinilah Al-Qur’an menggambarkan pola asuh nabi Ibrahim yang mampu merangkul, mengajak dan berargumen serta berdiskusi. Surat 37 ayat 102 yang artinya “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, nabi Ibrahim berkata: Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu. Ia menjawab Wahai Ayahku kerjakanlah, Apa yang diperintahkan Allah, Insyaallah Ayah akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar.

Dari ayat tersebut di atas, orang tua tidak boleh kaku dan keras kepada anak, ajaklah berdiskusi dan mintalah pendapatnya jadikanlah sahabat atau kawan ketika ia tumbuh remaja dan dewasa. Maka patut kita ambil hikmah dari proses pendidikan dan kepemimpinan nabi Ibrahim Alaihissalam, semoga kita mampu menjalankan sosok ayah dan anak di dalam hidup ini, takwa, ikhlas dan sabar, wallahu a’lam bishawwab.

Penulis : Dr. Zulkifli, MA, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang dan UIN Jakarta. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *